“FiLOSOFI SAMSAK UNTUK MERAIH KESUKSESAN”

<Selasa, 05 Juli 2016 COR 09:30>

Tahukah Anda apa yang dinamakan sandsack? Dalam bahasa Indonesia, sandsack dikenal sebagai samsak atau sansak.

Samsak adalah karung yang biasanya berisi pasir dan digantung di langit-langit atau di dinding sebagai sasaran latihan pukulan dan tendangan. Umumnya samsak memiliki bentuk seperti bantal guling.

Samsak merupakan alat bantu latihan bagi mereka yang menyukai olahraga keras seperti tinju, karate, taekwondo, muaythai dan olahraga bela diri lainnya. Bagi mereka yang tinggal di Eropa, samsak lebih dikenal dengan sebutan Punching bag.

Samsak ini digantung dengan menggunakan tali yang kuat dan sulit untuk terputus. Samsak akan tetap kembali ke posisi semula, walaupun dipukul dan ditendang sekuat apapun, serta oleh siapapun.

Samsak tidak pernah mengeluh atau berteriak kesakitan, justru rela mengorbankan dirinya menjadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan. 

Seringkali samsak dijadikan terapi penyaluran emosi. Daripada memukul orang dan dapat dipidana, bukankah lebih baik jika memukul samsak? Bebas memukul sepuasnya tanpa batasan waktu. Boleh dilakukan pada pagi, siang, malam atau bahkan tengah malam.

Sesungguhnya filosofi samsak dapat dijadikan referensi dalam menghadapi kehidupan yang serba tidak menentu. Kadang mengalami kesuksesan dan tidak jarang mengalami kegagalan.

Bagi kebanyakan orang, untuk meraih kesuksesan bukanlah hal yang mudah. Meskipun secara teori tidak terlalu sulit (buktinya saja bertaburan buku-buku kiat mudah menjadi sukses). Padahal kenyataannya, tidak semudah seperti yang dibayangkan. 

Sebelum mencapai kesuksesan, biasanya sudah “mengantri” yang namanya halangan, rintangan dan tantangan yang berujung pada kegagalan.

Sekali atau dua kali mengalami kegagalan, mungkin masih bisa diterima. Namun jika sudah berkali-kali mengalami kegagalan, walau sudah menggunakan berbagai cara dan jalan berbeda, tetap saja masih banyak orang yang tidak mampu bertahan dan akhirnya memilih untuk menyerah.

Berapa banyak orang yang berani untuk bangkit kembali setelah terjatuh berkali-kali? Berapa banyak orang yang sanggup terus maju melangkah meskipun terus-menerus mengalami kegagalan? Berapa banyak orang yang masih terus teguh berjuang meskipun sudah pernah kalah sebelumnya?

Tidak banyak orang yang seperti itu. Banyak orang justru lebih memilih untuk menyerah. Mereka tidak kuat ketika menyadari diri mereka terjatuh dan kalah. Bahkan tidak sedikit pula yang sudah menyerah kalah sebelum gendang perang ditabuh.

Adakah sesuatu hal yang seharusnya dapat dilakukan, tetapi kita malah memutuskan untuk berhenti? Cobalah renungkan kembali momen berharga yang bisa diraih jika saja kita memutuskan untuk tidak mengibarkan “bendera putih” tanda menyerah?

Sayangnya, momen berharga tersebut harus sirna karena kita memutuskan untuk mengaku kalah. Seharusnya sesuatu hal yang dapat membuat kita bangga dan berujung kebahagiaan jika berhasil tercapai, ternyata harus “terbang” begitu saja.

Apakah kita rela menukarkan impian yang begitu berharga dengan sebuah pengakuan bahwa kita sudah menyerah dan berhenti di tempat?

Jika demikian adanya, kita patut belajar dari filosofi samsak ini. Ketika samsak ini ditendang, dipukul, dihantam atau dihajar, ia tetap tegak kokoh kembali ke posisi semula. 

Samsak ini tidak mengenal kata menyerah. Tidak pernah merasakan kesakitan, mengeluh, lalu menjatuhkan dirinya ke lantai dan tidak mau bangun lagi. Sebuah samsak tidak peduli, walaupun dipukul ribuan kali namun ia tetap kokoh tergantung tanpa menyerah.

Sobatku yang budiman…

Jika ingin meraih kesuksesan, latihlah mental kita sekuat samsak. Jika berani bermimpi, harus berani untuk menerima kegagalan. Saat mengalami kegagalan, bangkitlah untuk melangkah kembali. Saratus kali kita terjatuh, bangkitlah kembali untuk yang ke seratus satu kalinya.

Orang sukses selalu bangun dan bangkit satu kali lebih banyak daripada ketika terjatuh. Sebaliknya, orang gagal bangkit satu kali lebih sedikit daripada jatuhnya.

Semoga filosofi sederhana ini mengingatkan kita untuk tidak mudah menyerah dalam menggapai impian. Tahan sedikit rasa sakit. Tetaplah berdiri walaupun mendapat pukulan yang bertubi-tubi. Pupuklah mental pantang menyerah sebelum semuanya tercapai.

#firmanbossini Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Filosofi, Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s