PART 2 : “RAHASIA TERUNGKAP”

<Kamis, 23 Juni 2016 OOR 17:48>

Sementara itu, untuk menutupi biaya hidup keluarga, ibunda Epel juga menerima pesanan pembuatan baju dari tetangga sebelah, maupun dari penduduk kampung sebelah.

Saat malam tiba, ibunda Epel selalu mendampingi Epel dalam belajar, sambil melakoni kegiatan menjahit baju pesanan.

Hari berganti bulan. Bulan berganti tahun. Tidak terasa Epel sudah memasuki usia dewasa. Berkat ketekunan sang bunda dan juga ditopang dengan kepintarannya, Epel berhasil masuk perguruan tinggi negeri di kota.

Mereka berdua pindah ke rumah kontrakan yang sempit di kota. Untunglah, pemerintah daerah menyetujui permintaan ibunda Epel untuk pindah mengajar di sekolah negeri di kota. Sehingga mereka berdua dapat tinggal bersama lagi dalam satu atap.

Hingga suatu ketika, saat Epel tiba-tiba merasa sakit perut yang demikian hebat, memaksanya harus meminta izin untuk pulang lebih awal. 

Setibanya di rumah, dengan sangat tergesa-gesa Epel berlari ke kamar mandi untuk mengganti pembalutnya yang sudah penuh. 

Saat berada di depan kamar mandi, Epel berpapasan dengan seorang pria yang cukup dikenal wajahnya. Epel menjerit tertahan karena terkejut. Ternyata pria tersebut jauh lebih kaget, sehingga pakaian kotor yang sedang dipegangnya terjatuh ke lantai.

Dengan suara bergetar dan terbata-bata, sang pria yang tidak lain adalah ibunda Epel, memanggil lirih nama puteri tunggalnya : “Eee…Peelllll….”

Beliau berusaha meraih tubuh Epel untuk memeluk dan mendekap tubuh Epel. Tiba-tiba saja Epel merasa asing dengan pria ini. Batinnya masih belum dapat menerima kenyataan ini.

Tangan kekar berotot milik “ibunya”, ditepis dengan sangat kasar. Epel mendorong tubuh “ibunya”, kemudian berlari menjauh meninggalkan “ibunya” yang terbengong dalam kesendirian.

Suara jeritan tangis pilu terdengar : “Anakku Epel, kembalilah… Ini ayahmu yang kamu nantikan selama ini. Pulanglah anakku… Apakah kamu tidak menginginkan ayahmu lagi…?”

Malamnya, Epel memutuskan untuk pulang ke rumah setelah merenung seharian di sebuah danau indah. Epel ingin meminta penjelasan tentang semua rahasia kehidupan “ibunya”.

Saat tiba di rumah, “wanita” yang berjuang seorang diri membesarkan Epel hingga dewasa, menyambut kepulangan Epel dengan penuh kecemasan. Raut wajah kegelisahan terpancar dari wajahnya yang mulai berkeriput.

“Ibunda” Epel : “Kamu sudah pulang anakku… Saya amat mengkhawatirkan dirimu… Maafkan diriku…”

Tidak lagi terlihat air mata mengalir dari kedua pelupuk matanya. Namun muka sembab dan mata bengkak menunjukkan bahwa “ibunda” Epel baru saja “habis-habisan” menumpahkan seluruh air matanya hingga kering.

Epel : “Saya harus memanggil kamu apa? Ayah atau Ibu…?”

“Ibunda” Epel : “Mulai sekarang kamu telah memiliki seorang ayah… Panggillah ayah untukku…”

Epel : “Baiklah… Mulai saat ini saya akan memanggil ayah, bukan ibu lagi…”

Ayah Epel : “Makasih anakku yang paling kusayang. Apakah kamu masih marah kepada ayah..?”

Epel : “Sejujurnya saya masih marah… Mengapa ayah tega membohongi diriku selama ini…? Dimanakah ibu sekarang…?”

Ayah Epel menggandeng tangan puterinya untuk duduk di sofa yang sudah lapuk dan mulai bercerita : “Begini ceritanya… Dulu ayah dan ibumu yang cantik jelita dan menjadi primadona kampung, melakukan hubungan percintaan yang tidak direstui oleh keluarga besar ibumu. Namun dengan berbekal cinta yang tulus, kami berdua sepakat untuk menikah dengan ataupun tanpa persetujuan keluarga. Kami bertekad bulat untuk membangun rumah tangga sederhana dengan segala kemampuan yang kami miliki. Akhirnya ibumu meninggalkan keluarganya untuk hidup bersama ayah…”

Ayah Epel menarik napas panjang, lalu melanjutkan ceritanya : “Awalnya kami hidup sangat bahagia hingga ibumu melahirkam dirimu. Menjelang kelahiranmu, barulah diketahui ternyata ibumu menderita penyakit kanker. Ayah bingung setengah mati. Akhirnya ayah mengabarkan berita ini kepada keluarga besar ibumu. Mereka segera datang ke rumah sakit dan berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa ibumu….”

Epel tidak sabar lantas bertanya : “Ibu ada dimana sekarang? Apakah ibu masih hidup?”

Ayah Epel : “Lima tahun lalu, ayah mendengar berita bahwa ibumu masih baik-baik saja dan menetap di kampung halamannya…”

Epel : “Mengapa kita tidak mencarinya, ayah…?”

Ayah Epel : “Dulu, ketika kamu baru berumur beberapa hari, dan ibumu masih terbaring lemah di rumah sakit, mereka mengusir kita berdua. Mereka menganggap ayahmu adalah pembawa sial, hingga menyebabkan ibumu menderita kanker. Bibit kebencian timbul kembali karena sejak awal mereka tidak merestui pernikahan kami. Ayahmu ini adalah seorang yatim piatu dan hidup di panti asuhan…”

Ayah Epel melanjutkan : “Tanpa sempat memberi salam kepada ibumu, dengan sangat terpaksa ayah harus meninggalkan kampung ibumu. Ayah berjanji untuk membesarkan dirimu seorang diri..”

Epel : “Mengapa ayah tidak mencari ibu..? Mengapa ayah…?”

Ayah Epel : “Saat kamu berumur 4 tahun, ayah pernah mengajakmu mencari ibumu, namun kita berdua diusir kembali oleh keluarga besar ibumu. Bahkan dengan kejam mereka memprovokasi masyarakat setempat untuk menangkap dan memukuli ayah. Mereka menuduh ayah sebagai penculik bocah. Berkat bantuan seorang polisi yang mengenal ayah, akhirnya ayah berhasil dibebaskan dan dibiarkan pergi meninggalkan kampung. Dari jauh, ayah melihat ibumu menangis pilu mengiringi kepergian kita berdua…”

Epel : “Kasihan sekali ibuuu…. Saya ingin menjenguknya ayah…”

Ayah Epel : “Iya, ayah juga merasa kasihan dengan ibumu. Pernah terlintas di pikiran ayah untuk menitipkan dirimu ke panti asuhan tempat ayah tinggal dulu. Lalu ayah akan mencari cara untuk menculik ibumu…. Tapi ayah mengurungkan niat karena ayah tidak sanggup meninggalkan dirimu seorang diri. Ayah juga takut penyakit ibumu kambuh dan ayah tidak memiliki kemampuan untuk mengobati ibumu…”

Epel : “Ayah… Sampai saat ini saya masih belum mengerti mengapa ayah harus berpakaian seperti wanita? Mengapa harus berpura-pura sebagai ibu…?”

(Bersambung ke Part 3)

#firmanbossini obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in CERITA BERSAMBUNG. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s