“MERAWATMU HINGGA AKHIR HAYAT”

<Minggu, 21 Agustus 2016 OOR 19:17>

Seorang direktur perusahaan ternama bernama Emon, tiba-tiba mengundurkan diri dari jabatannya. Setelah didesak oleh para owner, akhirnya Emon mengungkapkan alasan mengambil keputusan yang mengejutkan karena ingin merawat isterinya yang sedang sakit.

Salah satu pemilik perusahaan amat menyayangkan sikap Emon, karena tenaga dan pikiran Emon masih dibutuhkan oleh perusahaan. Karir Emon sedang bersinar dan memiliki penghasilan sangat besar untuk ukuran pegawai biasa.

Pemilik perusahaan itu berusaha menahannya : “Kamu tidak perlu mengundurkan diri dari perusahaan hanya karena ingin merawat isterimu. Bukankah kamu dapat mempekerjakan beberapa orang perawat untuk mengurus seluruh kebutuhan isterimu. Gajimu sangat cukup untuk itu. Kamu dapat memberikan waktumu sepenuhnya setelah pulang kerja….”

Emon menggelengkan kepala sambil berkata lirih : “Terima kasih atas kepercayaan yang bapak dan ibu berikan kepada diriku. Saya dapat mencapai seperti sekarang ini karena perusahaan ini. Dulu saya hanyalah orang biasa, namun saat ini saya sudah menjadi orang yang sangat berlebihan, dipandang dari sisi harta kekayaan, namun hatiku tersiksa melihat kondisi isteri tercintaku…”

Pemilik perusahaan lain menyelutuk : “Nah… Kamu sudah tahu itu. So, mengapa kamu secara tiba-tiba ingin meninggalkan perusahaan ini? Apakah kamu termasuk golongan orang yang seperti kacang lupa pada kulitnya…?”

Emon : “Maaf… Saya bukan tipe seperti itu. Namun jika saya membiarkan isteriku berjuang seorang diri melawan penyakit yang dideranya, bukankah saya termasuk suami yang tidak tahu diri. Selama 30 tahun, isteriku selalu menemani, melayani dan mendampingi diriku, baik dalam suka, terutama dalam duka, tanpa pernah mengeluh. Saat ini beliau amat membutuhkan perhatianku di sisa-sisa umurnya. Mohon bapak dan ibu memaklumi keputusanku…”

Air mata menetes jatuh dari pelupuk matanya. Emon tidak mampu menahan rasa sedih tatkala memikirkan isterinya yang sedang menderita penyakit alzheimer yaitu sejenis penyakit berkaitan dengan gangguan fungsi otak, sehingga berkelakuan seperti balita yang tidak mampu berpikir “normal”.

Emon melanjutkan : “Saya mencintai isteriku sepenuh hatiku. Saya tidak tega melihat penderitaannya. Saya ingin beliau dapat berbagi rasa sakit untukku. Buat apa semua harta yang telah kuperoleh selama ini, jika saya mengabaikan isteriku? Bagaimana saya dapat bekerja dengan baik dan hidup bersenang-senang sementara isteriku hidup menderita?

Seorang pemilik perusahaan masih mencoba memberi argumentasi : “Kamu dapat mempekerjakan sebanyak-banyaknya perawat selama 24 jam sehari tanpa henti…”

Emon menjawab : “Puluhan tahun beliau mendampingiku tanpa pernah mengeluhkan rasa lelah dan sakit, apa mungkin saya saat ini tega membiarkannya bersama orang lain yang tidak dikenalnya? Isteriku membutuhkan cinta dan kasih sayang dariku bukan dari orang asing…”

Akhirnya semua pemilik perusahaan yang berkumpul tidak mampu menahan keinginan Emon. Dengan berat hati melepas kepergian pegawai yang sudah mengabdi untuk perusahaan sejak perusahaan baru berdiri.

Setelah tidak lagi berkantor di perusahaan, praktis seluruh waktu dan tenaga Emon tercurah untuk isteri tercintanya, Dora. Dengan hanya dibantu oleh seorang perawat, Emon benar-benar melayani dan memberikan kasih sayang untuk Dora. Emon memutuskan untuk merawat istrinya dgn tangannya sendiri, karena baginya Dora adalah wanita yang sangat istimewa baginya.

Penyakit Dora sudah sedemikian parah, tingkah lakunya sudah seperti seorang balita, tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Bahkan untuk makan, mandi dan buang kotoranpun, Dora harus mendapat bantuan dari orang lain.

