“JANGAN MENGANGGAP REMEH ORANG LAIN”

<Senin, 15 Agustus 2016 OOR 13:57>

Kami memiliki seorang teman yang bernama Zizi, berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Namun selalu berpenampilan “wah” dengan tas dan sepatu bermerek terkenal (ntah asli atau kw). Ada satu sifatnya yang kurang baik yaitu kegemarannya menyepelekan dan menghina orang lain.

Yang sering menjadi sasaran korban hinaan adalah seorang teman lain, bernama Yono. Berkacamata tebal, mirip pantat botol, mengenakan kaos oblong yang warnanya sudah memudar dan sepatu sport yang saya yakin sudah berumur tahunan.

Keseharian Yono yang sederhana dengan membawa botol minuman kemana-mana, sering mendapat cibiran dari Zizi. Walau beberapa kali telah diingatkan untuk menjaga omongannya, namun Zizi tetap saja tidak mengindahkan. Kalimat merendahkan orang lain terlalu gampang keluar dari mulutnya.

Hingga suatu waktu, kami berencana mengunjungi rumah Yono, karena sudah beberapa hari tidak terlihat batang hidungnya. Ponselnya juga tidak aktif. Kami khawatir terjadi sesuatu hal buruk terhadapnya. Setelah bersusah payah mencari informasi kesana kemari, akhirnya alamat rumah Yono, berhasil kami peroleh dari seorang teman yang lain.

Zizi : “Sebenarnya saya malas pergi ke rumah Yono. Takutnya saya tidak betah karena rumahnya kecil, panas dan berbau. Kalian kan tahu kalau saya tidak bisa tahan kalau ruangannya panas dan tidak ber-AC….”

Saya : “Kamu tidak boleh mencela orang seperti itu. Bagaimananpun Yono itu teman sepermainan kita selama ini. Dia itu baik dan tidak pernah menyusahkan kita sedikitpun…”

Teman-teman yang lain menganggukkan kepala, menyetujui pendapatku. Zizi tersenyum mengejek, namun tidak lagi mengeluarkan celotehan yang bernada cibiran.

Setelah berputar-putar mencari alamat yang dimaksud dan berkat bantuan petunjuk seorang tukang ojek yang menjadi langganan Yono, akhirnya kami sampai di depan sebuah rumah yang mirip dengan istana.

Dua buah tiang seukuran batang pohon berumur puluhan tahun dengan motif gajah sebagai penopang rumah dan sederetan pagar kokoh berwarna keemasan, menyambut kedatangan kami. Zizi sempat meragukan “istana” ini adalah kediaman Yono. 

Namun saat kami menekan tombol bel, muncullah seorang pemuda dengan berpakaian singlet dan celana boxer membuka pintu pagar. Itu adalah Yono. Ciri kesederhanaannya masih tampak terlihat walaupun tinggal di sebuah “istana” mentereng.

Dengan mimik wajah terkejut melihat kehadiran kami yang tiba-tiba, Yono “terpaksa” mempersilakan kami masuk ke dalam rumahnya. Ruang tamu bernuansa etnik adat Papua dikombinasikan dengan perangkat teknologi canggih menambah unsur kemewahannya. Semuanya serba modern dan lux. 

Yono : “Darimana kalian tahu alamat rumahku? Selama ini saya tidak pernah memberitahu kalian, bukan..?”

Saya : “Kami dapat alamat rumahmu dari temanmu Kinoy…”

Yono : “Oh yaa…yaaa… Kinoy sering sekali bermain ke rumahku. Padahal saya sudah berpesan agar jangan memberitahukan alamat rumahku kepada siapapun…”

Saya : “Kami mendesaknya dan alasan kami adalah ponsel kamu tidak aktif. Takut kamu kenapa-kenapa…”

Yono : “Saya sengaja mematikan ponsel karena mau menjaga rumah. Orang tuaku sedang meeting di Paris selama seminggu. Ntar saya tidak bisa menolak kalau ada yang mengajak keluar…”

Setelah mengobrol sejaman, kami semua diajak berkeliling ke rumahnya yang besar dan mentereng. Sebuah kolam renang ukuran jumbo terletak di halaman belakang. Selama berada di kediaman Yono, Zizi tidak banyak berbicara, namun sorot matanya memancarkan kekaguman atas keindahan “istana” Yono.

Sepulangnya dari rumah Yono, saat berada di dalam mobil, Zizi berkata : “Wah, rupanya si Yono itu anak orang kaya. Tajir benar anak ini. Tapi kok penampilannya biasa-biasa aja? Gak kelihatan sebagai anak orang kaya…”

Saya : “Makanya jadi orang jangan suka memandang rendah orang lain. Penampilan luar kadang dapat menipu. Kesederhanaan Yono patut menjadi teladan kita semua….”

Seorang teman saya menyelutuk, sambil melirik ke arah Zizi : “Walau kaya namun tidak suka pamer. Tidak seperti kita yang cuma orang biasa, namun suka memaksakan diri berperilaku seperti orang kaya…”

Kami semua terdiam. Larut dalam lamunan masing-masing…

Sobatku yang budiman…

Sebagian orang yang berharta banyak, justru lebih senang menyembunyikan kelebihannya melalui penampilan yang sederhana. Mengenakan pakaian ala kadarnya dan bersandal jepit untuk membebaskan diri dari rutinitas berjas tebal dan bersepatu mengkilat. Lebih senang bergaul dengan para kaum marjinal (orang yang kurang mampu).

Sebaliknya banyak orang yang berharta sedikit atau kurang banyak, justru berusaha tampil mengesankan dengan barang bermerek agar dianggap sebagai orang kaya. Lebih senang bergaul dengan kaum jetset yang tajir untuk menaikkan prestise-nya.

Jangan terperdaya oleh penampilan orang lain. Gunakanlah akal kebijaksanaan yang dimiliki untuk menghargai dan menghormati siapapun mereka tanpa mempedulikan status sosial, penampilan, gaya hidup dan kemampuan ekonomi.

Semua orang tidak akan mengetahui berapa lama akan berada di atas dan sebaliknya kapan akan terjun bebas hingga ke dasar penderitaan hidup.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan  Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s