“BELAJAR MENCUKUPKAN DIRI”

<Selasa, 19 Juli 2016 COR 18:51>

Alkisah, hiduplah seorang pria bernama Tobalik di sebuah kampung dekat perbukitan. Kesehariannya Tobalik mencari kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Suatu ketika Tobalik bertemu dengan seekor burung rajawali sakti. Begitu istimewanya burung ini karena setiap kotoran yang dikeluarkan berbentuk gumpalan emas.

Tobalik : “Sahabatku, cepatlah kamu membuang kotoran sebanyak-banyaknya. Saya akan menampung semua kotoran kamu di dalam ember besar. Mohon jangan buang ke tempat lain….”

Rajawali sakti : “Wahai petani… Saya hanya mampu membuang kotoran sekali saja dalam sehari. Selebihnya saya tidak sanggup…”

Tobalik : “Bagaimana jika saya memberimu makan setiap saat, mana tahu kamu dapat membuang lebih banyak lagi kotoran emasmu…”

Rajawali sakti : “Tidak mungkin… Seberapa banyakpun saya makan, saya hanya sanggup membuang kotoran sehari sekali…”

Tobalik : “Apakah kamu memiliki teman atau saudara yang sakti seperti kamu…?”

Rajawali sakti : “Tentu saja… Jumlah kami ada ribuan tersebar di seluruh dunia. Perlukah saya memanggil mereka semua untuk membuang kotoran ke rumah kamu…?”

Tobalik : “Ide yang bagus… Cepatlah kamu panggil semua teman dam saudaramu… Saya tidak sabar lagi menjadi seorang kaya raya seantero jagad…”

Rajawali sakti : “Kamu yakin? Bukankah emas yang kamu peroleh dariku sudah lebih dari cukup untuk membuat hidupmu serba berkecukupan…”

Tobalik : “Ohhh… Belum cukup… Tentu saja belum cukup….”

Keesokan harinya sang rajawali sakti membawa puluhan saudaranya ke rumah Tobalik dan membuang kotoran ke ember besar.

Hari kedua, burung ajaib itu kembali lagi dengan membawa seratus ekor burung rajawali sejenis. Hari berikutnya semakin banyak lagi burung rajawali membuang kotoran emas di sekitar rumah Tobalik.

Demikian seterusnya, hingga tanpa terasa, kotoran emas burung rajawali sakti sudah memenuhi seluruh halaman rumah Tobalik.

Rajawali Sakti : “Bagaimana wahai manusia kaya… Apakah kami sudah boleh berhenti dan mencari tempat pembuangan lainnya? Seluruh pekarangan rumahmu sudah tertutup oleh kotoran kami…”

Tobalik balas menyahut : “Jangan berhenti… Panggil seluruh teman-temanmu semua… Masih belum cukup… Masih kurang banyak…”

Lantas Tobalik menggali sebuah lubang besar untuk menimbun tumpukan emas-emas yang berasal dari kotoran burung rajawali sakti.

Masih kurang… Masih belum cukup… Tobalik membiarkan ribuan burung rajawali sakti membuang kotoran setiap hari. Semakin hari semakin banyak, hingga akhirnya Tobalik ikut tertimbun kotoran yang terbuat dari emas itu.

Tobalik tewas tertimbun bersama ketamakannya, karena dia tidak pernah dapat berucap : “Sudah Cukup”.

Sobatku yang budiman…

Janganlah bersekutu dengan keserakahan dan ketamakan sehingga sulit untuk mengucapkan sebuah kata “cukup”. Sesungguhnya kata “cukup” merupakan kata yang paling sulit diucapkan manusia.

Kita dapat melihat banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari. Jika ditanya, maka hampir semua pekerja pasti belum merasa cukup dengan penghasilannya, walaupun mereka sudah berhasil mengantongi penghasilan puluhan juta rupiah per bulan.

Demikian juga dengan boss perusahaan yang merasa keuntungan perusahaannya masih terlalu sedikit, belum cukup untuk memuaskan hatinya. Ingin menjadi konglomerat terkaya sedunia.

Lihat saja bagaimana, seorang isteri yang tidak pernah merasa cukup dengan perhatian suaminya, padahal sang suami hanya memikirkan keluarga dan pekerjaan saja. Sudah bekerja mati-matian demi kesejahteraan keluarganya.

Atau seorang suami yang merasa isterinya lebih mementingkan urusan kantor dibandingkan urusan keluarga. Betapa banyak anak-anak sekarang mudah sekali mengeluh karena orang tuanya tidak cukup banyak memberinya uang jajan.

Semua orang merasa kekurangan, semua orang merasa tidak cukup…

Begitu susahkah kita untuk berucap, “sudah cukup” atau “sudah lebih dari cukup”…?

Jangan menyangka bahwa dengan berkata cukup maka berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. Lantas hidup berleha-leha karena merasa tidak perlu ngotot mengejar sesuatu impian lagi.

Sesungguhnya cukup bukanlah masalah jumlah atau kuantitas. Cukup adalah masalah kepuasan hati atau kualitas. Dan, kata cukup sejatinya hanya dapat diucapkan oleh mereka yang dapat bersyukur.

Marilah belajar mencukupkan diri dengan sesuatu yang dimiliki hari ini, sehingga ke depannya, kita akan hidup berbahagia tanpa terbebani, dalam suasana penuh kedamaian.

#firmanbossini                                  #inspirasi #motivasi Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KISAH INSPIRATIF. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s