“MELUANGKAN WAKTU SEJENAK”

<Sabtu, 19 November 2015 OOR 17:23>

Beberapa waktu yang lalu, saya berjumpa dengan temanku, Rudy di sebuah rumah sakit ternama. Wajahnya yang ganteng kelihatan pucat, kusam, lesu dengan kelopak mata sedikit bengkak. 

Saya terkejut melihat penampilan Rudi, lantas bertanya : “Ada apa gerangan yang membuat kamu kelihatan kurang bersemangat…?”

Rudi menjawab : “Papaku masuk rumah sakit dan sudah beberapa hari ini saya tidak dapat tidur nyenyak karena memikirkan kondisi papa…”

Saya : “Papamu sedang sakit dan kamu sendirian menjaga beliau…?”

Rudi : “Kalau malam saya yang menjaga papa, kalau pagi dan siang adik-adikku bergantian menjaga papa…”

Saya : “Jadi gara-gara itu kamu kelihatan lesu dan kelelahan, begitu tergambar dari raut wajahmu yang kusam. Kamu memang anak yang berbakti kepada orang tua…”

Tiba-tiba Rudi menggelengkan kepalanya dengan kencang, bibirnya bergetar sambil berkata : “Tidaakk… Saya ini anak durhaka. Saya bukan anak yang berbakti. Tuhan pantas untuk menghukum diriku…”

Saya terkejut mendengar ucapan Rudi. Dalam hati saya bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi? Bukankah dengan meluangkan waktu bermalam-malam menjaga papanya, sudah dapat membuktikan bahwa Rudi menyayangi dan berbakti kepada papanya.

Seakan mengerti akan keherananku, Rudi berkata : “Dua hari lalu saya khilaf dan berkata tidak baik kepada papa. Ketika masuk ke sini, papa masih sadar dan dapat berkomunikasi dengan kami. Karena penyakit yang diderita, papa menjadi sulit tidur dan sering berceloteh sendiri. Malam itu, saya menyuruh papa untuk diam dan segera istirahat dengan tenang karena saya sudah merasa sangat lelah dan ingin tidur sejenak….”

Air mata Rudi mulai keluar dari ujung mata kanannya. Dengan terbata-bata, Rudi melanjutkan ceritanya : “Papa menjawab bahwa dirinya juga merasa lelah dan ingin beristirahat, tidak ingin mengganggu tidurku. Beliau mengatakan, dirinya sudah sangat capek dan ingin pulang ke rumah. Dengan mimik wajah sedih, papa mendorong tanganku menyuruhku untuk pulang saja karena papa bisa sendirian menjalani perawatan di rumah sakit ini. Saya terkejut mendapat dorongan dari papa, mendapat penolakan dari beliau yang paling kusayang…”

Rudi terdiam sejenak, mengusap air matanya yang terus bercucuran.

Rudi : “Saya sangat menyesal mengucapkan kata-kata yang tidak pantas kepada papa yang telah membesarkan diriku. Tidak terbalas jasa yang diperbuat papa untukku. Saya memang anak tidak berbakti, hanya untuk menahan lelah beberapa hari saja, saya sudah menggerutu, padahal ketika merawatku, kalau dijumlahkan mungkin sudah berbulan-bulan papa tidak tidur karena saya rewel di tengah malam…”

Saya menepuk pundak sahabat kecilku. Dirinya yang saya kenal begitu tegar dan percaya diri, saat ini terlihat begitu rapuh.

Saya mencoba membesarkan hatinya : “Sudahlah bro, yang penting kamu sudah sadar dan tetap berniat menjaga ayahmu dengan tulus dan ikhlas…”

Rudi : “Tapi gara-gara kalimatku menyuruh papa untuk tidur, akibatnya papa menjadi beneran tidak sadarkan diri dan harus dirawat di ICU. Tidak sepantasnya kata-kata yang begitu menyakitkan hati, keluar dari mulut seorang anak kepada papanya. Saya ingin papa bangun dan berbicara apapun. Saya rela tidak tidur berapa lamapun untuk mendengarkan celoteh papa.”

Saya : “Papamu pasti sudah mendengar semua kata-kata penyesalanmu. Beliau juga sudah memaafkan kamu…”

Rudi : “Saya berharap demikian, bro… Sejak saat itu, setiap detik, saya berdoa agar papa segera siuman kembali. Oh Tuhan, mohon kabulkan permintaan hamba-Mu. Apapun yang akan diperbuat dan dilakukan oleh papa, saya berjanji tidak akan mengeluh sedikitpun. Saya berharap Tuhan mau memberikanku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku kepada papa…”

Saya menggenggam tangan Rudi lalu berkata : “Semoga Tuhan mengabulkan semua doa dan permintaan kamu…”

Sobatku yang budiman…

Saat orang tua kita membutuhkan perhatian dan kasih sayang, sering kali kita dengan sadar atau tanpa sadar menolak keinginan beliau dengan sejuta alasan yang terkadang seperti dibuat-buat. Karena mengurus anak, sibuk bekerja, atau mungkin sibuk menonton acara teledrama Korea.

Sementara itu, di luar sana banyak orang yang tidak seberuntung kita yang masih mempunyai orang tua. Mereka yang merindukan hal-hal yang kita keluhkan, namun tidak pernah mereka dapatkan.

Bayangkan betapa hancur hati mereka karena penolakan dari kita. Bermunculan kata-kata omelan yang keluar dari mulut kita ketika mereka berusaha meminta sedikit waktu kita, mencoba merengkuh kita dalam pelukan kasih sayang dari anak yang disayanginya.

Hanya untuk menemani dan merawat orang tua, seorang anak banyak mengeluh dan melimpahkan tanggung jawabnya kepada orang lain. Mengeluh karena harus menghabiskan waktu berhari-hari untuk menemani mereka. Namun pernahkah kita berpikir bahwa sesungguhnya orang tua kita akan terus menemani dan menjaga kita seumur hidupnya, hingga badannya tidak lagi kuat dan menjadi keropos.

Sejak lahir hingga dewasa, bahkan hingga tiba saatnya ajal menjemput, mereka selalu menyertai kita, mencurahkan segenap perhatiannya untuk kita dan tidak berhenti berdoa untuk kebahagiaan anak-anaknya. Saat mereka benar-benar meninggalkan kita selamanya untuk menghadap Sang Kuasa, yang tertinggal hanyalah seluruh kenangan yang tidak mungkin dapat diulang kembali.

Semua terserah kepada kita, bersediakah kita meluangkan waktu yang sangat singkat itu untuk orang tua terkasih? Sesuatu yang kelihatan sederhana namun besar manfaatnya bagi perjalanan hidup kita…

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan  Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Kisah Inspiratif, Pengalaman Pribadi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s