“INDAHNYA KEBERAGAMAN”

<Senin, 14 November 2016 OOR 10:44>

Sekelompok pemusik berkumpul untuk mempertontonkan kebolehannya bermain berbagai alat musik di hadapan penonton. Ada yang mahir bermain gitar, biola, drum, bass, piano, saxophone dan sebagainya.

Saat seorang pemusik sedang bermain drum, salah seorang penonton mencibirnya dan menyuruhnya untuk berhenti memainkan alat musik drum.

Penonton itu berteriak : “Mohon hentikan permainan drum kamu. Saya hanya menyukai suara piano, yang lain tidak sesuai dengan seleraku, termasuk alat musik drum. Musiknya tidak enak didengar. Tidak ada seninya sama sekali. Kalau cuma untuk pukul memukul, semua orang juga bisa…”

Ulahnya membuat penonton lain menjadi geram. Beberapa penonton sudah berdiri di atas bangkunya dan hendak memberi pelajaran kepadanya. Untunglah satpam datang tepat waktu untuk menghindarkan terjadi perselisihan yang dapat berujung perkelahian.

Satpam : “Mohon maaf.. Bisakah bapak diam di tempat dan tidak membuat keriibutan di ruangan ini? Jika tidak, saya persilakan bapak untuk meninggalkan ruangan ini…” 

Penonton yang terbilang egois dan pemarah ini akhirnya bisa tenang setelah diperingati oleh petugas satpam. Dia menutup kedua telinganya hingga pemain drum selesai beraktraksi. Aksi menutup telinga juga diperlihatkan olehnya terhadap pemain musik lainnya.

Namun saat pemain musik piano mulai beraksi, penonton ini segera bangkit dari tempat duduknya, melangkah ke depan panggung dan mulai menggerak-gerakkan jari-jari tangannya seperti sedang bermain piano. Aksinya membuat para penonton mengeluarkan suara mengejek, namun dia sama sekali tidak peduli. Masih terus bergoyang mendengarkan suara merdu dari piano.

Satu persatu pemain musik mempertunjukkan kepiawaian bermain musik. Semua penonton bersorak kegirangan mendengar lantunan suara indah dari alat musik kegemarannya. Masing-masing penonton memiliki kegemaran yang berbeda. Namun, saat pemusik yang bukan idolanya bermain, mereka berusaha untuk ikut menikmatinya. Berbeda dengan penonton tadi.

Di penghujung acara, seluruh pemain musik berkolaborasi, bermain bersama, menyatukan melodi yang dihasilkan oleh alat musik masing-masing. Sungguh indah sekali. Seluruh penonton bertepuk tangan, ikut bernyanyi dan bergoyang bersama.

Dalam keasyikan berdendang, penonton tadi kembali berulah. Penonton yang mengenakan pakaian mentereng ini, mulai berteriak-teriak menyuruh pemain musik yang lain untuk menghentikan aksinya, kecuali pemain piano.

Akhirnya, tanpa basa-basi lagi, petugas satpam dibantu oleh penonton lain yang sudah geram dengan perilaku fanatik penonton ini, mengusirnya keluar dari ruangan. 

Dia terus meronta-ronta dan tidak ingin dikeluarkan dari ruangan, berteriak kencang : “Saya adalah penonton legal karena memiliki tiket yang resmi. Kalian tidak berhak mengusir saya. Kalian telah melanggar hak asasi manusia….”

Seorang panitia bertubuh ceking menghampirinya dan berkata : “Kamu memang penonton yang sah, namun kami semua tidak membutuhkan kehadiranmu di sini. Jangan bicara HAM karena anda sendiri yang berulah dan melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh panitia yaitu membuat keributan. Sekarang kamu pergi keluar dari sini atau kami akan membawamu kepada pihak berwajib…”

Penonton itu masih ngeyel : “Kalian jangan macam-macam. Saya akan mengerahkan para penggemar alat musik piano untuk memboikot kegiatan kalian selanjutnya…”

Panitia itu tidak kalah garang berseru : “Jangan menakut-nakuti kami yang cinta dengan musik. Kamu hanyalah segelintir penggemar fanatik yang tidak dapat menerima perbedaan yang ada. Kamu layak untuk diusir dari ruangan ini…!!!”

Sobatku yang budiman…

Sebagian orang hanya ingin mendengarkan apa yang menjadi musik kegemarannya, padahal di luat sana, terdapat begitu banyak musik yang berbeda. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, kita terpaksa harus mendengarkan. 

Kita boleh menikmati musik kegemaran dari pemusik idola yang kita sukai, asalkan tidak mencampuri atau bahkan mengganggu kegemaran orang lain. 

Jika kita masih saja ngotot mengganggu, maka konsekuensinya kita harus bersedia untuk ditegur. Kalau tidak siap, maka kita boleh mendengarkan musik tersebut di dalam rumah. Atau barangkali lebih afdolnya, kita pindah ke negeri yang seluruh penduduknya menyukai piano. Simpel bukan?

Alangkah indahnya jika semua orang dapat menerima perbedaan dan tidak ngotot mau menang sendiri.

“Kalah jadi abu, menang jadi arang”

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #prayforIntanOlivia Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in AGAMA, KISAH INSPIRATIF, RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s