“PINTU KEHIDUPAN”

<Sabtu, 24 September 2016 OOR 08:09>

Di sebuah kota, hiduplah dua orang bersaudara yang sudah yatim piatu, bernama Dora dan Emon. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mereka berdua bekerja sebagai karyawan di perusahaan berbeda. Praktis rumah menjadi kosong melompong saat mereka berada di luar rumah.

Setiap pagi, mereka pergi bersama-sama meninggalkan rumah untuk berangkat ke tempat kerja dengan menggunakan angkot. Sang kakak, Dora bekerja sebagai asisten di sebuah perusahaan farmasi sedangkan sang adik, Emon bekerja sebagai penjaga gudang di perusahaan distribusi alat-alat rumah tangga.

Selama ini, Dora selalu tiba di rumah lebih cepat karena pekerjaan yang ditekuninya mengikuti aturan jam kantor dan jarang sekali mengadakan lembur. Sedangkan Emon, sebagai penjaga gudang, baru dapat pulang setelah semua mobil perusahaan kembali ke gudang, selesai mengantar barang. Kadang-kadang juga harus lembur. Akibatnya, hampir setiap hari Emon tiba di rumah setelah maghrib, menjelang malam.

Karena sang kakak, selalu tiba di rumah lebih awal, maka Emon tidak pernah memikirkan mengenai urusan membuka pintu dan tidak mau membawa kunci rumah. Sebelumnya, Emon ada membawa kunci rumah, namun karena keteledorannya, kunci tersebut hilang. Hal ini terjadi beberapa kali, sehingga Emon menjadi malas membawa kunci rumah.

Suatu ketika, Emon merasa tidak enak badan dan meminta izin dari pimpinan untuk pulang meninggalkan pekerjaannya. Sesampainya di rumah, Emon baru menyadari bahwa dirinya tidak dapat masuk ke dalam rumah karena kunci rumah ada pada sang kakak, Dora. 

Niat untuk menghubungi Dora, harus dilupakan karena ketiadaan pulsa dan baterai ponselnya sudah habis. Untuk mencari bantuan tetangga, Emon berpikir bahwa para tetangga pasti tidak ada yang berada di rumah sebab setiap hari mereka pergi ke ladang dan baru pulang menjelang maghrib.

Alhasil, Emon terpaksa duduk di depan pintu rumah dan berharap sang kakak cepat pulang ke rumah. Tidak terasa dua jam waktu berlalu dan akhirnya Emon juga tertidur pulas di depan pintu, di atas lantai dingin.

Saat Dora tiba di rumah, dia merasa amat terkejut melihat Emon tertidur di depan pintu. Hatinya terkesiap, takut-takut jika adik tersayangnya menjadi korban kejahatan. 

Dora membangunkan Emon dengan mengguncang-guncangkan tubuh adiknya yang bersuhu tinggi karena demam.

Dora : “Dik Emon, mengapa kamu tidur di sini? Kamu tidak apa-apa, bukan?”

Emon : “Badan saya demam, makanya saya permisi pulang lebih awal. Setibanya di rumah, ternyata saya baru sadar, tidak membawa kunci rumah…”

Dora : “Oh begitu… Terus mengapa kamu tidak menghubungi saya…”

Emon : “Hape lowbat dan saya lupa mengisi pulsa… Sudah lebih dari dua jam saya menunggu kakak pulang…”

Dora : “Jika kamu bisa menghubungi saya, tentunya kamu tidak perlu menunggu hingga berjam-jam di sini…”

Emon : “Bukankah sama saja? Memangnya kakak boleh pulang lebih awal dari kantor hanya untuk membukakan pintu buat saya…?”

Dora tersenyum, lalu berkata : “Siapa bilang saya harus pulang ke rumah untuk membuka pintu untukmu? Jika kamu tahu, seharusnya kamu sendiri yang dapat membuka pintu rumah kita. Hari ini pintu rumah ini sengaja tidak saya kunci karena ada teman kakak hendak mengantar barang ke rumah…”

Setengah tidak percaya, Emon memutar handel dan mendorong daun pintu dengan perlahan. Ternyata benar, pintu itu langsung terbuka karena memang tidak terkunci. 

Emon bergumam : “Sia-sia saja saya menunggu hingga berjam-jam padahal pintunya tidak dikunci. Bodohnya diriku karena tidak mau mencoba untuk membuka pintu. Malah sebaliknya pasrah dengan situasi yang ada tanpa pernah mau berusaha…”

Emon tertawa : “Makanya kalau jadi orang jangan mudah menyerah. Pasti ada jalan keluar untuk semua masalah yang ada. Seandainya pintu depannya benar-benar terkunci, kamu dapat mencoba dari pintu belakang atau jendela. Atau seharusnya kamu dapat meminta bantuan dari orang lain….”

Emon mengangguk : “Iya, benar…. Saya salah, Kak…”

Sobatku yang budiman…

Kisah Dora dan Emon di atas, memberi pelajaran yang sungguh berharga tentang kehidupan yang sedang kita jalani.

Setiap masalah yang muncul, jangan disikapi dengan kepasrahan. Menganggap semua problem yang mendera hidup kita adalah takdir yang tidak dapat ditolak. Pasrah dan rela menjalani kegetiran dan kepahitan hidup karena kehadiran masalah tersebut.

Memang benar, kita tidak dapat menolak kehadiran masalah, namun yang dapat dilakukan adalah mencoba untuk menyelesaikan masalah yang ada, dengan hati dan pikiran yang jernih. Berupaya mengurangi dampak negatif dari masalah tersebut dan sedapat mungkin melenyapkan masalah tersebut dari hadapan kita.

Jika ada masalah yang sepertinya tidak selesai-selesai dan selalu “menghantui” serta membebani pikiran, jangan berkecil hati. Dalam kehidupan ini, pastilah terdapat banyak pintu untuk menyelesaikan masalah yang ada. 

Kita sendiri harus berusaha semaksimal mungkin untuk membukanya. Jika masih belum berhasil, cobalah meminta bantuan orang lain. Sering kali, Tuhan membantu kehidupan hamba-Nya, melalui tangan-tangan orang lain.

Marilah kita membuka pintu kehidupan untuk meringankan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Selamat membuka pintu kehidupan dengan ikhlas dan penuh percaya diri.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan  Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KISAH INSPIRATIF, RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s