“MENEMUKAN KEBAHAGIAAN”

<Selasa, 13 September 2016 OOR 19:11>

Seorang pemuda bernama Sinchan merasa hidupnya sangat hambar dan tidak ada yang menarik. Menganggap dirinya selalu dirundung masalah yang tidak berkesudahan.

Sinchan tidak mengerti apa itu kebahagiaan, yang ada hanyalah rangkaian gerbong kesedihan dan kepiluan. Semua kejadian yang muncul dalam hidupnya tidak pernah membuatnya tertawa, bahkan hanya untuk tersenyum saja, rasanya seperti memakan obat terpahit sedunia.

Setiap hari, Sinchan bertemu dengan banyak orang yang sering bercengkerama dalam gelak tawa yang lepas, menyaksikan sekelompok anak-anak yang bermain dengan riang gembira dan mendengar banyolan atau candaan para pengojek yang mangkal di terminal. Namun semua peristiwa ini tidak mampu mengubah hidupnya menjadi manusia yang bahagia.

Pemandangan alam yang indah dan taman bunga yang dihiasi aneka bunga berwarna-warni serta sekelompok kupu-kupu yang berterbangan dengan eksotis, tidak juga mampu melumerkan hatinya yang terlanjur dibekukan oleh selaksa penderitaan.

Sebaliknya, Sinchan justru tidak mengerti, mengapa orang-orang di luar sana bisa tertawa-tawa bersama atau setidaknya mampu menunjukkan wajah yang gembira, seperti tidak pernah mengalami masalah dalam kehidupan mereka.

Walaupun selalu disuguhi oleh pemandangan alam yang indah dan wajah kegembiraan dari orang-orang yang dijumpainya, namun hati Sinchan tetaplah terkungkung oleh kesedihan.

Hingga suatu ketika, Sinchan terusik oleh sebuah pertanyaan sederhana : “Apa sebenarnya rahasia bahagia? Mengapa sampai sekarang saya belum juga mendapatkan kebahagiaan itu? Dimanakah saya harus mencarinya?”

Akhirnya Sinchan memutuskan untuk bertanya kepada siapa saja yang mungkin dapat memberinya sebuah jawaban, yang selama ini mengganggu pikirannya.

Di sebuah lapangan sepakbola, Sinchan bertemu dengan seorang bapak yang kelihatan bergembira saat melihat anak-anak sedang berlarian bermain bola dalam suasana penuh keriangan. Padahal lapangan itu sedang becek karena habis diguyur hujan lebat.

Sinchan : “Maaf Pak, saya ingin bertanya, dimanakah saya dapat menemukan kebahagiaan?”

Sang Bapak menjawab dengan heran : “Kamu hendak mencari kebahagiaan? Lihat saja anak-anak yang sedang bermain bola di atas tanah berlumpur. Begitu kocak saat melihat mereka berlumuran lumpur tanpa pernah sekalipun mereka merasa kotor atau takut sakit…”

Sinchan menolehkan pandangannya ke arah anak-anak yang sedang bermain dengan riang gembira, dalam keadaan kotor dan hampir seluruh badan mereka ditutupi oleh tanah lumpur. Namun, Sinchan sama sekali tidak mengerti, mengapa saat melihat anak-anak bermain, kebahagiaan itu akan muncul. Dia sama sekali tidak merasakan apa-apa.

Sinchan melanjutkan langkahnya kembali dan terus bertanya kepada orang-orang yang dijumpainya, dimana letak kebahagiaan itu. Namun yang selalu didapatnya hanyalah gambaran kegembiraan orang lain. Dirinya sama sekali tidak terpengaruh, tetap merasa sedih, kosong dan hambar.

Sebagian orang menganggap Sinchan tidak waras. Pikiran pemuda ini sudah “miring”. Bahkan mereka mulai merasa terganggu oleh Sinchan karena selalu mengajukan pertanyaan yang itu-itu saja. Tentang letak kebahagiaan.

Akhirnya, Sinchan berencana mencari seorang guru spiritual yang bijaksana bernama Opung Toba. Saat tiba di kediaman beliau, Sinchan melihat Opung Toba sedang tidur-tiduran di atas dipan, di bawah pohon rindang, sambil meniup suling. 

Karena segan mengganggu ketenangan Opung Toba dan merasa senang mendengar alunan suara merdu yang keluar suling, sejenak Sinchan diam terpaku dan menunggu hingga lagunya selesai.

Opung Toba menyadari kehadiran Sinchan, lantas bertanya : “Angin mana yang membawa dirimu hingga ke sini, anakku? Apa gerangan yang sedang kamu risaukan?”

