“SAAT KITA JATUH CINTA”

<Minggu, 13 November 2016 OOR 07:51>

Tanpa kita sadari, dalam kehidupan ini, kita pernah menyukai seseorang, walaupun tidak pernah “dianggap spesial” olehnya. Kita merasa mencintai mereka namun tidak mampu memberikan alasan mengapa kita mencintai dirinya. 

Kita bahkan tidak peduli kalau dia sudah memiliki pasangan. Yang ada dalam pikiran kita hanya dirinya. Kadang dengan memandang fotonya saja, kita sudah merasa senang, apalagi jika dapat melihat langsung wajahnya. Hati kita akan berbunga-bunga.

Kita mencintai mereka dan akan menerima mereka apa adanya. Di mata kita, dia adalah sosok paling sempurna walaupun mungkin berat badan mereka sudah berlebihan alias kegendutan. Namun kita seperti menderita buta sesaat.

Kita ingin selalu mengetahui apa saja kegiatan dirinya sepanjang hari, makan apa, naik apa, mandi berapa kali dan memakai pakaian apa.

Jika kita diberi kesempatan untuk mengetahui nomor ponselnya, maka kita pasti akan selalu mengirim pesan : “Selamat pagi…”, “Selamat bekerja…”, “Sudah makan…?”, “Sedang ngapain…” dan “Selamat tidur…”, walaupun dia hanya membaca pesan tanpa membalasnya.

Kita akan selalu menantikan hati bersejarah dalam hidupnya setiap tahun yaitu saat berulang tahun. Mengucapkan selamat ulang tahun dengan kata-kata terindah yang dipilih dari lapak Om Gugel. Bahkan bergegas meringankan langkah ke toko untuk membeli hadiah ulang tahun yang paling keren. Berharap hadiah dari kita akan berkesan dan selalu diingat sepanjang hidupnya.

Jika kita berhasil mengajaknya keluar bersama, maka kita pasti akan mengabadikan momen istimewa sebanyak mungkin. Setiap detil, detik demi detik peristiwa akan tersimpan dalam benak kita. Kenangan ini akan kita ingat walaupun mungkin baginya, momen ini sudah dilupakan bagaikan debu yang lenyap dihembus angin.

Kita akan merekam setiap kalimat yang keluar dari mulutnya di dalam memori otak untuk diputar kembali saat kita merindukan dirinya. Padahal kata-kata itu hanyalah kalimat basa-basa untuk menyenangkan hati kita.

Saat dia begitu serius mendengarkan sebuah lagu, serta merta kita langsung berusaha mengingat-ngingat nadanya, berusaha mencari tahu judul lagu dan penciptanya. Berupaya menghafal lirik lagu tersebut dan berharap suatu ketika dapat mendendangkan lagu tersebut di hadapannya, walau dengan suara sedikit fals.

Saat mendengar dirinya sedang sakit, pikiran kita akan tercurah sepenuhnya untuknya. Setiap jam mengirimkan sms menanyakan kondisinya, padahal dia sedang tertidur dan tidak membaca pesan yang kita kirim. Berharap semoga penyakit itu dapat berganti posisi, dia sembuh dan kita yang sakit. 

Untuk mereka yang kita cintai, sebuah permintaan darinya untuk melakukan sesuatu hal adalah berkah yang tiada terkira. Dengan senang hati akan menunaikan pekerjaan tersebut padahal kita sedang sibuk bukan main. Kita rela meninggalkan pekerjaan hanya untuk melaksanakan apa yang dimintanya.

Kita akan memberikan sesuatu yang menurut kita paling berharga dalam hidup kita, menurut kita adalah barang yang paling istimewa, padahal menurutnya barang biasa saja. Bagi kita, keinginannya untuk menerima pemberian kita adalah sesuatu yang membanggakan. Bila perlu di-share sebanyak mungkin untuk diketahui oleh khalayak ramai.

Kadang kita tidak sadar bahwa sudah menelepon belasan kali, missed call puluhan kali dalam sehari hanya untuk mendengar suara “merdu” yang bahkan lebih merdu dari suara Vina Panduwinata.

Jika suatu saat dia meminta kita untuk mengajarinya sesuatu, maka kita akan dengan senang hati melakukannya walaupun harus mengajarinya berulang-ulang, barangkali dia adalah murid terbodoh yang pernah kita jumpai. Namun kita tidak pernah merasa kesal, dongkol apalagi sampai marah. Hufff…

Kalau kita melihat ponsel sendiri, kita baru menyadari bahwa namanya akan menghiasi sebagian besar inbox message di dalam ponsel. Kita masih tetap setia menyimpan semua pesan yang dikirimnya bahkan yang sudah dikirimnya berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun yang lalu. Sebab, saat sedang sendiri, kita sering membaca kembali pesan tersebut berjam-jam lamanya. Bukan main…

Jika suatu saat dia meng-update status “sedang kesepian”, kita langsung menyambar pesan tersebut dan menawarkan diri untuk menemaninya. Padahal mungkin dia sedang mencari perhatian dari seseorang yang dirindukannya, dan itu bukan kita.

Hingga suatu ketika, ketika dia merasa sudah terganggu oleh ulah lebay kita dan memberitahu bahwa perbuatan kita sudah mengganggu dirinya karena dia ingin sendiri dulu, kita tidak pernah marah atau tersinggung. Kita seperti mencari pembenaran bahwa memang dia sedang galau dan tidak ingin diganggu oleh siapapun termasuk oleh kita. Dengan sabar kita akan menunggu hingga dia menyatakan selesai “bertapa”.

Intinya, kita memang benar-benar berharap ada secercah harapan untuk bersamanya, membina kasih dan berakhir di pelaminan serta menempuh kehidupan baru, membangun kehidupan rumah tangga impian bersamanya.

Pernahkah kita berperilaku seperti di atas? Jangan malu untuk mengakuinya, walaupun kita akan membela diri bahwa semua ini terjadi saat kita masih muda dulu…

Itulah cinta…

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan  Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s