“BURUK SANGKA”

<Rabu, 21 September 2016 OOR 07:18>

Seorang gadis muda bernama Dora sedang mengalami kegalauan setelah bertengkar hebat dengan kekasihnya semalam. Untuk menenangkan sekaligus menghibur hatinya yang gundah gulana, Dora berniat menghabiskan waktu di sebuah taman kota pada malam hati.

Di depan pintu masuk taman yang terang benderang karena berhiaskan lampu di seluruh penjuru taman, seorang penjual buku menawarkan barang dagangannya. Sebagai seorang penggila buku, Dora tertarik dengan sebuah buku yang berisikan cerita motivasi dan inspirasi. Dora berencana membaca di taman tersebut.

Untuk menemaninya membaca Dora membeli sebungkus roti kering. Berbarengan dengannya seorang pemuda kelihatan tergesa-gesa meninggalkan lokasi para penjual, dan secara tidak sengaja menyenggol buku yang sedang ditentengnya. 

Pemuda itu terkejut dan segera meminta maaf kepadanya. Namun Dora hanya mendengus dan pergi meninggalkan pemuda itu tanpa berkata sepatah katapun. Dia menganggap pemuda itu berniat tidak sopan kepadanya. 

Dora memilih sebuah bangku taman, yang berhiaskan lampu taman yang cukup terang sehingga dia dapat menikmati buku yang baru dibelinya. Sementara itu, tas sandangnya diletakkan di samping tempat duduknya.

Tidak berapa lama kemudian, seorang pemuda juga duduk di bangku taman tempat Dora membaca. Dora tidak memperhatikan keberadaan pemuda itu dan terus asyik membaca.

Secara tidak sengaja, mata Dora tertuju ke sebuah bungkusan kue dan kondisinya sudah dalam keadaan terbuka yang terletak di antara mereka berdua. 

Dora merasa heran, mengapa kue yang baru dibelinya tidak lagi terikat karet. Dia segera memindahkan bungkusan tersebut sehingga posisinya berada tepat di atas tasnya.

Ketika Dora mengarahkan tangannya untuk mengambil kue pertama, ternyata pemuda tersebut juga ikut mengambil sebuah. Dora merasa bahwa pemuda yang duduk di sampingnya sudah berlaku kurang ajar. 

Kontan Dora menatap tajam ke arah pemuda itu. Saat bertatapan mata dengan pemuda yang berkumis tipis itu, darah Dora berdesir.

Dora membatin : “Bukankah pemuda ini yang tadi sudah berlaku tidak sopan kepadaku, menyenggol buku yang baru dibeli hingga hampir terlepas dari genggamanku…”

Dora merasa sangat kesal namun dia tidak berkata apa-apa. Pemuda tersebut hanya mengangguk dan tersenyum kepadanya.

Dora hanya berpikir dan bergumam dalam hati : “Kurang ajar, lancang benar pemuda ini… Jika saya bukan orang yang sabaran, sudah kugebuk dia atas kenekatannya…”

Kejadian ini terus berlangsung. Untuk setiap kue yang Dora ambil, maka pemuda itu turut mengambil satu buah juga. Peristiwa ini memancing emosi Dora hingga ke ubun-ubun, namun dia berupaya untuk tetap sabar, tidak ingin menciptakan kegaduhan di dalam taman. Lagipula, Dora takut, jika pemuda itu benar-benar berniat jahat dan memanggil teman-temannya untuk mengganggu dirinya.

Tidak terasa kue yang ada di bungkusan tinggal satu buah. Dora berkata dalam hati : “Hmm… Sekarang saya ingin tahu apa yang akan diperbuat oleh pemuda yang tidak tahu sopan santun ini…”

Ternyata, pemuda itu mengambil kue yang tersisa, membelahnya menjadi dua bagian yang sama besarnya, memasukkan yang sebelah ke mulutnya dan meletakkan setengah bagian kue lagi ke tempatnya.

Dora benar-benar dalam kondisi marah besar. Dia tidak sudi berbagi kue yang tinggal sebuah tadi dengan pemuda asing yang tidak dikenalnya. Yang menjadi kekhawatiran Dora adalah masalah kebersihan tangan pemuda itu karena tangan pemuda sudah sempat memegang kue terakhir yang bersisa.

