“AYAH, ENGKAU LEBIH BERHARGA DARI UANG ITU”

<Senin, 12 September 2016 OOR 11:04>

Ayah Zuki sedang mengalami kesulitan keuangan. Bisnisnya mengalami kebangkrutan karena sebuah kesalahan fatal yang terjadi. Hutangnya membludak sehingga semua harta yang dimilikinya harus dijual untuk menutupi hutang-hutangnya.

Namun ternyata, setelah menjual seluruh hartanya, ayah Zuki masih menyisakan hutang sebesar seratus juta kepada Pak Kikuk. Beberapa kali Pak Kikuk berusaha menagih sisa hutangnya, namun selalu berakhir dengan janji-janji yang tidak pernah ditepati.

Hingga suatu ketika, saat berlangsung acara kumpul-kumpul keluarga, Pak Kikuk datang ke rumah dengan ditemani oleh seorang pengawal pribadinya yang bertubuh besar dan kekar.

Ketukan pintu yang bertubi-tubu disertai dengan teriakan, cukup mengejutkan seluruh orang yang berada di dalam rumah.

Zuki segera bergegas membuka pintu. Pak Kikuk dengan sangat kasar mendorong tubuh Zuki dan menyelonong masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam. 

Zuki merasa terkejut dan menarik kerah baju belakang Pak Kikuk seraya berkata : “Mohon untuk bersikap sopan jika berada di rumah orang. Seperti manusia tidak berpendidikan saja…”

Pak Kikuk membalas : “Saya pantas berlaku tidak sopan di sini karena ayahmu berulang kali menjanjikan waktu pengembalian hutang yang tidak pernah bisa ditepatinya…”

Zuki menoleh ke arah ayahnya sambil berkata : “Benarkah apa yang dikatakan bapak ini…?”

Ayah Zuki tidak berkata sepatah katapun, kepalanya tertunduk ke bawah, tidak berani membalas pandangan anak sulungnya yang akan melangsungkan pernikahan beberapa bulan lagi.

Pak Kikuk : “Lihat saja… Ayahmu tidak berani menjawab pertanyaan kamu. Dia pasti merasa sangat malu…”

Zuki : “Sudahlah, jangan banyak cerita. Sekarang kamu katakan berapa total hutang ayah semua….”

Pak Kikuk : “Seratus juta rupiah, dan hutang ini sudah berlangsung selama beberapa bulan.”

Sekali lagi Zuki mengalihkan pandangannya ke arah sang ayah. Namun tidak ada tanda-tanda ayahnya membantah adanya hutang kepada Pak Kikuk.

Lantas Zuki berkata : “Kamu tidak boleh mencari ayahku lagi. Semua hutang ini menjadi tanggunganku mulai dari sekarang. Paham…?”

Pak Kikuk : “Saya tidak mau tahu, yang penting hutang ini harus lunas. Atau saya akan menculik ayahmu…”

Zuki : “Siapapun yang berani menyentuh sehelai rambut ayahku, maka akan berhadapan denganku. Kamu jangan menjadi sok jagoan, atau hutang ini tidak akan pernah lunas selamanya…”

Akhirnya Pak Kikuk “menyerah” melihat keberanian Zuki. Dia tidak menyangka Zuki begitu berani menentangnya. 

Pak Kikuk : “Baiklah, sekarang saya mau menagih hutang kepadamu…”

Zuki : “Berikan nomor rekening kamu, saat ini juga saya akan mentransfer setengah dari hutang kami…”

Pak Kikuk tampak kegirangan, namun masih mencoba melakukan negosiasi : “Mengapa bukan mentransfer semuanya?”

Zuki : “Saat ini saya hanya memiliki setengahnya. Dua bulan lagi, silakan bapak datang untuk menagih sisanya semua….”

Setelah melakukan transfer uang melalui mobile banking, Pak Kikuk segera meninggalkan rumah ayah Zuki, sambil bersiul-siul penuh kemenangan.

Sepeninggal Pak Kikuk, suasana hening menyelimuti ruangan keluarga. Tidak berapa lama kemudian ayah Zuki berkata : “Maafkan diriku yang telah menyusahkan dirimu. Sebenarnya saya tidak ingin melibatkan dirimu dalam urusan ini. Tapi saat ini ayah belum memiliki kekuatan baru untuk melunasi hutang ini…”

Zuki : “Sebenarnya masih ada berapa banyak lagi hutang yang ada, ayah?”

