“BELAJAR LEBIH PEDULI”

<Selasa, 05 Juli 2016 OOR 17:49>

Saat sedang bersantai bersama isteri tercinta di sebuah kedai kopi, seorang isteri sahabatku menceritakan suatu kejadian yang baru saja dialaminya. Peristiwa yang membuatnya merasa sangat bersalah dan masih memendam perasaan menyesal hingga saat ini.

Ceritanya seperti berikut : 

Ketika berbelanja ke sebuah toko yang ramai dikunjungi pembeli, seluruh pegawai sibuk malayani pembeli. Kesibukan yang luar biasa, membuat beberapa pengunjung ada yang tidak terlayani.

Tepat di samping saya berdiri, saya melihat seseorang berpenampilan rapi dengan menenteng tas bermerek gucci, entah gucci beneran atau kw. Kepalanya menengadah ke atas seperti mencari sesuatu, yang belakangan saya tahu, dia ingin memastikan ada tidaknya cctv terpasang di toko ini.

Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, melihat ke arah beberapa pegawai yang sedang melayani pembeli. Seorang petugas satpam yang berada di depan pintu, sedang sibuk mengawasi lalu lalang pengunjung toko yang membludak.

Ibu muda yang menggunakan lipstik, eye shadow dan blast on tebal, pura-pura memilih baju yang berserakan di atas rak pakaian. Namun tetap dengan kepala yang melongok kesana kemari.

Tiba-tiba saja, ibu muda ini mengeluarkan sebuah cutter (pisau kecil) dan mulai menggoreskan cutter tersebut ke arah tas yang sedang disandang oleh seorang ibu berumur sekitar 40 tahunan, berdiri tepat di sebelahnya. Korban tidak menyadari kejadian yang sedang menimpanya, masih sibuk dengan aktivitas memilih-milih baju.

Mata saya tidak berkedip melihat kejadian yang membuat hatiku berdegub kencang. Ingin rasanya saya menghentikan aksi kriminal ini. Setidaknya melapor kepada korban atau kepada petugas satpam. Namun, saya masih belum akan bereaksi dan ingin melihat apa lagi yang akan dilakukan si pelaku.

Konsentrasiku tidak lagi untuk memilih pakaian. Mataku tertuju sepenuhnya ke arah pelaku. Tanganku semakin erat memegang puteriku, tidak ingin si kecil berada jauh-jauh dariku.

Saat berhasil mengambil sesuatu dari tas korban, pelaku baru menyadari bahwa saya sedang menperhatikan tingkah lakunya. Seketika pelaku memelototi diriku seakan-akan memperingatkan saya agar tetap diam dan tidak ikut campur dalam urusannya.

Seorang rekan pelaku yang berdiri di depan kami, menggerakkan jari telunjuknya ke leher, seakan mengancamku : “Jika kamu bertindak macam-macam, lehermu akan kugorok…” 

Pelaku juga mengarahkan telunjuknya ke arah anakku. Sebuah ancaman verbal yang membuatku menjadi gemetaran dan diam dalam kelu. Seperti dihipnotis dan terbujur dalam kekakuan.

Kedua pelaku segera berlalu dalam pandanganku, meninggalkan toko dengan tergesa-gesa. Meninggalkan diriku yang masih larut dalam bengong dan bingung.

Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara teriakan histeris dari ibu yang menjadi korban pencurian. Menangis sekuat-kuat sambil menunjuk ke arah tasnya yang sudah sobek menganga.

Saya tersadar, namun semuanya sudah terlambat.

Hingga saat ini, saya masih merasa bersalah karena waktu itu tidak mengambil tindakan apapun. Saya takut mengambil resiko untuk menolong ibu yang malang itu. Saya adalah seorang penakut yang memilih untuk diam. 

Usai menceritakan kejadian yang dialaminya, isteri sahabatku menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sambil terisak.

Sahabatku memandang diriku, seakan memintaku agar memberi saran dan nasehat untuk isterinya.

Saya tersenyum dan berkata lembut : “Semua pengalaman tentu ada hikmahnya. Jangan sesali yang telah terjadi. Kita hidup untuk belajar dan berusaha menjadi lebih baik. Belajar untuk lebih peduli dengan peristiwa yang terjadi di sekitar kita….”

Sobatku yang budiman…

Seringkali, kita berhadapan dengan situasi yang rumit seperti ini. Kita cenderung cuek dan apatis karena merasa apa yang terjadi di sekitar kita bukanlah tanggung jawab kita. Lebih memilih untuk melarikan diri, meninggalkan semua yang bukan urusan kita.

Saat melihat sebuah perbuatan curang dan merugikan orang lain, kita memutuskan untuk diam dan menghindar. Menganggap ada orang lain yang lebih berkompeten (berkepentingan) yang akan mengurusnya. Menganggap ada yang lebih berhak untuk memperingati dan menegurnya.

Ubahlah paradigma berpikir…

Kita harus belajar untuk mengambil peran demi sebuah kebenaran dan keadilan. Berlakulah bijaksana dalam menyikapi suatu permasalahan dan berani mengambil alih sebuah tanggung jawab.

#firmanbossini obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Kisah Inspiratif, Pengalaman Pribadi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s