“FOKUS”

<Kamis, 15 September 2016 OOR 16:05>

Seorang pemuda bernama Opekiu, hidup dalam kesederhanaan. Walaupun berpenghasilan kecil, namun itu tidak menjadi halangan baginya untuk mereguk kebahagiaan bersama keluarga tercinta.

Lain halnya dengan temannya yang bernama Uvewe, merasa hidupnya selalu berkekurangan, padahal memiliki penghasilan yang jauh lebih besar dari Opekiu.

Saat tetangganya membeli mobil baru, Uvewe menjadi uring-uringan. Merasa “kalah” dengan tetangganya. Pikirannya mulai terganggu oleh nafsu keinginan untuk membeli mobil baru. 

Saat saudaranya merenovasi rumahnya, Uvewe merasa “tertinggal” dan berupaya untuk merenovasi rumahnya lebih baik dari rumah saudaranya. Dia merasa terlecehkan jika rumahnya kalah bagus. Pikiran negatif terus menghantui hidupnya.

Suatu ketika, Opekiu dan Uvewe bersama-sama pergi minum kopi di sebuah warung kecil di dekat rumah.

Saat pelayan mengantarkan dua gelas kopi untuk mereka, seketika wajah Uvewe menunjukkan perasaan tidak senang.

Uvewe : “Woi… Mengapa gelas saya lebih jelek dari punya temanku? Tidak bisakah kamu menyediakan gelas yang lebih baik atau minimal sama dengannya?”

Pelayan : “Maaf, gelas yang ada cuma bersisa dua saja. Kami kehabisan gelas bersih karena gelas yang kotor belum dicuci…”

Uvewe : “Warung macam apa ini? Kalau tidak punya modal membeli gelas, lain kali tidak usah buka warung…”

Pelayan mulai merasa tidak senang dengan ucapan kasar Uvewe, lalu menyindir : “Maaf Pak.., Atau saya ganti gelas ini dengan kantongan plastik berwarna cantik saja?”

Uvewe : “Tidak usah…!!!”

Pelayan itu melangkah pergi dengan memeletkan lidah ke arah Uvewe. Baru kali ini dia mendapatkan pelanggan “resek” seperti ini.

Melihat kejadian ini, Opekiu hanya tersenyum-senyum saja…

Uvewe : “Mengapa kamu cuma bisa tersenyum? Bukannya membela temanmu ini?”

Opekiu : “Kalau kamu benar, pasti akan saya bela…”

Uvewe : “Memangnya saya salah? Dimanakah letak kesalahanku?”

Opekiu : “Mata kamu itu salah fokus, yang menyebabkan pikiranmu tidak dapat berpikir rasional. Masak urusan gelas saja bisa membuatmu marah? Saat ini hidupmu sudah dirantai oleh keinginan dan rasa dengki yang tiada berkesudahan. Kamu tidak pernah dapat menikmati apa yang sudah kamu miliki… Hidupmu tidak akan bahagia…”

Uvewe masih mencoba untuk membela diri : “Salahkah diriku jika ingin mendapatkan yang terbaik dalam hidupku?”

Opekiu : “Tidak salah, tapi juga tidak benar. Semua bergantung kepada situasi dan kondisi yang ada….”

Uvewe : “Saya bingung dengan jawaban kamu…”

Opekiu : “Saya berikan contoh, dalam bekerja kamu boleh berusaha semaksimal mungkin, menjadi yang terbaik agar memperoleh gaji dan jabatan yang tinggi. Demikian juga saat kamu ingin mencari pasangan hidup, kamu boleh memilih yang terbaik menurut kata hatimu, namun di saat kamu sudah memilihnya atau bahkan sudah mempersuntingnya, jangan sekali-kali mencoba untuk mencari yang lebih baik…”

Uvewe : “Begitu yah…?”

Opekiu : “Lihatlah gelas ini… Walaupun bentuknya berbeda, apakah isinya berbeda? Ketika kamu tidak mendapatkan gelas yang bagus, perasaan kamu mulai terganggu. Secara otomatis, saat melihat gelas yang dipegang orang lain, kamu mulai membanding-bandingkan. Pikiranmu terfokus pada gelas, padahal yang kita nikmati bukanlah gelasnya, melainkan kopinya.”

Uvewe menyadari kekeliruan sikapnya selama ini. Hatinya tidak pernah tenang, selalu memendam rasa iri dengki dan ingin menjadi yang terbaik dalam segala hal. Apa yang disampaikan sobatnya, Opekiu telah membuka pikirannya yang selama ini terbelenggu oleh sifat buruknya.

Sobatku yang budiman…

Merupakan suatu kewajaran dan sesuatu yang sangat manusiawi jika kita menginginkan hal yang terbaik dan paling sempurna menurut kata hati.

Namun sesungguhnya jika kita tidak mampu mengontrol diri dan tidak membuat batas yang jelas, maka kita akan terperosok ke dalam kegelapan batin. Berubah menjadi manusia serakah, egois dan pendengki.

Hidup kita diibaratkan sebagai kopi yang berada di dalam gelas sedangkan gelasnya sendiri diibaratkan sebagai pekerjaan, jabatan dan kekayaan yang kita miliki.

Seringkali orang mengfokuskan diri pada gelas dan melupakan isinya. Jangan biarkan bentuk gelas mempengaruhi kelezatan kopi yang berada di dalamnya. Keberadaan gelas bukanlah yang utama, namun kualitas kopi, itulah yang paling penting. 

Banyak orang berpikir bahwa harta kekayaan yang banyak, karir dan jabatan mentereng, maupun usaha dan bisnis yang menggurita merupakan jaminan kehadiran kebahagiaan. Itu pemikiran yang kurang tepat.

Kualitas hidup seseorang bukan ditentukan oleh apa yang terlihat dari luar (penampilan), melainkan oleh apa yang ada di dalam batinnya (hati dan pikiran).

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan  Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KISAH INSPIRATIF, KISAH OPEKIU DAN UVEWE. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s