“BERBUAT KEBAIKAN”

<Kamis, 24 November 2016 OOR 09:29>

Dua orang pemuda berteman sejak kecil, namun memiliki karakter kepribadian yang bertolak belakang. 

Opekiu berasal dari keluarga sederhana namun memiliki hati yang pemurah dan gemar menolong orang lain. Sebaliknya Uvewe berasal dari keluarga kaya raya namun mempunyai sifat yang pelit, sombong dan suka mencampuri urusan orang lain. Bukan itu saja, Uvewe seringkali mencibir ulah temannya saat Opekiu berniat memberikan bantuan kepada orang lain.

Uvewe : “”Ngapain sih kamu menyusahkan diri untuk menolong orang lain? Memangnya apa yang kamu dapatkan dari mereka? Tidak ada bukan? Kalau saya sih, tidak bakalan akan mau mengeluarkan duit sembarangan untuk mereka yang tidak saya kenal. Bagusan uangnya saya belikan baju baru…”

Opekiu : “Jangan ngomong seperti begitu dong, bro…. Saya merasa amat kasihan melihat hidup mereka yang kesusahan…”

Uvewe : “Kamu mau menolong mereka, pasti ada maunya kan..? Biar kamu dianggap orang baik. Baru menyumbang segitu aja sudah sok-sokan dan belagu banget…”

Opekiu : “Saya ikhlas kok membantu mereka. Tidak pernah mengharapkan pamrih atau imbalan dari perbuatanku…”

Uvewe masih terus mengeluarkan kalimat-kalimat negatif bernada menghina : “Udah deh… Kamu tidak usah sok kaya pakai acara menyumbang segala. Hidup kamu belum kaya, lebih baik uangmu kamu tabung untuk keperluanmu menikah nanti. Harusnya kamu yang perlu disumbang, bukan mereka…”

Opekiu masih berusaha untuk bersabar menghadapi temannya yang ngeyel : “Saya hanya memberikan sebagian dari penghasilanku. Apa kamu tidak kasihan melihat kehidupan mereka yang serba kekurangan…?”

Uvewe : “Itu bukan urusan kita, bro… Kesulitan mereka bukan menjadi beban kita. Gak usah ditolongin, nanti juga ada yang membantu mereka. Mendingan kita menolong diri sendiri terlebih dahulu…”

Opekiu hanya dapat mengelus dada melihat perangai teman sekampungnya. Namun, perlakuan buruk dari Uvewe tidak akan pernah menyurutkan langkahnya untuk berbagi kepada sesama. 

Sobatku yang budiman…

Pernahkah kita melecehkan atau meremehkan perbuatan baik seseorang? Atau menjadikannya sebagai lelucon yang bertujuan untuk merendahkan niat baik mereka? Mungkin lebih parahnya, kita pernah menjadi batu penghalang bagi mereka yang ingin berbuat baik…

Jelas, apa yang kita lakukan dalam menghalangi orang lain berbuat baik, jauh lebih buruk dan tercela daripada sekadar diam dan tidak berbuat apa-apa. Sudah tidak berniat untuk berbuat baik, malah menghina dan mencibir. Bukannya memotivasi orang lain untuk menolong orang lain, justru menjadi penghalang. 

Mungkin kita tidak memiliki kelebihan materi, tenaga yang kurang dan waktu yang terbatas untuk berbuat kebaikan. Namun dengan memiliki sekeping hati, ikut merasakan kebahagiaan di saat orang lain berbuat baik, bukan menjadi penghambat, maka inipun juga merupakan perbuatan baik.

Sungguh menyedihkan jika hati kita tidak memiliki kerinduan dan keinginan untuk berbuat kebaikan. Keberadaan kita di dunia ini menjadi sia-sia, percuma dan hampa belaka.

Semoga benih-benih kebaikan selalu tumbuh di hati kita semua. Melakukan kebaikan dengan ikhlas, tulus dan tanpa pamrih menjadi santapan kita sehari-hari.

Jika kita berbuat baik untuk mengharapkan pamrih dan imbalan, sesungguhnya perbuatan kita merupakan kemunafikan dan keserakahan berbulu kebajikan.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan  Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KISAH INSPIRATIF, KISAH OPEKIU DAN UVEWE. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s