“MOTIVASI DAN PROVOKASI”

<Minggu, 20 November 2016 OOR 08:29>

Dalam kehidupan sehari-hari penggunaan istilah motvasi dan provokasi seringkali masih bias. Sulit rasanya kita mengatakan bahwa apakah seseorang itu sebagai motivator saat dia tengah berteriak dan berkoar-koar di tengah-tengah jalan raya. Kita juga ragu untuk menyatakan bahwa seseorang itu sebagai provokator hanya karena ucapannya yang penuh semangat dan berapi-api di belakang mimbar podium. Dalam kehidupan nyata, kedua istilah ini ternyata memang berbeda tipis.

Hanya ada satu tolak ukur untuk menyatakan seseorang itu sebagai motivator atau provokator yaitu dampak yang ditimbulkan dari ucapannya. 

Secara umum, sebuah motivasi akan berdampak baik, memberi contoh positif, membangun dan memberi harapan baru kepada para pendengarnya. Sedangkan sebuah provokasi akan menciptakan sesuatu yang buruk, fitnah, permusuhan, kehancuran dan kerusakan.

Memotivasi itu lebih sulit daripada memprovokasi. Mengajak untuk berbuat kebaikan itu sulit, bagaikan memotong daging dengan pisau tumpul. Mengajak untuk berbuat kejahatan itu mudah, bagaikan membalikkan telapak tangan.

Motivator itu harus orang baik, mampu berkata-kata santun dan berisi petuah hidup, walaupun kadang banyak yang tidak baik, bersikap munafik dan jumlah motivator itu sedikit sekali. 

Provokator itu siapapun dapat melakoninya, termasuk orang yang tidak berpendidikan, asalkan mempunyai berita yang bombastis, lalu “like and share”, dan jumlah provokator itu sungguh banyak sekali.

Tidak mudah untuk memotivasi orang lain agar sukses, itu membutuhkan keahlian dan kemampuan merangkai kata-kata penyemangat. Sangatlah mudah untuk memprovokasi orang lain agar merusak, nyaris tidak membutuhkan keahlian ataupun kehebatan menyusun kata-kata. Sekali lagi cukup “like and share”.

Mengajak agar orang mau berbuat baik, membutuhkan kemampuan khusus dan kesabaran. Untuk masalah kejahatan, kadang tidak diajak pun, banyak orang sudah pada mengantri.

Bila manusia diajak untuk menuju kebaikan, mereka sering menolak dengan seribu satu macam alasan yang keluar dari mulutnya. Bila manusia dirayu ke jalan maksiat dan bergelimpangan dosa, mereka sangat kompak, belum diajak pun, sudah pada mendaftar duluan. Makin cepat makin bagus.

Atau barangkali fenomena ini menunjukkan manusia sudah semakin jauh dari Tuhan dan mulai tergoda oleh rayuan setan. Mungkin saja, para setan begitu bersemangat mempromosikan neraka secara besar-besaran dengan memamerkan isinya yang sudah dimanipulasi sehingga terlihat lebih mewah dan lebih enak dari surga.

Barangkali juga otak manusia semakin lama semakin pendek sehingga tidak mampu berpikir panjang, tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik bagi kehidupannya. Yang jelas, manusia sekarang, tidak mau bersusah-susah, maunya serba instan, serba cepat dan mau yang enak-enak saja.

Menurutnya, kesenangan dan kenikmatan itu urusan sekarang, sedangkan masalah dengan Tuhan, surga dan neraka itu urusan nanti. 

Sobatku yang budiman…

Tidak heran, bila perbandingan jumlah orang jahat dan orang baik, seratus banding satu. Banyak sekali orang tidak baik, munafik tapi dengan berselimutkan pakaian dan keyakinan, mereka mampu berlakon seolah-olah adalah orang baik, bagaikan manusia titisan Tuhan. 

Masuk akal, bila perbandingan jumlah penghuni neraka dan surga itu seratus banding satu, di akhirat nanti lebih banyak penghuni neraka daripada surga.

Siapapun dapat menjadi seorang motivator maupun provokator. Banyak jalan menuju ke arah sana. Tentunya lebih sulit, jalan menjadi seorang motivator, karena harus menyelaraskan antara yang diucapkan dengan yang dilakukan sehari-hari. Jangan sampai orang menilai dirinya sebagai seorang munafik. Mengajak orang lain untuk memupuk cinta kasih, namun kesehariannya memiliki suami atau lebih dari satu. Mengajak orang untuk berbuat kebaikan, namun dalam kesehariannya senang menghasut dan rajin mengeluarkan kata-kata kotor.

Mana yang akan kita pilih? Tentunya menjadi seorang motivator bukan? Oleh karena itu, mari jadikan diri kita menjadi motivator yang baik, paling tidak untuk diri sendiri. Jika tidak bisa menjadi motivator, setidaknya kita harus menjadi seorang bijak yang dapat membedakan mana yang motivasi dan mana yang provokasi. Semoga kita diberi kemudahan dan senantiasa dituntun ke jalan yang benar.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan  Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s