“SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA KE-88”

<Jumat, 28 Oktober 2016 COR 15:45>

Sejak tahun 1928, Sumpah Pemuda sering dimanfaatkan untuk berbagai isu dan kepentingan. Dalam suasana menyambut perayaan Sumpah Pemuda yang ke-88 tahun 2016, penulis menghimbau agar kita bersama-sama menghentikan tradisi mengkorupsi, menambah ataupun mengurangi teks sejarah, utamanya teks Sumpah Pemuda.

Lihatlah bagaimana, isi teks Sumpah Pemuda 1928 asli, dimodifikasi dan diotak-atik seenaknya sesuai dengan peristiwa sejarah pada masa itu. Disesuaikan juga dengan kepentingan penguasa sehingga isinya berbeda dengan aslinya dan menghilangkan makna kesejarahan dari Sumpah Pemuda itu sendiri.

Masa Kolonial Penjajahan Belanda, isi Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Kongres Pemuda II adalah : 

1. Kami Poetra-Poetri Indonesia Mengakoe Bertoempah Darah jang Satoe, Tanah Indonesia

2. Kami Poetra-Poetri Indonesia Mengakoe Berbangsa jang Satoe, Bangsa Indonesia

3. Kami Poetra-Poetri Indonesia Mendjoengdjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia

Pada pemberontakan Indonesia Moeda tahun 1930, isi Sumpah Pemuda digambarkan sebagai “3 Semboyan” yaitu : 

1. Berbangsa Satu = Bangsa Indonesia

2. Berbahasa Satu = Bahasa Indonesia

3. Bertanah Air Satu = Tanah Air Indonesia

Saat Kongres Bahasa, dengan slogan “Sumpah Kita”, isi Sumpah Pemuda adalah : 

1. Kita Bertumpah Tanah Satu, yaitu Tanah Air Indonesia

2. Kita Berbangsa Satu, yaitu Bangsa Indonesia

3. Kita Berbahasa Satu, yaitu Bahasa Indonesia

Masa Pemerintahan Soekarno (Orde Lama), isi Sumpah Pemuda tahun 1949, dengan slogan “Semboyan Perdjoeangan” yaitu : 

1. Satu Bangsa – Bangsa Indonesia

2. Satu Bahasa – Bahasa Indonesia

3. Satu Tanah Air – Tanah Air Indonesia

4. Satu Negara – Negara Indonesia

Saat 30 Tahun Peringatan Sumpah Pemuda pada tahun 1958, isi Sumpah Pemuda adalah : 

1. Kami Putra-Putri Indonesia Mengakui Satu Tanah Air, Tanah Air Indonesia

2. Kami Putra-Putri Indonesia Mengakui Satu Bangsa, Bangsa Indonesia

3. Kami Putra-Putri Indonesia Mengakui Satu Bahasa, Bahasa Indonesia

Masa Pemerintahan Suharto (Orde Baru), saat 50 Tahun Peringatan Sumpah Pemuda tahun 1978, isi Sumpah Pemuda sebagai berikut : 

1. Mengaku Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia

2. Mengaku Bertanah Air Satu, Tanah Air Indonesia

3. Mengaku Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia

Saat 60 Tahun Peringatan Sumpah Pemuda tahun 1988, sebagian mahasiswa kita membacakan isi Sumpah Pemuda sebagai berikut :  

1. Kami Mahasiswa Indonesia Mengaku Bertanah Air Satu, Tanah Air Tanpa Penindasan

2. Kami Mahasiswa Indonesia Mengaku Berbagsa satu, Bangsa yang Gandrung akan Keadilan

3. Kami Mahasiswa Indonesia Mengaku Berbahasa Satu, Bahasa Kebenaran
(Sumpah di atas ini menjadi “bacaan sumpah sakral” pada hampir setiap aksi demonstrasi tahun 1998 saat menurunkan pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Suharto)

Pada masa reformasi, setelah era Orde Baru, isi Sumpah Pemuda dimanfaatkan sebagai alat untuk mempersatukan derap langkah para pemuda yang berbeda suku, agama, ras dan warna kulit, dalam bingkai demokrasi. 

Isi Sumpah Pemuda pada Jaman Reformasi : 

1. Kami Putera-Puteri Indonesia Mengaku Bertanah Air Satu, Tanah Air Indonesia

2. Kami Putera-Puteri Indonesia Mengaku Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia

3. Kami Putera-Puteri Indonesia Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia

4. Kami Putera-Puteri Indonesia Berideologi Satu, Ideologi Pancasila

5. Kami Bersatu Mengembalikan Konstitusi Kepada UUD 1945 yang Asli

Semoga dengan tulisan ini, kita dapat lebih memahami makna isi Sumpah Pemuda asli, yang telah dirumuskan dengan arif dan bijaksana sebagai sarana pemersatu segenap komponen bangsa yang begitu beragam. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. 

Penulis dan sebagian besar dari kita, pasti lebih memilih dan berpendapat, bahwa Sumpah Pemuda seyogyanya kembali menjadi bukti sejarah seperti apa adanya (tanpa mengubah isi). Berharap setiap generasi dapat belajar dari peristiwa sejarah tersebut dalam menghadapi tantangan globalisasi yang semakin kompleks, khususnya ekstrimisme dan radikalisme. 

Sumpah Pemuda 1928 harus menjadi sarana pemersatu dalam menyatukan langkah untuk menghadapi tantangan masa sekarang dan masa yang akan datang. Sekali layar berkembang, surut kita berpantang.

Oleh karenanya, kepada para politikus dan calon pemimpin bangsa, wajib mengetahui dan mempelajari sejarah nasional dengan baik dan benar, sehingga semua kebijakan yang akan digulirkan sudah sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah (jasmerah) seperti yang diamanatkan Pahlawan Proklamator Soekarno.

Sebagai penutup, penulis ingin mengucapkan: “Selamat memperingati Sumpah Pemuda ‪ke-8‬8 tahun 2016″ 

“….adalah penting bagaimana belajar sejarah, namun yang jauh lebih penting lagi adalah mengambil pelajaran dari suatu peristiwa sejarah…”

 

SOEMPAH PEMOEDA 1928

Pertama : Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea : Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga : Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #sumpahpemuda88 Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Kasus, Politik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s