Dalam kemarahannya, Dora segera mengakhiri aktivitas membaca buku, mengemas barang-barangnya dan meninggalkan pemuda itu sendirian di bangku taman. Tidak lupa, Dora melemparkan lirikan mata yang amat tajam, tatapan mata yang tidak bersahabat kepada pemuda itu. Tidak ada tanggapan atas ketidaksenangan Dora, selain sebuah senyuman yang ditunjukkan pemuda itu.

Ketika sudah berada di dalam mobil, Dora merogoh ke dalam tasnya untuk mengambil handphone, dan…. Dora merasakan tangannya meyentuh sebuah bungkusan, yang ternyata adalah bungkusan kue yang baru dibelinya tadi. Sontak dirinya merasa amat terkejut. Bungkusan kue itu masih utuh, tertutup rapat dalam ikatan karet dan sama sekali belum tersentuh.

Hati Dora berdegub kencang. Dia merasa telah berbuat kekeliruan. Mukanya berubah menjadi merah. Rasa malu membuatnya turun dari mobil dan masuk kembali ke dalam taman untuk meminta maaf kepada pemuda asing tadi. 

Namun sayang, pemuda itu sudah tidak berada di dalam taman. Seorang penjual makanan mengatakan bahwa pemuda itu sudah berlalu dari taman, tidak lama setelah Dora keluar dari pintu gerbang taman dengan menumpang sebuah becak.

Sesampainya di dalam mobil, Dora bergumam : “Saya benar-benar lupa kalau kue ini telah saya masukkan ke dalam tas. Saya pikir, kue yang kami makan bersama adalah kue milikku, ternyata kue itu milik pemuda yang baik hati itu. Malahan pria itu rela berbagi kuenya denganku, tanpa merasa marah, terlebih-lebih saya pernah berlaku tidak bersahabat kepadanya. Saya sungguh malu telah menilai dirinya sebagai pria yang tidak tahu sopan santun. Sekarang sudah terlambat, semuanya sudah berlalu. Ini merupakan pembelajaran yang berharga bagiku…”

Sambil mendengarkan lagu dangdut “Jatuh Bangun” yang dinyanyikan oleh Kristina, Dora berkata dalam benaknya : “Seandainya pacarku dapat berperilaku gentle, sabar walau pernah disakiti dan menghargai wanita dengan baik, seperti pemuda tadi serta tidak banyak cakap terutama kepada kaum hawa, sungguh hidupku akan berbahagia sekali….”

Sobatku yang budiman…

Banyak orang lebih senang berperilaku kasar dan menampilkan mimik wajah yang tidak bersahabat kepada orang yang tidak dikenal. Kita boleh was-was akan terjadinya aksi kriminal, namun janganlah gara-gara faktor ketakutan kepada orang asing, membuat kita berkelakuan tidak ramah, tidak sopan dan bukan tidak mungkin kita akan dicap sebagai manusia yang angkuh.

Kadang kita terlalu mudah menghakimi semua orang asing yang ditemui sebagai orang jahat. Dan sebisa mungkin menghindari interaksi dengan mereka, padahal suatu saat nanti kita pasti akan membutuhkan bantuan mereka.

Senyum kita menjadi begitu mahal, suara ramah dan sopan milik kita seperti barang antik yang berharga selangit. Jika dibiarkan terus-menerus, maka ke depannya akan membentuk karakter pribadi yang buruk, tidak ramah dan cenderung sombong.

Seringkali kita menilai orang dari penampilan serta dari apa yang kita rasakan pertama kali. Kita tidak mau tahu penyebab mereka berbuat demikian kepada kita. 

Padahal saat kita menyadari sebuah kekeliruan sudah terjadi karena prasangka buruk kita kepada mereka, dan ingin meminta maaf, namun orang itu sudah tidak ada lagi, maka yang bersisa hanyalah perasaan bersalah dan penyesalan yang berkepanjangan. Tidak ada lagi kesempatan untuk menjelaskan kekhilafan yang terjadi karena ulah kita. Semua sudah terlambat.

Ada 4 hal yang tidak dapat kembali lagi yaitu, waktu yang sudah berlalu menjadi kenangan, kesempatan yang terlewatkan, perkataan yang sempat diucapkan dan hidup yang cuma sekali saja.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan  Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KISAH INSPIRATIF. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s