“PEMERASAN BERKEDOK SUMBANGAN”

<Senin, 24 Oktober 2016 OOR 14:16>

Mbah Tukri : “Mbah, udah baca berita sekolah di Depok yang meminta sumbangan kepada orang tua murid. Kok masih ada sekolah yang nekad meminta sumbangan untuk membangun fasilitas sekolah?”

Mbah Wel : “Udah baca dong… Wah, kacau nih… Orang tua murid menjadi sapi perah sekolah…”

Mbah Tukri : “Sebagai seorang Tukang Kritik, sesuai nama saya Mbah Tukri, saya menganggap ini sebagai pemerasan berkedok sumbangan… Ini tidak boleh dibiarkan…!!! Bukankah ini sama saja dengan preman yang melakukan aksi pungli?”

Mbah Wel : “Benar… benar… Seharusnya kepsek mengajukan dana kepada dinas terkait, jangan sedikit-sedikit meminta uang dari orang tua murid. Apa mereka merasa semua orang tua murid bakal mampu?”

Mbah Tukri : “Yang anehnya lagi, uang sumbangan yang besarnya lima ratus ribu hingga sejuta, boleh dicicil selama setahun. Apa gak gelo? Memangnya kayak nyicil barang elektronik…”

Mbah Wel : “Parah banget… Orientasi pemerasannya begitu kentara. Kalau semua orang tua murid menyicil setahun, bisa-bisa penyelesaian pembangunan toiletnya juga dicicil setahun juga… Korek lubang siap seminggu, tunggu awal bulan baru melanjutkan pekerjaan. Pasang batu bata, siap seminggu, tunggu awal bulan lagi baru bisa beli semen untuk meratakan dinding. Begitu seterusnya. Capek dech… Hahaha…”

Mbah Tukri : “Pemda dan Dinas Pendidikan setempat harus turun mengatasi masalah ini, tidak boleh seenaknya diserahkan kepada sekolah…”

Mbah Wel : “Urusannya bisa berbelit-belit, mbah. Belum lagi ntar harus minta persetujuan anggota dewan….”

Mbah Tukri : “Pokoknya orang tua murid harus menolak dengan tegas. Jangan mau diperas oleh pihak sekolah yang berlindung di balik komite sekolah (Komite sekolah adalah suatu lembaga mandiri dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan, arah dan dukungan tenaga, sarana, dan prasarana serta pengawasan pada tingkat satuan pendidikan. Komite sekolah terdiri dari para orang tua murid).”

Mbah Wel : “Jadi apa saran mbah? Jangan cuma bisa menjadi tukang kritik saja, boss…”

Mbah Tukri : “Saya ini kan tukang kritik… Yang gak cocok dilihat, pasti akan saya kritik… Lah, kalau mbah sendiri gimana…?”

Mbah Wel : “Saya ini orangnya bawel, makanya dipanggil Mbah Wel… hehehe… Gini dech, biarkan saja pemerintah yang mengurus masalah ini. Berita ini sudah menjadi viral di media sosial, semoga kepsek dan komite sekolah membatalkan niatnya mengadakan pungutan liar ini. Pemda dan Dinas Pendidikan setempat pasti juga akan turun tangan. Mereka bakal takut kalau disemprit oleh wasit galak yang di pusat….”

Mbah Tukri : “Oke dech… kita ikuti saja perkembangan selanjutnya… Kita lihat bagaimana Ahok mengurus masalah ini… Kan duit APBD di Jakarta banyak banget. Untuk urusan toilet, apa harus segitu rumit?”

Mbah Wel : “Kok jadi Ahok?”

Mbah Tukri : “Kan Depok itu masuk ke wilayah DKI Jakarta…?”

Mbah Wel : “Makanya mbah… Jangan cuma pintar kritik aja. Depok itu di Jawa Barat… Masak urusan Jawa Barat, Ahok juga yang salah?”

Mbah Tukri : “Upsss…”

#firmanbossini #mbahwel #mbahtukri #renungan   Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in MBAH WEL KEKINIAN, POLITIK. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s