“MENIKAH”

<Minggu, 31 Juli 2016 OOR 09:49>

Jika menikah hanya karena kecantikan atau ketampanan, maka saat sudah tua dan keriput, pasti akan dilupakan.

Jika menikah hanya karena kedudukan dan jabatan, maka saat sudah tidak menjabat, tidak memiliki kedudukan, turun dari “singgasana” karena dipecat atau sudah pensiun, pasti akan ditinggalkan.

Jika menikah hanya karena popularitas, maka saat tidak popular dan jatuh pamor, pasti akan dijauhi.

Jika menikah hanya karena nafsu birahi dalam menyalurkan syahwat, maka saat tidak dapat meladeni dan memberikan pelayanan optimal, pasti akan diselingkuhi atau diduakan.

Jika menikah hanya karena gelimangan harta kekayaan, maka saat jatuh miskin, bangkrut dan tidak mempunyai apa-apa lagi, pasti akan disepelekan dan diabaikan.

Jika menikah hanya karena belas kasihan, maka saat muncul kebosanan dan kelelahan, pasti akan dihina, dicerca dan disepelekan.

Jika menikah hanya karena unsur paksaan, maka saat terjadi perselisihan atau pertengkaran, pasti akan muncul kata-kata buruk yang melukai hati dan perasaan.

Namun…

Jika memilih pasangan untuk menikah karena cinta kasih dan ketulusan, maka hidup ini akan senantiasa dihiasi bunga-bunga kebahagiaan.

Sehingga saat membina mahligai rumah tangga, akan tercipta suasana harmonis, saling menghargai dan saling menghormati satu sama lainnya.

Setiap kekurangan akan dilengkapi. Setiap kelemahan akan ditutupi. Setiap kelebihan akan disyukuri sebagai karunia bonus kehidupan.

Sobatku yang budiman…

Dahulu, saat masih muda, masih jomblo dan belum menikah, kita dapat pergi ke mana saja dan kapan saja sesuka hati, tanpa perlu khawatir ada yang mencari dan mencemaskan keberadaan kita. 

Namun sejak menikah, ketika kita terlambat pulang atau tidak pulang sama sekali, akan ada sesosok anak manusia yang diliputi kecemasan dan kekhawatiran. Setiap saat melirik ke arah jam sambil berharap kepulangan seseorang yang disayanginya. Dan tidak jarang, akan membasahi bantalnya dengan linangan air mata.

Itulah arti pengorbanan dan rasa cinta yang begitu mendalam kepada diri kita. Sebab dia takut akan kehilangan belahan hatinya.

Yang terpenting, jangan mencari pasangan hidup yang sempurna, sebab waktu kita sangat terbatas. Jangan pula berharap dapat mempersunting pasangan hidup yang sesuai seratus persen dengan kemauan kita. Itu adalah mustahil.

Jika kita memang sudah membulatkan tekad untuk mencintai seseorang dan memiliki keinginan untuk melangkah ke jenjang pernikahan, sebaiknya kita harus meyakini diri sendiri bahwa pilihan kita itu tepat adanya. Sama sekali tidak boleh berpikir untuk mencari seseorang yang lebih baik dari pasangan kita..

Kesetiaan dan konsistensi hati kepada pasangan sangat diperlukan untuk melanggengkan pernikahan agar dapat bertahan hingga munculnya kehadiran anak cucu kita kelak. Dan hingga maut yang memisahkannya.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s