“HARUSKAH DEMONSTRASI BERAKHIR ANARKIS?”

<Sabtu, 05 November 2016 RPTEDIT 16:20>

Semalam kita disuguhi oleh tontonan aksi demonstrasi yang berujung anarkis. Awalnya kita melihat bagaimana aksi demo berlangsung tertib, terarah dan kondusif. Hal ini tentunya amat membanggakan kita semua, bahwa lautan manusia yang begitu banyak dapat dikendalikan dengan baik oleh penanggungjawab demo.

Aksi yang berlangsung damai ini dapat dipertahankan hingga mendekati batas waktu demo pukul 18:00 WIB. Namun, hal yang tidak kita inginkan akhirnya terjadi. Aksi demo berujung rusuh dan anarkis hingga larut malam, akibat ulah segelintir oknum yang tidak menginginkan aksi ini berlangsung dan berakhir dengan damai.

Seperti sudah menjadi sebuah kebiasaan, aksi demonstrasi yang terjadi di negeri ini tidak akan terdengar gaungnya jika tidak dibumbui oleh aksi kekerasan, pengrusakan dan bentrokan dengan aparat. Pokoknya harus ada yang hancur atau ada yang berdarah-darah. Weleh…. weleh…

Sebenarnya, aksi demonstrasi anarkis seperti ini justru berpotensi melanggar peraturan yang berlaku, mengarah pada aksi barbar, destruktif dan kriminal. Secara tidak langsung akan menghilangkan tujuan utama demo tersebut.

Ingatanku berkelana ke masa muda tatkala sedang menimba ilmu di USU, kejadian 18 tahun lalu yang cukup mendebarkan…

Seminggu sebelum tanggal 21 Mei 1998, segenap elemen mahasiswa berkumpul dan menyatukan misi dalam perbedaan, untuk memyuarakan satu kata “Reformasi”.

Sebagai pengurus Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi dan organisasi ekstrakulikuler (GMNI), saya bersama mahasiswa lain berkumpul mempersiapkan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, termasuk mempersiapkan diri dalam menghadapi hal yang terburuk sekalipun. Kami juga melakukan komunikasi dengan mahasiswa di seluruh Indonesia untuk menyelaraskan aksi demonstrasi agar berlangsung damai.

Sehari sebelum aksi dilakukan, saya sengaja mempersiapkan arang hitam dan handuk kecil (untuk menangkal apabila terjadi tembakan gas air mata) serta sekeping seng tipis, diselipkan di balik baju, di depan dada, untuk meminimalkan terjadinya luka jika sampai terkena peluru karet. 

Jujur saja, saat itu sama sekali tidak terpikir, bagaimana jika yang dilontarkan adalah peluru tajam. Koit dech…

Keesokan pagi, saat hendak berangkat ke kampus, saya sempat dicegat oleh orang tua. Beliau menganjurkan saya untuk mengurungkan niat berdemonstrasi karena teringat dengan kejadian di lapangan Tiananmen, China tahun 1989, dimana aparat China menggilas mahasiswa yang sedang melakukan aksi tidur di jalan dan menembaki para demonstran secara membabi buta.

Namun, darah muda dan semangat cinta tanah air, membulatkan tekadku untuk berjuang bersama teman-teman mahasiswa lainnya. Saat orang tua lengah, saya segera melajukan sepeda motor meninggalkan rumah.

Sesampainya di kampus, tumpukan ribuan mahasiswa berkumpul di titik-titik konsentrasi massa, di fakultas masing-masing. 

Setelah berdiskusi sejenak antar koordinator lapangan untuk mematangkan aksi, kami mulai melilitkan tali ke masing-masing barisan, menghindari adanya penyusup. 

Sebagai korlap, saya bersama rekan-rekan lain, bertanggungjawab agar semua mahasiswa tetap berada di dalam barisan dan tidak keluar dari tali yang melilit barisan. Mencegah terjadinya aksi penyusupan dan yang paling utama bertugas mengontrol emosi peserta demonstrasi.

Sepanjang jalan yang dilewati, tidak terlihat seorangpun aparat keamanan. Masyarakat berkumpul di beberapa titik, sambil menyoraki dan menyemangati kami. Hal ini menambah semangat kami menyanyikan lagu-lagu perjuangan sekuat-kuatnya. Walaupun terik matahari menyengat dengan “kejam”, namun kami tidak peduli.

Saat melintas di beberapa persimpangan dan atas permintaan peserta aksi, saya berinisiatif meminta rokok kepada beberapa orang untuk dibagikan kepada rekan-rekan seperjuangan.