Suatu ketika, Emon pernah kehilangan kendali emosinya. Saat Emon sedang membersihkan lantai karena Dora mengompol, secara tba-tiba Dora menyepak-nyepakkan kakinya ke genangan air seninya sendiri di atas lantai yang mengakibatkan air seni itu berserakan ke segala arah dan termasuk mengenai pakaian Emon. Basah dan menjadi bau.

Emon segera menepis kaki Dora untuk menghentikan aksi yang “jorok”. Secara spontan, Emon memukul-mukul betis dan paha Emon dengan cukup keras. Bekas merah jari tangan tampak terlihat di paha dan betis Dora. 

Setelah melakukan aksi pemukulan, Emon bagaikan tersadar dan merasa sangat menyesal. 

Sambil memeluk tubuh isterinya, Emon berkata dengan lembut : “Maafkan isteriku… Inilah pertama kalinya saya memukul dirimu dengan keras. Luka merah di kulitmu pasti tidak sesakit rasa hatimu ketika menerima perlakuan kasarku. Saat ini kamu amat membutuhkan perhatianku, saya justru terhanyut dalam emosi dan memperlakukan dirimu sedemikian buruk. Maafkanlah diriku…”

Emon melihat mata Dora yang memandang kosong ke depan seperti tidak mengerti apa-apa. Tatapan tiada bermakna dari Dora semakin membuat Emon merasa bersalah. Tanpa peduli apakah Dora mengerti atau tidak, Emon berkali-kali meminta maaf atas hal yang telah dilakukannya.

Hari ini adalah hari istimewa. Tepat 31 tahun lalu, mereka berdua mengikat janji untuk setia sehidup semati. 

Emon memandikan Dora dengan sepenuh jiwanya. Dia ingin melihat Dora terlihat bersih dan wangi. Walaupun Dora tidak mengerti apa yang dilakukan Emon, namun hal ini tidak menyurutkan niat Emon untuk menjadikan isteri tercintanya terlihat cantik di hari istimewa ini.

Emon juga menyediakan makan malam dengan menu kesukaan Dora. Dengan mata berkaca-kaca, Emon menyuapi Dora, sangat perlahan untuk memastikan agar Dora dapat merasakan kelezatan makanan.

Menjelang tidur, Emon mencium dan menggenggam tangan Dora lalu berdoa : “Tuhan yang baik… Saya tahu, Engkau mengasihi Dora lebih dari diriku. Di balik kebahagiaan yang tercipta hari ini, terselip sejuta kesedihan yang sudah membatu pada diriku. Jagalah Dora sepanjang malam ini, agar beliau dapat tidur nyenyak dalam peraduannya. Biarkanlah Dora mendengarkan nyanyian merdu malaikat-Mu. Berikanlah tempat ternikmat di setiap mimpi indahnya…”

Pagi harinya, setelah terbangun dari tidur lelapnya, Emon merasa ada yang aneh dengan wajah Dora. Parasnya begitu bersinar dan senyum manisnya mengembang dengan lebar. Sungguh cantik Dora pada pagu ini.

Namun…

Saat dirinya mengecup kening Dora, Emon merasakan sesuatu yang tidak biasa. Dingin dan wajahnya sedikit membiru. Bibir Dora memucat. Saat memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Dora, ternyata tiada lagi terasa detaknya.

Emon menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil berdoa : “Saya tahu semua ini akan terjadi. Terima kasih Tuhan atas kasih-Mu kepada isteri tercintaku. Biarkanlah Dora tenang di dalam tidur panjangnya. Mohon berikan tempat terindah di sisi-Mu. Semuanya akan kuserahkan kembali kepada-Mu…”

Sobatku yang budiman…

Semaikan benih-benih cinta kasih kepada pasangan kita setiap saat, di kala mereka masih mampu untuk menerimanya. Waktu dan kesempatan kita sangatlah terbatas.

Jangan sampai kita merasakan penyesalan seumur hidup karena terlambat melakukannya. 

CINTA SEJATI dapat dilihat dari seberapa besar PENGORBANAN yang diberikan untuk pasangan, bukan hanya dilihat dari seberapa banyak PEMBERIAN HADIAH MATERI kepada mereka.

CINTA SUCI adalah apa yang dapat DIRASAKAN oleh HATI yang MENERIMA, bukan apa yang masih DIPIKIRKAN oleh OTAK yang MEMBERI.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan  Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Kisah Inspiratif. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s