“JANGAN GAMPANG BERPRASANGKA BURUK”

<Selasa, 15 November 2016 OOR 07:02>

Seorang pemuda bernama Zuki menemani ibunya berbelanja di sebuah pasar tradisional. Saat ini Zuki telah berkeluarga dan tinggal bersama isterinya di sebuah rumah sederhana, tidak jauh dari rumah ibunya. Sedangkan sang bunda tinggal bersama ayah Zuki dengan ditemani oleh seorang pembantu rumah tangga.

Sebenarnya rencana Zuki pergi ke pasar hanya untuk membeli gas tabung yang akan dipergunakan untuk kebutuhan memasak di rumah karena stok gas miliknya sudah habis.

Saat melewati rumah ibunya, Zuki melihat sang bunda sedang berdiri di depan halaman, seperti menunggu seseorang. 

Zuki : “Ibu mau kemana…?

Ibunda Zuki : “Ibu mau pergi ke pasar untuk membeli keperluan dapur. Sudah lima belas menit menunggu tapi tidak ada becak yang lewat….”

Zuki : “Oh… kebetulan bu, saya juga mau ke pasar. Sini barengan dengan saya…”

Di dalam mobil, Zuki kembali berkata : “Lain kali kalau ibu melihat mobilku ada di halaman rumah, ibu bisa menyuruh saya mengantarkan ibu kemana-mana…”

Ibunda Zuki : “Ibu masih kuat kok. Lagi pula ibu tidak mau merepotkan dirimu. Naik becak juga lebih cepat, bisa menyelinap di antara gang-gang kecil….”

Setelah selesai berbelanja, Zuki mengantarkan ibunya kembali ke rumah. Sebelum turun, ibunda Zuki melihat di dalam mobil terdapat dua buah tabung gas. 

Ibunda Zuki : “Zuki, bolehkah ibu meminta sebuah tabung gas ini? Soalnya gas di rumah juga sudah hampir habis. Ibu tadi melihat kamu membeli dua buah tabung gas….”

Zuki menjawab singkat : “Jangan dulu bu…”

Ibunda Zuki merasa sedikit terkejut mendengar penolakan putera kesayangannya. Sepengetahuannya yang telah merawat Zuki hingga dewasa, Zuki bukanlah seorang yang pelit. Pemuda yang baru menikah tiga bulan ini dikenal sebagai seorang dermawan dan suka berbagi miliknya kepada orang lain.

Dalam hati, ibunda Zuki bergumam : “Saya heran dengan kelakuan Zuki. Jangan-jangan gara-gara sudah menikah, Zuki berubah menjadi seorang yang pelit. Atau mungkin karena dipengaruhi isterinya…”

Kejadian ini membekas dalam benaknya. Dis tidak habis pikir bagaimana Zuki bisa berubah seperti ini. Ibunda Zuki menceritakan kejadian ini kepada ayah Zuki.

Ayah Zuki menjawab : “Jangan dulu berprasangka buruk. Mungkin saja Zuki sedang mengalami kesulitan keuangan sehingga berat untuk membelikan sebuah tabung buat kita…”

Ibunda Zuki : “Tapi harganya kan tidak mahal..?”

Ayah Zuki : “Iya… Mungkin ada pertimbangan lain. Ya sudah bu, tidak usah dipikirkan lagi. Jangan bawa ke hati. Ntar setelah mandi, saya akan pergi membeli gas….”

Ibunda Zuki masih menyimpan keheranan, namun tidak mau berargumentasi dengan suaminya yang terkenal arif dan bijaksana.

Belum sejam berlalu, tiba-tiba Zuki datang ke kediaman orang tuanya sambil menenteng sebuah tabung gas.

Zuki : “Bu, tabung gas ini bagus dan tidak bocor. Tadi saya sudah mengetesnya di rumah. Warnanya masih baru dan tidak kotor. Tidak seperti tabung satu lagi yang kotor dan sedikit mengalami kebocoran. Tapi sudah saya perbaiki…”

Ayah Zuki : “Tidak apa-apa nak… Kamu pakai saja sendiri. Bentar lagi ayah mau pergi membeli gas…”

Zuki : “Tidak usah ayah. Tadi Zuki tidak langsung mengantarkan tabung gas ini karena Zuki harus memastikan tabung gas ini masih baik dan tidak membahayakan ibu…”

Ibunda Zuki tidak dapat berkata-kata lagi. Matanya berkaca-kaca hingga akhirnya sebutir air mata mengalir dari pelupuk mata.

Ibunda Zuki mendekap tubuh Zuki sambil berkata : “Maafkan ibu yang telah berprasangka buruk kepadamu. Ibu tahu dan yakin benar kalau kamu memang anak yang baik….”

Sobatku yang budiman…

Apa yang dialami ibunda Zuki, pasti sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari.

Saat teman melakukan sesuatu yang dianggap tidak baik, kita akan tersinggung dan marah, bereaksi menuduhnya sebagai orang yang jahat. Padahal, mungkin saja ada maksud terselubung yang ditujukan untuk kebaikan kita.

Siapapun kita, sepintar dan sehebat apapun, sebaik dan semulia apapun diri kita, jangan terburu-buru menilai seseorang, siapapun mereka. Apalagi menunjuk hidung dan menghakimi mereka.

Jangan menutup pintu kesempatan kepada setiap orang yang ingin memberikan penjelasan atas tindakannya. Biarkan mereka mengutarakan pikirannya dengan caranya sendiri, bukan dengan cara yang kita maui.

Tentunya kita tidak ingin digolongkan sebagai seorang yang egois dan mau menang sendiri bukan? Tetaplah berusaha menjadi orang yang sabar dalam kebijaksanaan.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan  Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KISAH INSPIRATIF. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s