“HIDUP BIJAKSANA”

<Minggu, 10 Juli 2016 COR 14:37>

Saat berada di mesjid, sudah tersedia sarung, mukenah, telekung, Al Quran dan sebagainya untuk memudahkan siapapun yang ingin bersembahyang atau sholat lima waktu.

Saat berada di gereja, sudah tersedia Alkitab bagi para jemaat untuk memudahkan beribadah, berdoa dan bersekutu dengan Tuhan.

Demikian juga di vihara atau di pura, tersedia dupa dan perlengkapan sembahyang untuk memudahkan para umat berdoa dan berinteraksi dengan Sang Pencipta.

Semua orang dapat menggunakan semua perlengkapan ibadah dengan santai dan sesuka kita. Namun, pernahkah kita peduli siapakah gerangan yang telah bermurah hati menyediakan semuanya, tanpa pamrih?

Suatu saat, ada orang yang tidak sengaja merusak sesuatu di dalam rumah ibadah. Karena keteledorannya, perlengkapan ibadah menjadi sobek dan tidak dapat dipergunakan lagi oleh umat yang lain.

Kita semua akan marah dan segera mencari tahu siapa pelakunya. Berusaha memaksanya untuk mengganti dengan yang baru tanpa peduli apakah dia melakukan kekhilafan dengan sengaja ataupun tidak sengaja.

Seringkali kita menghakiminya, tanpa mau tahu apakah uang di kantongnya bahkan tidak cukup untuk membeli sebungkus nasi untuk meredakan kelaparan yang sedang menimpanya.

Padahal sesungguhnya, semua perlengkapan ibadah itu adalah milik Tuhan yang telah dipersembahkan oleh umat yang berhati mulia. Bahkan yang bersangkutan saja tidak menuntut ganti rugi, mengapa pula kita yang harus sok-sokan menuntut pelaku?

Sobatku yang budiman…

Itulah cermin sikap yang dimiliki kebanyakan manusia belakangan ini. Saat menerima berkah dan sesuatu yang menguntungkan diri, semua orang sibuk mengambil berkah tersebut tanpa mau peduli siapa yang telah meringankan tangannya, mereka yang telah menyediakan segala sesuatu untuk kemudahan orang lain. Tidak banyak yang mau bersyukur dan mengucapkan terima kasih atas pemberian tersebut.

Namun saat kesulitan datang menimpa, maka semua orang akan berlomba-lomba mencari sumber masalah dan biang keroknya. Secara spontan, mereka akan meluapkan amarah dan menyalahkan orang lain tanpa berniat mencari solusi pemecahan secara bijak.

Patutkah kita jika hanya mau menerima semua yang baik-baik saja, tetapi tidak mau berlapang dada menerima sesuatu yang buruk?

Apabila suatu ketika kita mendapat “giliran” harus menjalani hal-hal buruk dan menyulitkan hidup, jangan menghindar apalagi harus mencari-cari alasan atas kejadian yang tidak mengenakkan hati tersebut. 

Jalani dengan tegar dan tetap bersyukur. Anggap saja sedang mendapat “pelatihan dan pembelajaran hidup” secara gratis. Simpel bukan…?

Sadarilah bahwa derap langkah kehidupan yang kita jalani bagaikan langkah sepasang kaki, merupakan satu kesatuan yang terdiri dari baik dan buruk, senang dan susah serta bahagia dan derita. Untuk itu hiduplah dalam kebijaksanaan.

So, enjoy aja…

#firmanbossini obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s