“CARILAH SESEORANG”

<Minggu, 03 Juli 2016 OOR 11:40>

Saya mempunyai seorang sahabat, bernama Zuki. Beliau sedang mengalami kesulitan ekonomi karena baru saja kehilangan pekerjaan. Perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan.

Setiap kali bertemu dengan teman-teman, nasihat yang diterimanya, tidak jauh dari kalimat berikut : tetaplah bersabar, carilah Tuhan dan berserahlah kepada-Nya, maka semuanya akan dimudahkan. 

Suatu ketika, Zuki datang ke rumah, bertanya kepada saya, bagaimana menghadapi situasi pelik ini.

Zuki : “Bro, saya pusing. Bagaimana saya mau mencari Tuhan sedangkan untuk mencari sesuap nasi saja susahnya bukan main…”

Zuki merasa frustasi dan hampir putus asa. Dalam dirinya sudah tertanam keyakinan bahwa semua pendapat, kalimat motivasi dan inspirasi, renungan, nasihat, dan doa apapun, sudah tidak ada gunanya lagi. Pikiran negatif sudah menyelemuti dirinya.

Bahkan dia sudah mewanti-wanti diriku : “Bro, saya sudah kenyang dengan segala macam nasehat rohani. Tolong jangan ditambah-tambah lagi yah. Saat ini saya perlu makanan jasmani…”

Dalam hati saya berpikir, kemungkinan sahabat saya ini ingin meminjam uang. Namun, pikiran ini segera ditepis jauh-jauh, karena saya tahu sifatnya yang tidak suka meminta-minta ataupun meminjam uang. Hanya sayangnya saat ini nasib baik kurang berpihak kepadanya. 

Saya mengajak Zuki ke sebuah warung soto kesukaannya. Zuki sedikit ragu dan menatap mataku tajam-tajam, seakan-akan berkata : “Tolong jangan ceramahin saya lagi. Saya sudah muak…”

Saya bertanya : “Menurut kamu, apakah saya ini pantas untuk memberi nasihat kepada kamu? Jika kamu anggap tidak pantas, tidak apa-apa, kita hanya mengobrol ringan dan bercanda saja. Namun, jika kamu anggap pantas, ayo ikut denganku…”

Melihat ketegasan suaraku, Zuki pun mulai melunak. Dari posisi diam, Zuki mulai menganggukkan kepala tanda setuju, memperbolehkan saya untuk memberikan nasihat hidup untuknya.

Sesampainya di warung soto, kami berdua duduk berhadapan. Dua mangkok soto dan nasi putih menjadi sasaran santapan makan sore kami. Setelah kenyang, dengan ditemani kopi dingin, kami melanjutkan pembicaraan yang sempat terputus.

Zuki : “Bro, kali ini kamu yang bayar yah. Tapi jangan takut, saya akan mencatat berapa kali kamu mentraktir diriku, nanti pasti akan saya balas setelah bekerja …”

Saya : “Owalah, kok sampai segitunya? Kamu ini sahabat saya atau orang lain sich?”

Akhirnya kami berdua tertawa terbahak-bahak. Awalnya saya banyak bercanda, menceritakan sosok Abece yang koplak. Senyum dan tawa lepas keluar, seakan warung ini cuma ada kami berdua. Sejenak, sirna sudah kegelisahan yang selama ini mendera dirinya.

Saya memulai cerita : “Dulu saya pernah mengalami kesulitan yang hampir membuatku putus asa. Semuanya hilang dan sirna bahkan sesuatu yang pernah saya bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun harus rela kulepaskan. Tidak ada yang bersisa, justru yang ada tumpukan hutang yang melilit leherku. Dalam ketidakberdayaan menghadapi masa depan, saya pernah berpikir untuk mengakhiri semuanya. Segampang itulah pikiran yang muncul ketika merasa tidak memiliki harapan untuk bangkit dari keterpurukan….”

Zuki sedikit mengernyitkan dahinya, mungkin tidak menyangka diriku pernah mengalami hal yang sedemikiab pahit, jauh lebih pahit dari yang dialaminya sekarang.

Mata saya sedikit berkaca-kaca mengingat kesuraman masa laluku. Saya melanjutkan : “Bro, menurutmu apa yang harus saya lakukan setelah bertahun-tahun mengurung diri…?”

Zuki : “Tentunya kamu harus bekerja keras…”

Saya bertanya lagi : “Setelah bekerja dengan keras, namun tidak ada hasilnya. Lantas apa yang seharusnya saya lakukan?”

Zuki berpikir sejenak, lalu berkata : “Carilah orang yang bisa dimintai pertolongan, baik itu teman, sahabat ataupun saudara…”

Saya coba mengujinya lebih lanjut : “Jika mereka tidak mau menolong…?”

Zuki mulai menyolot dengan mimik muka yang lucu : “Jika kamu hanya berniat pinjam duit atau minta uang, tentunya mereka tidak akan menolong. Mintalah peluang atau kesempatan, niscaya mereka akan memberi jalan…”

Saya tersenyum : ” Tepat sekali… Kamu memang hebat…”

Zuki : “Loh, kan seharusnya saya yang minta tolong sama kamu… Kok malah kamu yang bertanya-tanya…”

Saya : “Sesungguhnya kamu sudah punya solusi atas permasalahan kamu, bro… Saya tidak perlu lagi memberi nasehat lagi. Kelihatannya kamu sudah move on…”

Zuki ikut-ikutan tersenyum, tanpa sadar kopi yang berada di hadapanya diseruput hingga habis. 

Zuki memanggil pelayan : “Mbak, tolong tambah satu gelas lagi, tidak perlu pake gula….”

Saya menambahkan : “Bro, mencari Tuhan itu bukan berarti harus mengurung diri dalam kamar, berdiam diri dalam tangis sambil meratapi nasib. Atau berdoa sepanjang waktu tanpa henti agar diberikan kemudahan dalam menjalani hidup….”

Berawal dari pembicaraan ringan di warung soto beberapa waktu lalu, saat ini Zuki telah sukses menapak karirnya. Sedikit demi sedikit dia mulai menikmati hidup normal dan bahagia bersama keluarga kecilnya.

Sobatku yang budiman…

Saat terpuruk, banyak yang lebih senang mengurung diri dalam kamar. Tenggelam dalam kepiluan yang berkepanjangan. Tentunya tidak ada hasil nyata yang diperoleh.

Sekadar untuk introspeksi atas kesulitan yang telah dialami sebelumnya, boleh-boleh saja. Tapi jangan terlalu lama hingga pikiran menjadi “berkerak”.

Selamat mencari seseorang yang kamu percayai dapat memberikan pertolongan, baik itu teman, sahabat dan saudara. Jangan melihat hartanya, namun lihatlah kebaikan dan ketulusan hatinya dalam memberikan kedamaian, kesejukan dan ketenangan hati.

#firmanbossini obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Kisah Inspiratif. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s