Sinchan : “Guru, saya ingin mencari kebahagiaan… Dimanakah sebenarnya letak kebahagiaan itu? Mengapa saya begitu sulit untuk menemukannya?”

Opung Toba tersenyum, lalu mengajak Sinchan masuk ke dalam rumah gubuknya yang amat sederhana. Sebuah rumah yang dindingnya terbuat dari tepas dan beratapkan daun rumbia serta berlantaikan tanah.

Opung Toba : “Anakku… Kebetulan saat ini, saya sedang membuat suling baru. Coba kamu perhatikan dengan seksama, lihat bagaimana cara saya membuatnya…”

Tangan keriput Opung Toba dengan lincah memilih sebatang bambu dari sekumpulan bambu yang baru ditebangnya. Membersihkan bulu-bulu yang ada di permukaan bambu dan menggosok-gosok batang bambu itu hingga licin dan mulus.

Opung Toba : “Setelah membersihkan permukaan bambu, sekarang saatnya untuk meratakan dan melubanginya dengan teliti. Ukurannya harus sesuai dan lubangnya juga harus pas, agar nantinya menghasilkan alunan suara yang merdu…”

Sinchan : “Mohon maaf Guru… Saya ke sini bukan untuk belajar membuat suling bambu. Memangnya apa hubungan antara membuat suling dengan kebahagiaan?”

Opung Toba kembali tersenyum melihat mimik muka Sinchan yang mulai menunjukkan kekesalan : “Anakku… Jangan terlalu gampang marah sebelum mengerti dengan pasti makna yang tersirat dari sebuah pekerjaan atau peristiwa. Jika kamu masih berniat untuk mendengarkan penjelasanku, duduklah dengan tenang. Jika kamu merasa bosan, kamu boleh datang ke sini di lain waktu, saat dirimu sudah mempercayai diriku…”

Sinchan terkejut dengan kalimat tegas Opung Toba yang cukup menohok hatinya. Dia berpikir, tidak ada salahnya dirinya terus mendengarkan penjelasan guru yang terkenal sederhana dan kharismatik.

Sinchan : “Maafkan atas kekurangsabaranku. Mohon Guru melanjutkan penjelasan yang terpotong oleh ucapanku…”

Opung Toba : “Bahan utama suling berasal dari tanaman bambu, yang jelek dan tidak pernah menghasilkan bunga indah. Bambu sekecil ini, dapat menghasilkan suara alunan nada yang indah. Tahukah kamu dimana rahasianya…?”

Sinchan : “Deretan lubang-lubang kecil yang ada di permukaan bambu…”

Opung Toba : “Benar sekali… Kebahagiaan yang kamu cari itu tidak akan kamu temukan dimanapun selain di dalam hatimu. Pikiranmu sendiri yang akan mengendalikan hatimu. Untuk itu, buatlah lubang-lubang di dalam hatimu dan biarkan terbuka sehingga segala masalah yang ada di dalamnya dapat keluar dengan bebas. Saat inilah kita akan merasakan tubuh menjadi enteng, ringan dan akan berimbas dengan mudahnya kita menebar senyuman dan memamerkan sederetan gigi-gigi putih karena tertawa.”

Sinchan : “Bagaimana cara membuat lubang di hati? Menggunakan bor? Bahaya sekali, guru…”

Opung Toba tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban Sinchan yang polos.

Opung Toba : “Dengan tersenyum, kamu sudah memulai melobangi hatimu. Dengan tertawa, kamu telah membiarkan alunan suara merdu bersenandung keluar dari hatimu. Akibatnya hidupmu akan semakin berwarna…”

Sinchan mulai paham dengan wejangan yang disampaikan Opung Toba. Sejak saat itu, hidup Sinchan berubah seratus delapan puluh derajat. Senyum dan tawanya selalu hadir dalam kesehariannya.

Sobatku yang budiman…

Hidup ini selalu dipenuhi oleh masalah. Saat mereka datang, jangan hadapi dengan muka merengut. Hanya akan membuat kita menjadi cepat tua. 

Keengganan kita membuka hati dan membiarkan masalah yang terpendam di dalam hati, justru akan membuat kita semakin tertekan dan merana. Akhirnya kebahagiaan yang diimpikan tidak akan pernah hadir menjumpai kita.

Tersenyum dan tertawalah, agar masalah itu terlihat lebih ringan. Biarkan dia mengalir keluar dari lubang-lubang hati kita. 

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan  Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Kisah Inspiratif, Nasehat Opung Toba, Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s