Ayah Zuki : “Selama ini ayah telah berbohong kepadamu. Untuk melunasi hutang, ayah telah menjual mobil dan beberapa kapling tanah. Rumah inilah satu-satunya harta yang bersisa. Hutang ayah tinggal bersisa seratus juta…”

Zuki : “Okay… Tidak masalah ayah… Lupakan semua yang telah berlalu. Kita mulai dari nol lagi…”

Ayah Zuki : “Uang lima puluh juta itu… Apakah uang ini, yang akan digunakan untuk membayar sewa toko? Jika benar, bagaimana kamu akan mencari penggantinya? Toko kamu akan disita karena tidak membayar sewa…”

Zuki segera memeluk ayahnya dengan sangat erat disaksikan saudara-saudaranya yang lain. Dari tadi mereka tidak mengeluarkan sepatah katapun, selain hanya meneteskan air mata. Mereka percaya dan yakin sepenuhnya, Zuki akan dapat menyelesaikan permasalahan ini.

Zuki mencium kening ayahnya, lantas berkata : “Ayah yang paling kukasihi… Sesungguhnya kehormatan ayah jauh lebih tinggi dari uang tersebut. Saya percaya, segala sesuatu pasti akan digantikan oleh-Nya jika Tuhan berkenan memanjangkan usia dan menganugerahi kita kesehatan dan kekuatan baru.”

Zuki melanjutkan : “Saya adalah darah daging ayah yang tidak akan lekang oleh waktu. Ayah adalah pahlawan hidupku. Saya tidak tahan melihat kejadian tadi. Saat ini ayah sedang kesulitan, masih sanggupkah saya melihat penderitaan ayah? Saya pasti akan menyelesaikan semua tanggungan hutang yang wajib ayah bayar. Saya tidak mau melihat ada air mata yang jatuh dari pelupuk mata ayah, mata yang selama ini telah menjagaku hingga kini. Ayah jauh lebih berharga dari uang itu.”

Ayah Zuki merasa sangat terharu. Isak tangisnya pecah diiringi oleh tangis dari saudara-saudara Zuki yang lain. Mereka larut dalam keharuan yang begitu dalam.

Ayah Zuki : “Kejadian ini memberi pelajaran kepada kita tentang arti persaudaraan. Tidak sepantasnya, hanya karena uang, tali persaudaraan dan hubungan kekeluargaan menjadi retak, bahkan menjadi rusak dan putus. Mudah-mudahan Tuhan memberkati kita semua, memberikan jalan keluar terbaik bagi keluarga kita.”

Seminggu setelah kejadian itu, seorang sahabat lama Zuki bernama Zizi kembali ke tanah air setelah menimba ilmu di luar negeri. Berbekal modal yang diberikan orang tuanya dan simpanannya selama bekerja paruh waktu di luar negeri, Zizi mengajak Zuki memulai bisnis baru. Zuki menceritakan semua kejadian yang menimpa keluarganya, namun ditanggapi dingin oleh Zizi. Sahabat karib Zuki sejak kecil ini, tidak mempermasalahkan jika modal usahanya ditanggung olehnya dulu. 

Zizi sangat mengenal karakter dan perilaku Zuki yang sederhana, santun dan baik hati. Dia menaruh harapan besar kepada Zuki untuk merintis usaha dari nol. Pilihan partner bisnis jatuh kepada Zuki karena dia tahu Zuki adalah seorang “petarung” yang pantang menyerah dan dapat dipercaya.

Hanya dalam waktu setahun, bisnis mereka telah berkembang dengan pesat. 

Akhirnya, semua hutang yang diwariskan sang ayah kepadanya sudah terlunaskan. Sekarang Zuki sudah bertransformasi menjadi seorang pengusaha sukses yang rendah diri dan sering berbuat amal kebajikan.

Sobatku yang budiman…

Berbakti kepada kedua orang tua adalah bagian dari ketaatan yang paling mulia yang wajib dilaksanakan oleh seorang anak. Dengan berbakti kepada mereka maka segala rahmat anugerah akan diturunkan oleh Tuhan dan segala kesukaran akan disingkirkan dari kehidupan kita.

Saat masih diberikan waktu untuk mengabdi kepada mereka, lakukanlah dengan sepenuh hati. Waktu mereka tidaklah banyak lagi. Sebelum semuanya berakhir dengan penyesalan yang tiada berujung.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan  Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KISAH INSPIRATIF, RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s