“PUJIAN DAN KEJUJURAN”

<Jumat, 01 Juli 2016 COR 11:42>

Seringkali kita mendengar kalimat puja dan puji terlontar dari mulut orang lain. Ada yang benar-benar terucap dari lubuk hati yang terdalam dan sesuai dengan kenyataan, namun tidak sedikit yang hanya sekadar berbasa-basi untuk menyenangkan hati kita.

Sangat manusiawi sekali, jika semua orang akan senang dengan kalimat pujian daripada kalimat yang bernada menghina atau menghujat. Siapa sich yang tidak senang dipuji?

Seorang penjual kosmetik yang pintar, akan sering sekali mengucapkan kalimat pujian, tatkala calon pembeli sudah mencoba kosmetik miliknya : “Wah, cantik sekali mbak ini… Kosmetik ini cocok banget dengan paras wajah mbak yang manis…”

Walaupun sebenarnya, dengan balutan kosmetik, wajah sang pembeli menjadi jauh lebih “mengerikan”. Namun karena tergiur dengan kalimat pujian, akhirnya sang pembeli berhasil diyakinkan oleh penjual untuk membeli kosmetik tersebut.

Dalam pergaulan sehari-hari, kita lebih senang bergaul dengan mereka yang senang mengumbar kalimat pujian dibandingkan yang cuek, apatis apalagi yang gemar mengeluarkan kalimat menghina atau mengejek.

Hati-hati….

Tidak semua kalimat pujian itu bermanfaat bagi kita, ada yang justru menjerumuskan kita ke jurang kehancuran. Terbuai dengan kalimat indah yang meninabobokkan nalar pikiran.

Pilihlah kalimat pujian yang dapat memacu dan melecut kita untuk hidup lebih baik. Buanglah jauh-jauh kalimat pujian yang cenderung mengarah kepada perbuatan “angkat telor”, yang berasal dari kepalsuan hati serta cenderung menguntungkan diri mereka dan merugikan kita.

Pujilah mereka yang pantas untuk dipuji. Jujurlah berkata kepada mereka, atas apapun yang terjadi, dengan kalimat santun. Jangan menutupi kejujuran dengan kalimat pujian yang malah dapat mencelakakan hidup orang lain.

Sobatku yang budiman…

Tidak semua kalimat indah itu selalu benar adanya, demikian juga dengan kalimat yang benar itu tidak selamanya indah untuk didengar.

Tidak ada seorangpun yang mampu mengubah sebuah kebenaran, namun sesungguhnya sebuah kebenaran kadang-kadang dapat mengubah kehidupan seseorang. 

Lebih baik disentil oleh kebenaran daripada dibelai oleh kepalsuan.

Hidup yang penuh dengan kebohongan dan kepalsuan akan lebih sulit dijalani daripada hidup yang diselimuti dengan kejujuran. Sebab, dibalik kebohongan, akan tercipta lagi kebohongan lain untuk menutupi kebohongan yang sebelumnya telah terjadi.

Bayangkan saja, jika satu kobohongan terkuak, maka orang lain tidak akan percaya dengan kita lagi, walaupun kita sudah berkata benar dan jujur. Bohong itu sering menyenangkan, namun lukanya akan sulit sekali untuk disembuhkan.

Kadang kejujuran itu memang terasa menyakitkan, namun yang pasti kejujuran itu tidak akan sampai membunuh orang lain, bukan?

Kejujuran itu sejatinya adalah hadiah anugerah terindah yang dimiliki manusia yang hidup berlandaskan tonggak kebenaran. Oleh sebab itu, mari jadikan kejujuran itu sebagai wujud kita yang asli.

Pujian itu penting, namun kejujuran jauh lebih penting dari sekadar untaian kalimat pemanis.

#firmanbossini      obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s