“KEJUJURAN PALSU”

<Kamis, 29 September 2016 OOR 18:37>

Seorang pria muda yang sudah beristeri, namanya Emon, baru saja meninggalkan kantor setelah usai bekerja seharian. Sebelum pulang ke rumah, Emon menyempatkan diri singgah ke sebuah supermarket untuk membeli pampers, seperti yang dipesankan sang isteri, Dora sebelum Emon berangkat ke kantor.

Saat hendak membayar bill di kasir, tiba-tiba saja pundak Emon dipukul oleh seseorang. Emon menoleh ke belakang. Seorang perempuan muda tertawa terkekeh-kekeh melihat mimik wajah Emon yang terkejut.

Perempuan muda : “Haiii Emon… Apa kabar? Sudah lama kita tidak berjumpa…”

Emon : “Nobita..? Apakah benar kamu ini Nobita…?

Nobita : “Iya benar, saya Nobita… Kok kamu begitu terperanjat seperti melihat kuntilanak di siang bolong…?”

Emon : “Bukan begitu Bita… Kamu tampak berbeda…”

Nobita : “Berbeda gimana..? Tambah jelek dan kelihatan lebih tua…?”

Emon : “Tidak… Kamu tampak lebih cantik dan hmmm… kamu sexy banget… Beda banget dengan waktu dulu ketika kamu menjadi pacarku…”

Nobita tertawa kegirangan mendengar pujian dari mantan kekasihnya.

Emon : “Kok kamu sendirian? Mana suami dan anak-anakmu..? Tumben kamu ada di kota ini?”

Nobita : “Saya hanya menemani suamiku. Dia sedang mengurus proyeknya di dekat sini. Kebetulan saat ini, suamiku sedang berada di luar kota, selama beberapa hari. Mon, kami sudah berkeluarga selama sepuluh tahun namun belum dikaruniai anak. Makanya saya kesepian sendirian berada di kota ini…”

Emon : “Saat ini kamu tinggal dimana?”
Nobita : “Di hotel Jewemeriot…”

Emon : “Tadi kesini naik apa?”

Nobita : “Naik taxi. Mengapa nanya-nanya? Memangnya mau mengantar diriku?”

Emon : “Boleh-boleh saja. Lagipula kita sudah lama sekali tidak berjumpa… Sekalian untuk melepas kangen…”

Perasaan Emon bercampur aduk bagaikan permen nano-nano. Senang, gembira, berbunga-bunga, sekaligus takut kalau ketahuan isterinya. Emon berani mengambil keputusan mengantarkan Nobita ke hotel karena berharap dapat mengobrol panjang lebar selama di jalan. Hanya itu saja. Sehingga dia hanya akan terlambat sedikit, saat tiba di rumah.

Setelah selesai berbelanja, meluncurlah mereka menuju ke hotel tempat Nobita menginap. Sepanjang perjalanan, Emon tidak henti-hentinya memandang wajah Nobita yang berubah menjadi semakin ayu. Obrolan di dalam mobil pun menjadi semakin seru. Mereka saling mengenang masa-masa pacaran yang menyenangkan.

Emon : “Itulah kamu… Gara-gara kamu sekolah ke luar negeri, akhirnya kita terpaksa harus berpisah…”

Nobita : “Bukankah kamu berjanji akan menungguku pulang ke tanah air? Mengapa malah kamu yang menikah duluan?”

Emon : “Almarhum ayah saya memaksaku menikah. Sebelum wafat, beliau ingin melihat saya berumah tangga. Maafkan saya Bita…”

Nobita sedikit terisak mengingat kisah perpisahan mereka. Emon merasa tidak tega dan akhirnya tanpa disadari telah mengelus rambut hitam Nobita. Suasana kembali menjadi hening. Kepala Nobita jatuh ke bahu Emon, menikmati elusan tangan Emon, tangan yang paling sering digenggam dan diremasnya pada saat pacaran.

Tidak terasa mereka telah tiba di hotel Jewemeriot.

Nobita : “Mas, bolehkah saya minta agar kamu mampir dan menemaniku sejenak. Saya takut sendirian di kamar…”

Emon mulai terbawa situasi, pikirannya tidak lagi memikirkan isterinya. Di dalam hatinya timbul perasaan tidak tega melihat mantan kekasihnya ketakutan dalam kesendirian.

Emon berkata dalam hati : “Biarlah kali ini saya menuruti keinginannya. Anggap saja hari ini saya menebus kesalahan yang pernah saya lakukan dulu…”

Nobita menggamit lengan Emon, cukup mengagetkan Emon yang sedang terbuai lamunan dan kebimbangan.

Nobita : “Ayok kita pergi ke kamar saya sebentar. Kok malah melamun? Saya dapat membaca matamu, kamu pasti sedang bimbang… Kalau kamu tidak bisa, gak papa kok.. Saya tidak mau memaksa dirimu lagi. Pulanglah….”

