“FILOSOFI SAKIT”

<Rabu, 20 Juli 2016 OOR 08:45>

Seorang anak kecil bernama Epel, berusia sepuluh tahun, memendam rasa keingintahuan yang begitu besar terhadap sesuatu hal atau sesuatu kejadian yang tidak dimengertinya. Ayah Epel tahu benar tabiat puteri semata wayangnya, yang serba ingin tahu dan dibarengi dengan setumpuk kalimat pertanyaan bernada “cerewet” yang keluar dari mulut mungilnya.

Suatu ketika, ayah Epel menderita sakit demam, flu dan batuk. Penyakit musiman yang tidak diharapkan, sangat mengganggu aktivitas sang ayah. Untuk mempercepat penyembuhannya, ayah Epel berniat mengunjungi dokter langganannya.

Mendengar hal ini, Epel merengek ingin menemani ayahnya ke dokter. Dengan mengutarakan seribu satu argumen, akhirnya meluluhkan hati sang ayah.

Saat berada di klinik dokter, jari sang ayah disuntik dan diambil sampel darah, namun tidak sedikitpun timbul rasa takut di wajah Epel. Walaupun melihat gumpalan darah, mata bulat nan indah itu, sama sekali tidak berkedip. Rasa ingin tahunya mengalahkan rasa takutnya saat melihat darah segar. 

Setelah diperiksa, akhirnya dokter memutuskan untuk menyuntik sang ayah di bagian bokong. Epel ngotot untuk menemani ayahnya hingga ke samping pembaringan yang tertutup gorden.

Wajah lelaki bertubuh tinggi ini sedikit meringis, tatkala jarum suntik menembus kulit tubuhnya. Melihat hal itu, Epel menjulurkan tangannya untuk menggenggam tangan ayah tercintanya, seakan-akan mengatakan : “Jangan takut ayah, Epel ada di sampingmu…”

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Epel terus menerus menanyakan segala sesuatu yang masih mengganjal di pikirannya.

Epel : “Ayah, mengapa dokter harus melukai tubuh ayah dengan suntikan? Bukankah ini malah akan menambah penderitaan ayah? Padahal ayah dan semua pasien yang berobat ingin menghilangkan rasa sakit, bukan justru menambah rasa sakit yang baru..?”

Ayah Epel : “Anakku yang baik budi… Tidak semua rasa sakit atau rasa tidak enak, pasti akan menambah penderitaan seseorang. Jika percaya, banyak sekali rasa sakit baru yang muncul, justru akan menyembuhkan dan membahagiakan hidup seseorang…”

Epel : “Kok rasa sakit malah membuat orang sembuh atau bahagia…? Saya tidak mengerti maksud ayah…”

Ayah Epel menjawab pertanyaan puteri tunggalnya dengan tenang : “Sampel darah yang diambil dari jari ayah, bukan untuk menambah rasa sakit baru, namun bertujuan untuk mendiagnosa apa jenis penyakit yang bersarang di tubuh ayah. Sedangkan jarum suntik yang menembus kulit bokong sudah berisikan obat sebagai penawar sakit yang ayah derita. Walaupun, di kedua kulit tubuh ayah, muncul luka kecil, namun dalam hitungan hari semuanya akan kembali seperti sedia kala. Seiring dengan kesembuhan ayah…”

Epel menatap jauh ke depan menembus kaca depan mobil. Kepalanya mengangguk-angguk tanda mulai paham.

Ayah Epel melanjutkan : “Epel masih ingat ketika sakit dan disuruh oleh dokter untuk minum obat yang rasanya tidak mengenakkan di lidah. Waktu itu Epel meronta-ronta tidak ingin minum obat. Namun dokter memaksa agar Epel menghabiskan obat yang ada di sendok. Alhasil, Epel sembuh lebih cepat…”

Epel merenung, seakan membayangkan kejadian yang menimpanya beberapa waktu lalu.

Ayah Epel : “Masih ingatkah kamu, sewaktu diopname di rumah sakit? Tangan Epel sedikit berdarah ketika ditembus oleh jarum yang tajam, lalu para perawat dengan sangat tenangnya memasukkan selang cairan infus yang pasti rasanya sangat menyakitkan…”

Epel : “Tentu saja masih ingat ayah… Saat itu Epel merasa sangat ketakutan melihat jarum suntik masih menempel di tangan…”

Ayah Epel : “Walaupun tindakan itu terasa amat menyakitkan dan tidak mengenakkan, namun dokter terpaksa harus melakukannya agar Epel dapat segera sembuh dari sakit. Supaya Epel dapat kembali pulih dan bermain bersama teman-teman…”

Epel : “Sekarang saya sudah paham. Terima kasih ayahku…”

Sobatku yang budiman…

Sepenggal cerita di atas mengandung makna yang penting dan bermanfaat bagi kehidupan kita.

Dalam keseharian hidup, kita sering sekali mendapatkan rasa sakit yang ditimbulkan oleh perlakuan dan ucapan dari orang lain. Teramat sakit, membuat kita hampir patah semangat. 

Di sisi lain, seringkali sahabat, pasangan atau orang tua kita menegur dan memberi nasehat supaya kita berubah atau tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kita justru menganggapnya sebagai suatu “pukulan tambahan” yang menyakitkan. Bukannya mendengarkan, malah berusaha menghindari “obat” dari mereka dan menganggapnya sebagai racun yang dapat menghabisi kehidupan kita.

Padahal, jika kita dapat menahan rasa sakit sedikit saja, maka kita telah melewati satu tahapan menuju kesembuhan dan akan hidup normal kembali. Ambillah hikmah dan pembelajaran, bahwa rasa sakit yang muncul, tidaklah kekal adanya. Setelah menderita sakit pasti akan timbul kebahagiaan.

Seharusnya, berbagai peristiwa yang menyakitkan itu, dapat membangunkan kesadaran kita akan arti sebuah proses atau tahapan sebelum mencapai kesembuhan.

Untuk itu, hadapilah semua rasa sakit yang muncul…!!! Terimalah rasa sakit sebagai obat mujarab untuk membuat kita semakin dewasa dan lebih bijaksana lagi.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in FILOSOFI, RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s