“RAJAKANLAH ORANG TUA KITA”

<Rabu, 20 Juli 2016 OOR 07:20> 

Seorang anak bernama Sinchan hidup bersama ibunya yang sudah renta. Oleh karena penyakit yang dideritanya, sekarang ibu Sinchan menjadi seorang cacat. Untuk berjalan dan melangkah, beliau harus ditopang oleh sepasang kayu penyangga yang diapit di kedua ketiaknya.

Suatu ketika, Sinchan berniat menitipkan ibunya ke panti jompo setelah perawat yang merawat ibunya berhenti bekerja. Dia merasa bahwa kehadiran ibunya saat ini sudah menjadi beban hidupnya. Tanpa meminta persetujuan ibunya, Sinchan meneguhkan hatinya dan melanjutkan niatnya.

Keesokan harinya, dengan mengendarai mobil, Sinchan mengantar orang tua yang telah menemaninya selama ini, ke sebuah panti jompo di pinggiran kota. Setelah berkomunikasi sejenak dengan pengurus panti, lalu Sinchan memapah ibunya ke dalam ruangan yang akan menjadi kediaman baru sang bunda.

Setelah merapikan tempat tidur dan memasukkan semua barang milik sang bunda ke dalam lemari, Sinchan memohon pamit dan berharap ibunya dapat menikmati kehidupan baru dengan tenang.

Sinchan : “Saya berjanji akan sering-sering menjenguk kemari. Ibu tidak usah khawatir, semua kebutuhan ibu akan diurus oleh pengurus panti ini… Saya akan mengirim sejumlah uang setiap bulannya…”

Ibu Sinchan : “Anakku yang paling kusayangi. Kamu tudak perlu mengkhawatirkan kondisi ibu. Justru ibu yang amat mencemaskan kehidupanmu saat ibu berada jauh darimu. Kamu sering sekali terlambat makan karena sibuk dengan pekerjaanmu. Kamu juga sering kelupaan meletakkan barang-barang penting di dalam rumah karena kamu adalah anak yang ceroboh, sering tergesa-gesa tidak karuan. Ibu sangat takut jika nanti hidupmu menjadi susah…”

Sinchan tercengang mendengar penuturan wanita yang telah membesarkan dirinya seorang diri, setelah ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan ketika Sinchan masih kecil.

Ibu Sinchan melanjutkan : “Sebelum ke sini, ibu sudah menanak nasi dan memasak beberapa lauk kesukaanmu. Makanlah yang lahap. Jika kamu rindu masakan ibu, kamu boleh membawa ibu pulang sebentar untuk memasak, setelah itu kamu kembalikan ibu ke sini lagi…”

Mata Sinchan kelihatan mulai memerah. Dia berusaha membendung air mata yang terlihat akan mengalir dari pelupuk matanya.

Ibu Sinchan membelai rambut anak kesayangannya sambil berkata : “Eh, ibu lupa bilang ke kamu… Ban sepeda yang kempes untuk olahraga minggu pagi, sudah ibu tambal. Kamu tidak usah sibuk-sibuk lagi mencari tukang tambal ban. Terus, karena pembantu rumah sedang cuti urusan keluarga selama dua minggu, maka sebagian baju kotormu sudah dicuci dan digantung di atas loteng. Ibu juga sudah membeli sebuah setrika baru dan beberapa gantungan baju karena alas seterika di rumah sudah hitam menggosong. Ibu juga….”

Sinchan tidak dapat lagi menahan keharuannya. Telapak tangan diarahkan untuk menutup mulut ibunya.

Dalam deraian air mata yang deras, Sinchan berkata : “Stoppp bu…. Stoppp… Saya merasa sangat bersalah karena berniat membuang ibu dari kehidupanku….”

Sambil memeluk erat ibunya, Sinchan berujar lirih : “Maafkan diriku yang tidak berguna ini. Saya adalah anak durhaka yang tidak tahu diuntung. Begitu besar pengorbanan dan kasih sayang ibu, akan menjadi sia-sia karena ulah bodohku. Ibu… Mari kita pulang ke rumah…”

Ibu Sinchan : “Terima kasih anakku. Jangan takut, sampai detik ini, rasa sayangku kepadamu tidak pernah berkurang sedikitpun…”

Sinchan segera mengemas seluruh barang bawaan ibunya untuk dibawa kembali ke rumah. Dirinya berjanji untuk merawat dan menjaga ibunda tersayangnya hingga ajal menjelang.

Sobatku yang budiman…

Orang tua itu bukanlah barang rongsokan yang dapat dibuang atau disingkirkan sesuka hati. Apalagi di saat mereka sudah lemah, pikun dan tidak berdaya. 

Saat kita mengalami kesulitan hidup, orang tua tidak pernah meninggalkan kita, meskipun kita pernah menyakiti dan bersikap kurang ajar kepada mereka. Batin mereka akan tersiksa di saat kita sedang kesusahan, walaupun selalu dibungkusnya dengan senyuman dan belaian.

Jangan pula mendekati orang tua dengan dalih hanya untuk menguasai harta dan warisan. Berpura-pura dalam kepalsuan hanya untuk kepuasan materi. 

Cobalah kita renungkan apa saja yang telah kita berikan kepada mereka. Sebandingkah dengan pengorbanan tulus tanpa pamrih yang mereka perbuat sejak kita masih di dalam kandungan?

Mereka yang terlalu sibuk dengan dunianya, dengan bisnis dan urusan pribadinya, tanpa memberikan sedikit kepedulian kepada kedua orang tuanya, pasti akan hidup dalam kesengsaraan kelak.

Beruntunglah mereka yang masih memiliki orangtua, sebab mereka masih memiliki waktu untuk berbakti, sebelum orang tua mereka kembali ke pangkuan Sang Pencipta.

Uang dapat dicari, ilmu dapat digali, namun kesempatan untuk mengasihi dan merajakan orang tua, tidak akan terulang kembali.

Rajakanlah orang tua kita, karena mereka memang pantas mendapat penghormatan dan penghargaan setinggi-tingginya dari kita.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Kisah Inspiratif, Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s