Salah seorang masyarakat menyelutuk : “Kamu Cina yah? Kok berani yah meminta rokok kepada kami?”. Mimiknya bukan mimik sinis, tapi keheranan melihat kenekadanku. Dia berucap sambil tertawa-tawa.

Saya tersenyum dan menjawab : “Iya benar… Dukung perjuangan kami…. Hidup mahasiswa…!!!”

Sontak masyarakat yang berkumpul berteriak : “Hidup mahasiswa….!!!”

Di lain kesempatan, saat beberapa teman sudah kecapekan, kebetulan di jalan S. Parman ada seorang paruh baya Tionghoa sedang menyiram jalanan yang berdebu. Saya meminta agar diperbolehkan “menyiram” barisan. Akibatnya teman-teman berteriak riuh menyambut kesegaran air yang dimuncratkan ke arah mereka.

Peristiwa lain, saat barisan demonstran tepat berada depan Hotel Polonia, hampir terjadi aksi penyerbuan ke dalam hotel. Kejadiannya karena ada beberapa tamu hotel, berada di atas balkon tidak mau membalas sahutan mahasiswa. Rekan-rekan sedikit terprovokasi, dan hampir menyerbu ke dalam. Untunglah saya beserta korlap lainnya, berlari mengejar beberapa mahasiswa yang sudah keluar dari barisan, dan menyuruh mereka untuk masuk kembali ke dalam barisan.

Saya berteriak : “Tahannnn… Tahannn… Jangan nodai perjuangan kita dengan aksi anarkis. Mahasiswa cinta damai…”

Teriakanku disambut dengan pekikan : “Hidup mahasiswa… Merdekaaa….!!!”

Nah, ada satu kejadian lucu, ketika saya harus bersembunyi masuk ke dalam barisan, untuk menyamarkan “mata sipitku”. Pasalnya ada sekelompok wartawan sedang meliput kegiatan kami dan mengarahkan kamera ke arahku sambil berteriak : “Woiii… Hadap ke siniiii….”

Dalam benakku berpikir, jika sampai mereka meliput diriku yang berasal dari etnis minoritas dan terpampang luas di media cetak dan elektronik, bakal gawat nih. Orang tuaku akan tahu dan bisa “memecatku” sebagai anaknya. 

Belum lagi rasa takut muncul, jika sampai penguasa melalui tangan aparat akan dengan mudah menculikku. Hmm… bakalan tinggal nama dech… 

(Tapi sekarang timbul perasaan menyesal, mengapa harus menghindari wartawan? Jika masuk koran atau majalah, beritanya bisa dikliping dan disimpan untuk konsumsi pribadi. Mengapa tidak diladeni saja, kan bisa jadi bukti otentik untuk diceritakan ke anak cucu kelak. Hmmm…. #narsismodeon)

Untunglah semua aksi demonstrasi berjalan lancar dan atas ridho Tuhan Yang Maha Esa. Kami semua dapat kembali ke rumah masing-masing dengan selamat, dengan menyisakan rasa lelah, suara serak karena teriakan dan kulit hitam legam terbakar teriknya matahari.

Sobatku yang budiman…

Bercermin dari aksi demonstrasi yang dilakukan oleh puluhan ribu mahasiswa di Medan dulu, ternyata sama sekali tidak terjadi aksi anarkis. Intinya adalah penanggungjawab aksi (korlap) harus “kuat” dan bersungguh-sungguh menjalankan tugasnya hingga benar-benar tuntas berakhir. Tidak boleh teledor sedetikpun.

Aksi demonstrasi yang dilakukan di Jakarta semalam, seharusnya memiliki penanggungjawab dan merekalah yang harus memikul akibat dari seluruh aksi yang berujung anarkis.

Aksi demonstrasi yang diwarnai kericuhan patut disikapi dengan analisa kritis, apakah demonstrasi tersebut sungguh-sungguh murni berasal dari aspirasi mereka yang merasa menjadi korban dan ingin menyampaikan kepada pemerintah atau merupakan aksi pesanan dan bayaran dari orang-orang yang mempunyai kepentingan tertentu? 

Ketika demonstrasi dibumbui oleh aksi pengrusakan fasilitas umum, bentrokan dengan aparat dan banyak merugikan kepentingan masyarakat, maka untuk mengharapkan simpati dari masyarakat bukanlah sesuatu yang mudah. Masyarakat justru menjadi muak dan gerah terhadap aksi anarkis tersebut.

Akhirnya kita berharap semuanya dapat berakhir dengan damai, tidak terjadi perpecahan yang berujung pada disintegrasi bangsa. Bersatulah dalam kebhinekaan…

#firmanbossini #renungan #aksidamai #04Nov2016 Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in PENGALAMAN PRIBADI, POLITIK. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s