“PRO KONTRA RESHUFFLE KABINET”

<Kamis, 28 Juli 2016 OOR 14:25>

Setelah didengung-dengungkan selama berbulan-bulan mengenai Reshuffle Kabinet Kerja, akhirnya semua kesimpangsiuran berita terjawab sudah dengan pengumunan perombakan kabinet oleh Presiden Jokowi.

Sejumlah nama baru masuk ke dalam kabinet dan ada beberapa nama yang bergeser dari pos kementeriannya semula. Jatah menteri sejumlah partai pendukung pemerintah di kabinet juga berkurang. Hanya kader PDIP yang tidak diotak-atik. PDIP merupakan partai yang menaungi Jokowi, dan mengusung Jokowi pada Pilpres tahun 2014. Golkar dan PAN yang baru-baru ini menyusul mendukung pemerintah juga kebagian jatah menteri.

Banyak yang kecewa melihat terdepaknya beberapa nama yang selama ini dianggap telah bekerja dengan bagus, misalnya Anies Baswedan atau Ignatius Johan. Sejujurnya saya juga kecewa, karena kedua figur dari kelompok profesional ini bekerja cukup baik. Namun, mungkin ada pertimbangan lain dari Presiden Jokowi.

Anies Baswedan, seorang tokoh intelektual muda yang handal, kemungkinan dianggap lamban dan kurang mampu bekerja cepat mengikuti irama “rock n roll” yang didendangkan oleh Presiden Jokowi.

Sedangkan Ignatius Johan, harus menerima “getah” akibat kebijakannya yang terlalu maju dalam memutuskan sesuatu hal, mengakibatkan beberapa kebijakannya sering dikoreksi oleh pihak istana. Misalnya masalah gojek. Yang terakhir, yang masih nyata melekat di ingatan kita mengenai kemacetan parah di tol Brebes Timur (Brexit) dan kabarnya menelan korban belasan orang tewas. Padahal selama ini, tangan dingin beliau jelas terlihat dari perbaikan fasilitas bandara dan fasilitas perhubungan di seluruh Indonesia.

Dengan adanya perombakan kabinet ini, menunjukkan kedigdayaan Presiden Jokowi dalam memilih pembantunya. Namun, bagi sebagian kalangan, perombakan ini dianggap sebagai tekanan terhadap Presiden Jokowi dari parpol pendukungnya.

Nah, saya melihat sebaliknya. Presiden Jokowi justru sedang memainkan perannya sebagai tokoh sentral dalam sistem pemerintahan presidentil, dimana presiden memiliki hak prerogatif dalam memilih menteri pembantunya.

PDI-P dan parpol pendukung lainnya, tidak diberi sedikitpun peluang untuk “bermain”. Semua harus ikut dengan derap langkah beliau. Mereka tidak mampu berkata tidak ketika Presiden Jokowi memasukkan beberapa nama yang berasal dari parpol yang belakangan mendukung pemerintah.

Sebagian pengamat menilai, Presiden Jokowi tidak berani mengganti “puteri mahkota” PDI-P, Puan Maharani karena kiprahnya yang sama sekali tidak menonjol dalam kabinet kerja ini. Sebenarnya bukan tidak berani, namun Presiden Jokowi sebagaimana orang timur, masih menghargai partai yang sejak awal mendukungnya menjadi Presiden. 

Kalau begitu, berarti Presiden Jokowi masih berada di bawah bayang-bayang PDI-P? Ya iya dong, namanya masih kader partai, lain ceritanya dengan Ahok yang independen.

Namun, masih ingatkah kita bagaimana Presiden Jokowi menolak Budi Gunawan menjadi Kapolri dan hingga kini tetap menolaknya, dengan mengangkat Jenderal Tito Karnavian sebagai Kapolri saat ini? Atau menolak keinginan kader PDI-P menggantikan Menteri Rini Suwandi? 

Lain lagi ceritanya dengan si rajawali kepret, Rizal Ramli. Terdepaknya Rizal Ramli murni karena desakan Wapres Jusuf Kalla yang sempat tersinggung oleh ulahnya. Selain itu, Rizal Ramli dianggap kurang mampu bekerja sama dengan pejabat lainnya, selain hanya menimbulkan “kegaduhan” dan ketidakharmonisan hubungan antar pejabat.

Wiranto masuk ke jajaran kabinet untuk memperkuat barisan bidang politik dan keamanan, mendukung langkah Panglima TNI dan Kapolri dalam memberantas terorisme dan radikalisme yang sudah sangat membahayakan keutuhan dan kebhinekaan negeri. Bukannya Luhut tidak mampu, namun beliau yang berasal dari non muslim, akan mengalami banyak kesulitan jika dihantam dengan unsur SARA, seperti yang dialami oleh Gubernur Ahok.

Sri Mulyani, kalau yang ini, tokcer banget. Andalan Presiden Jokowi untuk memperkuat perekonomian dan keuangan negara. Juga sebagai prajurit garda depan untuk menyukseskan program Tax Amnesty. 

Sadar tidak sadar, kita harus memberikan aplaus tertinggi kepada Presiden Jokowi karena sanggup mengumpulkan “trio srikandi hebat” yang dimiliki Indonesia saat ini yaitu Menlu Retno Marsudi, Menteri Perikanan dan Kelautan, Susi Pudjiastuti dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Selain nama-nama di atas, kita masih awam dengan nama-nama anggota kabinet baru yang lain. Mari kita saksikan sepak terjang dan kiprah mereka dalam menunjang keberhasilan program nawacita.

Banyak yang mendukung dan banyak yang kecewa. Saya juga termasuk dua-duanya. Mendukung apapun yang diputuskan oleh Presiden, sebagai pemimpin sah negeri tercinta. Walaupun sekiranya yang menjadi presiden saat ini adalah Prabowo, H. Lulung, Ahmad Dhani bahkan seorang Jonru, asal terpilih melalui mekanisme pemilu yang demokratis, bukan sekadar pemilu-pemiluan.

Dan saya patut kecewa karena hanya berhasil masuk ke dalam filling kabinet (rak buku yang terbuat dari besi), bukannya terpilih sebagai menteri kabinet oleh Presiden Jokowi. Walaupun hanya sebagai menteri cuap-cuap.

Jadi, kita sudahi saja acara debat mendebat bagi yang pro maupun yang kontra. Mereka sudah mulai bekerja. Tugas kita sekarang adalah mencermati setiap tingkah laku dan kebijakan yang mereka buat, apakah benar untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia.

Jika dianggap berhasil, kita dukung kembali Jokowi menjadi presiden kedua kalinya untuk melanjutkan pekerjaan beliau yang belum selesai. 

Jika dianggap gagal, dendangkan saja lagu “Pilihlah aku jadi pacarmu. Yang slalu setia menemanimu. Yang lain belum tentu setia. Jadi, pilihlah aku… “. Loh kok…? Ngawur…!!!

#firmanbossini Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s