“JANGAN KEPO”

<Jumat, 18 November 2016 OOR 15:57>

Saat merayakan ulang tahun, Dora mendapat banyak hadiah dari teman-teman, rekan-rekan, saudara dan sahabatnya. 

Seorang teman Dora bertanya : “Mbak, jadi pengen tahu nih… Mengapa suamimu tidak hadir dalam acara yang begitu penting? Hadiah apa yang telah dipersiapkan dirinya untuk kamu?”

Dora terdiam sejenak, lalu menggeleng dengan lemah.

Teman yang lain menimpali : “Masak sich tidak datang dan tidak ada hadiah apapun? Jangan-jangan suamimu lagi bersama wanita lain…”

Tiga hari kemudian, setelah sang suami pulang ke rumah setelah berdinas di luar kota, Dora langsung menunjukkan wajah cemberut dan tidak senang. Akhirnya kedua pasangan yang sudah menikah lima tahun itu terlibat pertengkaran hebat yang berujung kepada perceraian.

Sementara itu, seorang ibu muda bernama Jeng Sri mendapat kunjungan dari teman lamanya dari kampung. 

Saat berada di dalam rumah, temannya Jeng Sri bertanya : “Wah, dulu kamu tinggal di rumah orang tuamu yang besar dan mewah. Sekarang kelihatannya kamu turun pangkat menempati rumah yang begitu kecil. Apa tidak terlalu sempit untuk tempat tinggal keluargamu?”

Jeng Sri cuma bisa tersenyum kecut mendapat cibiran dari teman sekampungnya.

Sepeninggal temannya, rumah yang tadinya terasa lapang, luas dan tenang, seketika mulai dirasa sempit oleh Jeng Sri. Kenyamanan pun hilang saat keluarga ini mulai terbelit hutang tatkala memaksakan diri untuk membeli rumah besar melalui pinjaman kredit bank.

Di sebuah rumah megah yang dihiasi oleh kebun bunga, sedang diadakan acara arisan bulanan. Pemilik rumah bernama Helen berusaha menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan peserta arisan sesempurna mungkin agar dianggap sebagai tuan rumah yang hebat.

Saat sedang asyik mengobrol, seorang peserta arisan berkata : “Mbak, saya dengar sebulan mbak cuma dijatah sepuluh juta saja oleh suami mbak yah? Kok rasanya tidak sebanding dengan penampilan mbak yang wah… Uang segitu jika tidak dibelanjakan, lalu dikumpul selama setahun, gak bakalan sanggup membeli tas ini…”

Ibu ini memamerkan tas Hermesnya yang berharga ratusan juta rupiah.

Setelah selesai acara, Helen segera menghubungi suaminya, meminta jatah bulanan menjadi lima puluh juta rupiah. Sang suami menolak dengan tegas. Alhasil terjadi pertengkaran hebat. Rumah besar nan mewah yang diidamkan oleh orang banyak terasa seperti “neraka”, panas dan bergejolak sepanjang waktu.

Sementara itu di sebuah panti jompo, seorang kakek tua mendapat kunjungan banyak orang yang ingin beramal. Seorang pengunjung bertanya kepada kakek tua itu : “Kek, tega sekali anak-anakmu mengirim kakek ke panti jompo ini…”

Kakek itu menjawab : “Mereka sibuk sekali, sehingga tidak ada yang mengurus diriku. Saya berusaha untuk memakluminya….”

Pengunjung itu melanjutkan pertanyaannya : “Memangnya berapa kali anakmu mengunjungimu dalam sebulan?”

Kakek tua : “Sebulan sekali…”

Pengunjung : “Wah… sungguh keterlaluan banget anak-anak kakek. Di usia senja begini, seharusnya mereka rajin mengunjungi kakek dan meluangkan lebih banyak waktu untuk bercengkerama dengan kakek. Bukan cuma sebulan sekali…”

Saat malam menjelang tidur, kakek tua itu tiba-tiba menangis. Sepanjang hari dia terus memikirkan kebenaran kata-kata pengunjung panti. Hati sang kakek berubah menjadi sempit, padahal sebelumnya beliau amat lapang, rela dan ikhlas terhadap anak-anaknya. Sejak itu sang kakek sering menangis sendiri dan berujung menjadi sakit-sakitan. Beberapa bulan kemudian sang kakek menghembuskan nafas terakhir dalam kepiluan.

Di sebuah pusat perbelanjaan, seorang ibu muda bernama Lince sedang bersama putera semata wayangnya berjalan perlahan sambil mengamati barang-barang dagangan.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya, sambil berkata : “Hai cantik, apa kabar..? Sudah lama kita tidak berjumpa…”

Lince : “Oh rupanya kamu, Vina… Kirain siapa yang berani mencolek tubuhku… Kalau bukan kamu, pasti mereka akan saya gampar…”

Vina : “Eh, anak ini siapa yah?”

Lince : “Anakku lah…”

Vina : “Ibunya cantik kok anaknya jelek? Pasti bapaknya jelek juga yah…?”

Setelah pertemuan ini, Lince mulai merenung dan memikirkan untuk tidak memiliki anak lagi, khawatir kalau anaknya yang kedua ikutan jelek mengikuti gen suaminya. Semula, kehidupan Lince begitu bahagia dan damai, namun seketika berubah menjadi tidak nyaman. Dia mulai enggan pergi bersama suami dan anaknya yang jelek. Lebih senang pergi kemana-mana seorang diri.

Sobatku yang budiman…

Kelima contoh peristiwa di atas, sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin saja ada ucapan dari teman-teman kita yang begitu menusuk hati, mencibir kekurangan dan kelemahan diri kita. Atau barangkali kita sendiri sering mengucapkan kalimat yang menusuk perasaan orang lain tanpa kita sadari. Lebih parahnya lagi kalau dengan sengaja kita berkata demikian.

Apa sebenarnya keuntungan yang kita dapatkan ketika bertanya seperti pertanyaan-pertanyaan di atas? Tidak ada bukan? Selain hanya membuat orang lain terluka dan menyebabkan hidup yang semula damai dan lapang menjadi sempit tidak nyaman.

Karena itu, jagalah diri dari urusan mencampuri kehidupan orang lain. Menghina dan mengecilkan dunia mereka. Menanamkan rasa tak rela dan ketidakikhlasan pada situasi yang sedang mereka alami. Mencibir penghasilan, kediaman, fisik, keluarga mereka dan sebagainya.

Bijaklah dalam memberi komentar. Mulutmu bagaikan harimau bagi orang lain. Berhati-hatilah atas segala ucapan yang terlontar dari mulut kita. Pikirkan dampak dari ucapan kita yang dapat memperburuk kehidupan orang lain.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan    Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KISAH INSPIRATIF, RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s