“KESOMBONGAN DIRI”

<Minggu, 26 Juni 2016 COR 10:08>

Seorang pengusaha kaya sedang berlibur ke suatu pulau terpencil yang indah nan eksotik. Dia merasa bosan karena sudah menginap selama beberapa hari dan bertanya kepada seorang nelayan, apakah masih ada pulau yang lebih indah lagi.

Orang kaya : “Dapatkah kamu membawa diriku ke pulau yang paling indah? Berapapun akan sanggup saya bayar. Jangan persoalkan masalah biaya, karena saya adalah orang kaya yang berkelimpahan harta…”

Nelayan : “Ada Tuan… Ada sebuah pulau yang sangat indah, namun untuk menjangkaunya kita harus melewati ombak yang cukup besar….”

Orang kaya : “Tidak masalah… Pilihlah perahumu yang paling besar dan bagus, antarlah saya ke pulau tersebut….”

Sepanjang perjalanan, orang kaya tersebut tidak henti-hentinya memandangi keindahan laut yang jernih membiru, deburan ombak-ombak yang saling mendahului, ikan-ikan berwarna-warni dan terumbu karang yang terpampang di hadapannya.

Orang kaya : “Lihatlah diriku yang kaya raya, mau kemanapun saya sanggup pergi… Bukan begitu Pak?”

Nelayan : “Bersyukurlah Tuan karena diberikan anugerah kemudahan dalam hidup. Sungguh beruntung nasib Tuan…”

Orang kaya : “Apa..? Kamu bilang semua yang saya peroleh adalah karena keberuntungan nasib? Untuk kamu pahami, saya berjuang siang dan malam, membanting tulang mengorbankan apapun untuk menjadi kaya… Kamu tahu apa sich…?”

Nelayan : “Bukan begitu maksud saya Tuan… Saya cuma iri dengan hidup Tuan yang enak dan bergelimpangan materi…”

Orang kaya : “Sekarang saya mau tanya, apakah perahu ini sudah menjadi milik kamu?”

Nelayan : “Belum Tuan… Saya masih menyewa perahu ini dari juragan…”

Orang kaya : “Wahh, amat disayangkan… Hingga usiamu sekarang, kamu telah kehilangan setengah dari seluruh kehidupanmu hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, bukan untuk menumpuk harta kekayaan…”

Sang nelayan diam saja mendengarkan celotehan sang orang kaya jumawa itu.

Orang kaya itu melanjutkan : “Apakah engkau mengerti tentang matematika dan perhitungan keuangan?”

Nelayan : “Tidak Tuan… Yang saya tahu hanya mengumpulkan uang sewa perahu dari turis, menyimpan uang hasil tangkapan ikan dan membayar sewa kapal kepada juragan kapal…”

Orang kaya : “Kamu tidak pernah membuat pembukuan..?”

Nelayan : “Saya tidak mengerti, Tuan. Yang penting bagiku, saya mampu membeli beras dari sisa uang yang saya kumpulkan setiap hari…”

Orang kaya menggelengkan kepalanya : “Sayang sekali, bahkan engkau tidak mengerti akan matematika dan akuntansi. Berarti kamu telah kehilangan lagi setengah kehidupanmu… Kalau dihitung-hitung, kamu sudah tidak memiliki kehidupan lagi… Hidupmu seperti robot dan hanya tinggal menunggu ajal menjemput…”

Sang nelayan menundukkan kepala dan seperti pasrah dengan apa yang dikatakan orang kaya yang sombong itu.

Dalam kebisuan mereka, tiba-tiba muncullah ombak besar bergulung-gulung menghantam perahu, membuat perahu kecil tersebut terombang-ambing ke kanan dan ke kiri. 

Sang nelayan berupaya mengendalikan keseimbangan perahu. Namun naas, beberapa bagian perahu telah dimasuki air. Kelihatan sekali, perahu mulai oleng dan akan segera tenggelam. 

Orang kaya tersebut merasa sangat ketakutan. Mukanya pucat paci dan seluruh tubuhnya gemetaran. Kedua tangannya memegang erat pinggiran perahu.

Sang nelayan bertanya kepada orang kaya : ”Perahu akan segera tenggelam… Apakah Tuan dapat berenang?”

Orang kaya tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan suara terbata-bata, pria yang memiliki banyak perusahaan besar, berkata : “Saya tidak bisa berenang. Mohon segera bantu saya… Jangan biarkan saya mati tenggelam…”

Nelayan itu tersenyum dan berkata : “Masak Tuan yang memiliki harta banyak tidak dapat berenang? Apalah arti hidup Tuan, jika saat ini harus mati tenggelam? Berarti Tuan akan kehilangan seluruh kehidupan Tuan saat ini…”

Sobatku yang budiman…

Janganlah menjadi sombong dan jumawa atas kelebihan yang dimiliki. Sebab tidak semua kelebihan dapat digunakan dan bermanfaat pada waktu dan situasi tertentu.

Sesungguhnya semua orang memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Bangga atas kelebihan dan prestasi itu merupakan hal yang wajar dan alami, tetapi jangan sampai takabur dan menjadi angkuh. 

Ingatlah, di atas awan pasti ada awan lain yang lebih besar. Di atas langit masih ada langit. Selalu ada orang yang lebih pintar dari kita. 

Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Dengan ketidaksempurnaan yang dimiliki, kita masih perlu belajar dari kelebihan orang lain.  

#firmanbossini obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Kisah Inspiratif. Bookmark the permalink.

One Response to “KESOMBONGAN DIRI”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s