“JANGAN MINDER”

<Sabtu, 23 Juli 2016 COR 08:42>

Jangan minder ngekost di kamar berukuran kecil karena penghasilan masih belum selevel manajer, padahal teman-temanmu sudah ngekost di kamar berukuran gede dan ber-AC walaupun harus menghabiskan setengah dari gaji mereka sebulan. Sebab suatu saat nanti kamu akan memiliki rumah idaman yang besar dan asri sedangkan teman-temanmu masih menyewa rumah petak.

Jangan minder naik angkot atau sepeda motor jika kamu belum terlalu memerlukan mobil, padahal teman-temanmu sudah mulai kredit mobil meskipun gaji mereka pas-pasan. Sebab suatu saat nanti, kamu akan mengendarai mobil Mercedes Benz sedangkan teman-temanmu masih mengendarai mobil jadul yang mereka beli pertama kali.

Jangan minder makan di warteg padahal teman-temanmu selalu makan di kafe atau restaurant mahal. Sebab suatu saat nanti, kamu sudah memiliki cukup tabungan untuk makanan seumur hidupmu, mau di kafe maupun restoran termahal sekalipun sedangkan teman-temanmu harus mencari kerja sampingan untuk menutupi kebutuhan hidupnya.

Jangan minder setiap liburan panjang hanya menghabiskan waktu di kampung halaman, padahal teman-temanmu terbang ke luar negeri meskipun harus menggesek kartu kredit. Sebab suatu saat nanti, kamu dapat menikmati liburan ke seluruh dunia bersama anak cucu sedangkan teman-temanmu hanya melihat keindahan dunia dari internet saja.

Jangan minder menggunakan handphone jadul padahal teman-temanmu setiap bulan selalu gonta-ganti model handphone terbaru walau masih bergaji minim. Sebab suatu saat nanti, kamu sudah memiliki toko handphone sedangkan teman-temanmu sibuk mencari pinjaman untuk menutupi cicilan kartu kredit sambil menenteng handphone tercanggih.

Jangan minder membawa bontot ke tempat kerja, padahal teman-temanmu sibuk memesan makanan mahal via Gojek. Sebab suatu saat nanti, kamu sudah dapat menikmati masa pensiun dengan tenang sedangkan teman-temanmu masih bersusah payah bekerja penuh padahal badan mereka sudah renta.

Jangan minder membelikan calengan dan mengajarkan anakmu untuk menabung, padahal orang tua yang lain berlomba-lomba memanjakan anak-anaknya dengan fasilitas dan aneka mainan yang berharga selangit. Sebab suatu saat nanti, kamu tidak perlu lagi pusing memikirkan biaya kuliah anakmu di kampus favorit sedangkan teman-temanmu justru memaksa anak-anaknya bekerja dengan alasan pendidikan tidak penting, padahal alasan utamanya karena tidak memiliki dana cadangan pendidikan. 

Jangan minder setiap akhir pekan hanya menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta di rumah atau di tempat yang tidak memerlukan tiket masuk, sedangkan teman-temanmu pergi menonton bioskop atau berkaraoke ria bersama keluarga mereka. Sebab suatu saat nanti, kamu tidak perlu memikirkan hiburan karena semua sudah tersedia di rumah sedangkan teman-temanmu juga turut menghabiskan waktu mereka di rumahmu karena tiket nonton atau karaoke yang mahal.

Jangan minder dengan gaji 3 juta, namun kamu dapat menyisihkan dana 30 % sebagai tabungan hari tua, padahal teman-temanmu sudah bergaji 15 juta, namun tidak dapat mengontrol diri dengan pengeluaran juga sebesar 15 juta. Apa bedanya mereka dengan pegawai yang bergaji UMR yang tidak dapat menabung sama sekali? Saat terjadi sesuatu hal, misalnya dipecat, mereka yang bergaji tinggi, harus mencari uang sebesar 15 juta untuk menutupi kebutuhan hidupnya selama ini.

Sobatku yang budiman…

Abaikan pendapat orang yang mengatakan “uang tidak bakal dibawa mati, untuk apa susah-susah ngirit. Nikmati aja selagi masih hidup”. Pendapat ini tidak salah jika kamu langsung mati begitu uangmu habis. Bagaimana jika kamu masih hidup namun uang tabungan sudah nihil?

Banyak diantara kita terjebak oleh nafsu keinginan. Membelanjakan barang karena keinginan bukan karena kebutuhan. Pemasukan satu koper tapi pengeluaran dua koper. Akhirnya sibuk mencari pinjaman atau menggesek kartu kredit. Ujung-ujungnya, gali lobang – tutup lobang untuk memenuhi nafsu gaya hidup. 

Berhemat bukan berarti pelit atau kikir. Jangan pula hanya makan nasi putih berlaukkan telor mata sapi setiap hari. Atau tetap mengenakan pakaian yang sudah kumal dan luntur saat keluar rumah. Yang terpenting kebutuhan pokok dapat terpenuhi, sedangkan kesenangan yang lain dapat ditunda dulu demi memperoleh kesenangan yang lebih tinggi di masa tua kelak. 

Berhemat bukan berarti memaksakan diri untuk menabung sebanyak-banyaknya dengan mengorbankan kesehatan. Akhirnya tubuh menjadi cepat rusak atau aus dan tidak mampu lagi untuk mencari uang. 

Berhemat jangan asal berhemat, misalnya dengan menggembok lemari uang agar tidak ada uang yang keluar. Atau membuang kartu ATM yang menjadi sumber petaka pemborosan, sehingga setiap gajian, uang yang masuk ke tabungan tidak bisa keluar lagi.

Kita harus bijaksana, dapat memilih barang yang wajib dibeli dan barang yang dapat ditunda. Jangan tergiur dengan promosi diskon yang kadang menyesatkan.

Perilaku hemat pasti akan berujung kebahagiaan. Saat sudah memasuki masa pensiun, kita sudah memiliki dana yang cukup untuk bersenang-senang sembari menunggu perintah dari Sang Pencipta : “Wahai si anu… Kontrakmu sudah habis. Ayo kita pulang…”

#firmanbossini #inspirasi #motivasi               Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s