“BELAJAR DARI POHON KEDONDONG”

<Rabu, 13 Juli 2016 COR 09:50>

Seorang pria berumur dan anak tunggalnya yang bernama Sinchan tinggal di sebuah gubuk tua. Di halaman rumahnya terdapat beberapa pohon kedondong, memiliki daun hijau yang sangat lebat.

Mereka berdua sering kali bersantai di bawah pohon kedondong yang rindang sambil menikmati hembusan angin sepoi-sepoi.

Suatu ketika, mereka hendak pergi merantau ke kota selama beberapa bulan. Meninggalkan kampung halamannya untuk mencari penghasilan sebagai buruh bangunan ketika ada proyek pembangunan ruko. Meninggalkan kebiasaan bersantai di bawah pohon kedondong yang rindang.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya di kota, mereka akan kembali ke kampung halaman sembari menunggu panggilan lain dari mandor langganannya. Dan menjaga sepetak ladang miliknya.

Saat kembali ke rumah, Sinchan merasa terkejut melihat pohon kedondong miliknya yang meranggas kering, daun-daunnya jatuh berguguran. Pohon yang dulunya hijau rimbun saat ini kelihatan “botak” dan hanya menampakkan ranting-ranting dan dahan pohon saja.

Daun-daun kecoklatan berterbangan dan terhempas ringan di atas tanah. Lantai tanah terlihat penuh dengan daun lebar kering berwarna coklat muda yang berserakan. 

Dengan penuh penasaran, Sinchan bertanya kepada ayahnya : “Ayah, beberapa bulan yang lalu, pohon kedondong kita masih memiliki daun hijau yang lebat. Kita berdua dapat merasakan kesejukan saat berada di bawah pohon ini. Namun saat ini, keadaannya jauh berbeda. Seluruh daunnya rontok dan hampir tidak ada daun yang melekat pada ranting pohon. Mengapa hal ini dapat terjadi, ayah…?”

Ayah Sinchan menjawab : “Pada musim kemarau, matahari bersinar dengan amat terik dan hujan tidak pernah turun. Untuk mempertahankan dirinya, pohon kedondong ini harus rela menggugurkan daun-daunnya. Begitulah cara pohon kedondong ini untuk bertahan hidup. Menunggu saat yang tepat untuk memunculkan kembali dedaunan hijau…”

Sinchan : “Loh, bukannya daun sangat penting untuk proses fotosintesis, menyerap energi matahari sehingga bermanfaat menghasilkan energi bagi pertumbuhannya. Jika tidak memiliki daun, mereka tidak dapat berkembang dan akhirnya akan mati. Bukan begitu, Ayah…?”

Ayah Sinchan tersenyum, lalu menjawab dengan kalimat bijak : “Itulah kebesaran Tuhan yang ditunjukkan melalui pohon kedondong. Walaupun tanpa memiliki daun dan dianggap banyak orang bakal mati, namun sesungguhnya pohon kedondong ini sedang menempa dirinya menjadi pohon baru yang lebih kuat. Pohon ini tidak akan mati. Dia sedang bertransformasi dan sedang berpuasa, menempa dirinya untuk bertahan dari kehausan dan panasnya terik matahari. Pohon kedondong ini sedang ‘membuang masalah’ yaitu dedaunan yang akan membebani hidupnya sambil memperbaiki kualitas tubuhnya, sehingga dahan, ranting dan batangnya menjadi lebih kokoh”.

Sinchan : “Membuang masalah? Memangnya pohon mempunyai masalah?”

Ayah Sinchan : “Semua makhluk hidup pasti mempunyai masalah dalam hidupnya, terutama berkaitan dengan keberlangsungan hidupnya. Daun-daun yang begitu banyak menjadi sumber masalah di kala musim kemarau. Jika tidak digugurkan akan dapat mengganggu pertumbuhan pohon secara keseluruhan karena ketersediaan air yang sangat terbatas. Batangnya akan mati dan seluruh pohon juga akan mati juga”.

Sinchan mulai mengerti apa yang dikatakan sang ayah tercinta. Kepalanya mengangguk-angguk dan wajahnya tersenyum menampakkan sepasang lesung pipit yang indah.

Ayah Sinchan melanjutkan wejangannya : “Sama seperti tubuh kita. Jika ada masalah, segera gugurkan agar tidak membebani pikiran. Ada saatnya kita harus mengistirahatkan anggota tubuh kita. Saat merasa lelah, tidurlah. Saat merasa capek pikiran, pergilah bertamasya. Puasakanlah anggota tubuh dan jiwa yang selama ini telah bekerja tanpa henti…”

Sinchan : “Sekarang saya sudah mengerti, Ayah…”

Mereka berdua beringsut dari bawah pohon kedondong, melewati daun-daun kering yang berguguran dan menimbulkan suara garing yang memecah kesunyian. Akhirnya Sinchan mengambil inisiatif untuk menyapu sampah dedaunan kering yang bertebaran di atas tanah.

Sobatku yang budiman…

Bayangkan, pohon kedondong saja mampu menanggalkan sumber masalah yang mendera kehidupannya. Mengapa pula kita sebagai manusia yang memiliki akal budi dan pikiran, harus kalah dengan pohon kedondong?

Pohon kedondong tahu apa yang harus diperbuatnya. Dia tidak membuang akar atau batangnya melainkan menggugurkan daunnya. Dia mampu memilih secara benar dan memiliki prioritas hidup yang jitu. 

Untuk apa kita “memelihara” masalah yang memumetkan (memusingkan) pikiran? Membuat kita menjadi manusia tidak produktif. Pikiran capek. Tidur tidak pulas. Makan tidak enak. Berteman pun menjadi malas.

Saat masalah datang “menjenguk”, jangan lari atau bersembunyi. Hadapi dan selesaikan sesegera mungkin. Setelah itu, gugurkan dan buanglah jauh-jauh dari dalam pikiran. Sebab kehadiran mereka dapat menghambat langkah kita menuju kesuksesan dan kebahagiaan. 

Jangan biarkan masalah itu beranak pinak dalam diri dan justru akan menggerogoti tenaga dan energi lebih banyak lagi.

Jangan mengorbankan kebahagiaan hidup hanya untuk memikirkan hal-hal yang tidak berguna. Buatlah susunan skala prioritas yang benar.

Pada saat masalah mulai berlepasan dalam diri kita, maka hidup ini menjadi lebih tenang dan bahagia. Kebahagiaan itulah merupakan kualitas tertinggi yang diraih manusia dan sekaligus karunia terhebat dari Sang Pencipta. 

Dan tentunya, kita semua pasti ingin hidup bahagia.

Ayo, bangkit…!!!

#firmanbossini obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in FILOSOFI, RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s