PART 3 (TAMAT) : “AKHIR YANG MEMBAHAGIAKAN”

<Jumat, 24 Juni 2016 OOR 16:10>

Epel bersama ayahnya diam dalam kebisuan. Untuk memecah kebisuan, Epel pergi ke dapur, memasak air untuk menyiapkan segelas kopi buat sang ayah.

Saat Epel tiba di ruang tamu, ayahnya masih terlihat seperti merenung atau mengingat-ngingat sesuatu. Kedatangan Epel, menyadarkan ayahnya dari lamunan.

Ayah Epel tersenyum dan berusaha menjawab pertanyaan puteri semata wayangnya, yang mengganjal hati gadis manis berlesung pipit indah selama ini : “Anakku… Ayah sendiri tidak tahu mengapa ayah harus seperti ini. Dalam kebingungan, ayah memutuskan untuk memakai baju dan kerudung ibumu. Ayah berpikir, akan jauh lebih baik bila ayah berubah menjadi sosok perempuan dan meninggalkan jati diri sebagai seorang laki-laki. Ayah takut jika sewaktu-waktu keluarga besar ibumu akan mengambil kamu dari sisiku. Ayah tidak rela untuk berpisah denganmu…”

Ayah Epel menyeruput kopi yang disediakan Epel, kemudian melanjutkan : “Dengan berubah menjadi seorang ibu, ayah juga berharap orang-orang tidak berpikir buruk tentang kita. Jika kamu sudah besar, ayah khawatir mereka akan berpikir yang tidak-tidak. Saat itu, ayah berupaya mencari tempat berteduh untuk kita. Untunglah ada seorang ibu tua yang bersedia menawarkan tempat tinggalnya untuk kita tempati sementara waktu. Keesokan harinya, barulah ayah membawamu pergi, hingga akhirnya tiba dan menetap di sini…”

Epel berdiri dari kursi sofa dan duduk di sebelah ayahnya sambil menggenggam tangan lelaki tua yang mulai terlihat gurat-gurat keriput di wajahnya.

Ayah Epel melanjutkan ceritanya : “Dengan mengenakan pakaian ibumu, ayah terpaksa harus mengubah semua identitas dengan membuat KTP palsu. Walau tidak benar, namun ayah tidak punya pilihan lain. Semua ini kulakukan karena ayah tahu, kamu pasti lebih membutuhkan ayah sebagai seorang ibu…”

Epel menyela : “Seharusnya ayah tidak perlu bertindak seperti demikian. Saya merasa sangat kasihan atas kepasrahan ayah. Saya tahu betapa sulitnya harus mengubah semuanya menjadi wanita. Sungguh besar pengorbanan ayah selama ini…”

Ayah Epel : “Awalnya memang sulit sekali…. Ayah harus belajar merias diri, harus membiasakan diri berperilaku lembut dan mengubah suara agar mirip dengan suara wanita. Ayah hanya ingin membesarkan dirimu dan membuatmu bahagia. Ayah rela hidup dalam kepalsuan. Namun ayah juga khawatir jika sampai kedok ini terbongkar, kamu akan membenciku dan meninggalkan ayah seorang diri. Sekarang ayah sudah lega. Kamu sudah tahu semuanya….”

Epel : “Bolehkah ayah memenuhi permintaan Epel sekali ini?”

Ayah Epel : “Apa permintaanmu, sayang…?”

Epel : “Besok pagi kita pergi mencari ibu… Epel kasihan sama ibu… Epel menginginkan kita hidup bersama untuk pertama kali dan selamanya… Boleh yah…”

Ayah Epel : “Baiklah… Besok kita berangkat ke kampung ibumu… Apapun yang bakal terjadi kamu harus tabah dan mempersiapkan mental sebaik-baiknya…”

Keesokan harinya mereka berdua berangkat ke kampung ibu Epel. Kekhawatiran jika sampai diusir kembali masih menyeruak dalam kalbu ayah Epel. 

Sesampainya di sana, semuanya sudah berubah. Rumah besar yang ditempati oleh ibunda Epel sudah tidak kelihatan.

Berdasarkan informasi dari penduduk kampung, lima belas tahun lalu, banjir bandang menerjang pemukiman mereka. Hampir semua rumah hanyut tersapu air bah. Banyak penduduk yang menjadi korban, termasuk kakek, nenek dan beberapa orang saudaranya.

Untunglah ibu Epel tidak menjadi korban banjir. Namun keberadaannya, hingga kini tidak diketahui oleh para tetangganya.

Epel dan ayahnya merasa sedih sekali. Harapan untuk bertemu sang bunda sirna sudah. Asa yang menjadi impian, pupus ditelan waktu. Kebersamaan yang diharapkan berganti dengan cerita duka.

Akhirnya mereka pulang kembali ke rumah dengan tangan hampa…

Hari-hari dilalui Epel bersama sang ayah tercinta. Saat ini, setelah menamatkan kuliah, Epel telah menemukan seorang tambatan hatinya. Seorang pemuda yang berumur 3 tahun lebih muda darinya. Ayah Epel merasa bahagia, sebahagia perasaan Epel saat ini.

Hari terus bergulir. Pemuda alim yang santun itu berniat melamar Epel. Mereka merencanakan dua bulan kemudian akan melangsungkan pernikahan.

Saat acara lamaran, sang pemuda yang bernama Zuki, ditemani oleh ibunda dan beberapa orang kerabatnya. Rombongan mereka tiba di rumah Epel dan disambut oleh ayah Epel dan beberapa tetangga dekatnya.

Namun, sesuatu telah terjadi…

Tiba-tiba ayah Epel menjerit tertahan tatkala melihat sosok wanita yang merupakan ibunda Zuki : “Kaaamuuu… Anisaaaa…”

Wanita anggun yang menggunakan kebaya hijau tidak kalah terkejutnya, dan berseru : “Bang Budiii… Benarkah ini kamu bang…?”

Ayah Epel : “Benar… Saya adalah Budi, suamimu… Apakah Zuki anakmu? Kemana saja kamu selama ini..? Dimanakah suami kamu..?”

Ibunda Epel : “Zuki adalah anak angkatku. Saat banjir bandang melanda, keluarga Zuki semuanya wafat. Hanya tinggal Zuki sendiri sebatang kara. Karena merasa kasihan, saya mengajak Zuki pergi bersama dan membesarkannya hingga kini. Saya sendiri belum menikah…”

Ayah Epel : “Sungguh mulia hatimu… Saya sungguh kangen kepadamu… Ngomong-ngomong, bagaimana dengan lamaran ini? Apakah masih dimungkinkan?”

Ibunda Epel : “Cobalah kita tanyakan kepada orang yang dituakan, apakah lamaran ini diperbolehkan secara adat dan agama…?”

Setelah berembuk antar keluarga, akhirnya diputuskan lamaran ini dapat dilanjutkan, sebab Zuki dan Epel bukanlah saudara sedarah. Mereka bukan saudara kandung.

Akhirnya…

Setelah melalui perjuangan dan pengorbanan yang begitu lama dan melelahkan, keluarga Epel dapat bersatu kembali dalam satu ikatan keluarga yang harmonis. 

Sungguh mulia cinta kasih yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada Epel dan keluarganya. Berkat kesabaran dan keyakinan yang teguh, mereka dapat menempuh kebahagiaan yang seutuhnya selamanya…

“Tidak ada seorangpun manusia yang sanggup menebak Rahasia Tuhan…”

#firmanbossini obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in CERITA BERSAMBUNG. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s