Emon : “Tidak… Saya tidak apa-apa. Saya hanya takut tidak dapat menahan diri…”

Nobita tertawa terbahak-bahak : “Hahaha… Pikiran kamu pasti sedang ngeres… Nyantai aja Mon…”

Di dalam kamar hotel, mereka melanjutkan obrolan. Tidak terasa tiga jam telah berlalu. Sementara itu, Emon tidak menyadari bahwa baterai hapenya sudah lowbat sejak di supermarket tadi sore.

Akhirnya apa yang ditakutkan terjadi… Terjadilah…

Emon terkesiap saat matanya memandang ke arah jarum jam milik Nobita yang terletak di atas meja. Waktu sudah menunjukkan pukul 23:00.

Saat ingin menelepon isterinya Dora, barulah Emon menyadari baterai hapenya sudah habis.

Emon : “Matilah aku… Pantesan dari tadi, hape-ku tidak berbunyi. Rupanya lowbat… Udah telat banget untuk pulang ke rumah. Apa alasan keterlambatanku…? Dora pasti marah besar….”

Tidak berapa lama berpikir, Emon meminta Nobita menghubungi Gojek untuk membelikan catur. Hanya dalam waktu 30 menit papan catur beserta bidaknya sudah ada di depan mata. Setelah berpamitan, Emon segera pulang ke rumah sambil menenteng plastik berisi catur.

Begitu membuka pintu, tampak sang isteri Dora sedang memasang tampang marah dan wajah garang seperti ingin menerkam Emon.

Dora menghardik : “Kamu pergi ke mana? Hayo ngaku…!!! Sampai pegal jariku menekan tombol hape, ini malah telepon kamu dimatiin…”

Emon : “Sabar dikit sayang… Saya akan menpceritakan kejadian sebenarnya mengapa saya sampai pulang larut malam…”

Dora masih menyolot : “Mau kasih alasan apa lagi, hah…?!?”

Emon : “Begini ceritanya… Setelah pulang dari kantor, saya singgah ke supermarket untuk membeli pampers pesanan kamu tadi pagi. Waktu di sana saya ketemu dengan mantan pacarku, Nobita yang pernah saya ceritakan dulu. Terus saya diajak ke hotelnya, buat menemani dirinya. Karena terbawa situasi, akhirnya terjadi juga, sayangku…”

Dora terdiam dalam keheningan. Dahinya berkernyit seperti memikirkan sesuatu. Dia pernah berjumpa dengan Nobita setahun lalu di Paris, ketika dia dan Emon menikmati liburan tamasya ke Perancis. 

Dalam hati Dora bergumam : “Apa mungkin Nobita sudah balik ke Indonesia…?”

Tiba-tiba, terdengar suara benda jatuh ke lantai. Tas tenteng yang dipegang Emon, terlepas dari genggamannya dan menjatuhkan semua isi. Buah catur berceceran di atas lantai.

Seketika Dora tertawa terbahak-bahak : “Ini yah hasil berjumpa dengan Nobita? Hahaha… Dasar pembual…! Sudah tua dan jelek, masih merasa ganteng. Masih sok laku… Bilang kek dari tadi kalau kamu sudah mengingkari janjimu untuk puasa bermain catur selama sebulan. Kalau ketahuan, maka kita akan pisah ranjang selama sebulan. Untung saja hari ini, hatiku lagi baik. Jadi hukuman untuk kamu dibatalkan. Cepat pergi mandi, habis itu kerokin badan saya…”

Emon menghela nafas lega : “Siaaapppp sayanggkuuu…”

Dalam hati Dora berkata : “Hampir copot jantungku mendengar suamiku berselingkuh dengan Nobita… Untung saja ada papan catur yang jatuh ke lantai….”

Emon juga bergumam dalam hati : “Hampir saja… Terima kasih caturku… Engkau adalah penyelamat hidupku…”

 
Sobatku yang budiman…

Begitulah contoh sebuah kejujuran dalam kehidupan rumah tangga walaupun sering dibalut dengan praktek kepura-puraan. Kejujuran palsu.

Seringkali kita terpaksa harus berbohong untuk menyelamatkan hubungan dengan pasangan. Hampir semua orang pernah melakukan kebohongan dengan berbagai alasan, terutama untuk menjaga perasaan pasangan kita.

Jika kita berada dalam situasi seperti yang dialami Emon, apakah kita akan berterus terang atau berbuat seperti yang dilakukan oleh Emon atau justru berbohong semampu yang kita lakukan?

Terlepas dari semua itu, alangkah baiknya jika kita mampu berpikir jernih sebelum melakukan sesuatu kekhilafan yang dapat berujung pada perpisahan. Cobalah berpikir, bagaimana perasaan kita seandainya kita berada di pihak yang dibohongi.

#firmanbossini #renungan Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KISAH INSPIRATIF, RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s