PART 1 : “MERINDUKAN SOSOK AYAH”

<Kamis, 23 Juni 2016 OOR 12:37>

Dalam sebuah rumah sederhana, hiduplah seorang anak yang bernama Epel bersama ibunya yang berperawakan kecil dan selalu mengenakan kerudung kemanapun dia pergi.

Ibunda Epel adalah seorang guru yang mengajar di sekolah dasar negeri. Sehari-hari beliau menjalani aktivitas di sekolah satu-satunya di kampung kecil yang sebagian besar masyarakatnya adalah bertani, setelah mengurus semua keperluan Epel.

Walaupun ibunda Epel berperawakan kecil, namun tonjolan otot sangat kentara kelihatan dengan urat membiru di kedua lengannya.

Epel merupakan anak cerdas dan sering mendapat rangking pertama. Ibunda Epel merasa sangat bangga dengan prestasi puteri satu-satunya. Meskipun berasal dari keluarga sederhana, namun Epel dapat menunjukkan bahwa kesederhanaan bukanlah penghalang baginya untuk berprestasi.

Sejak kecil, Epel selalu mendapat perhatian penuh dari ibunda tercinta. Pendidikan karakter, kedisiplinan dan etika sopan santun selalu diajarkan oleh sang bunda dengan penuh kesabaran.

Saat menerima rapor kenaikan kelas, Epel melihat teman-temannya didampingi oleh kedua orang tuanya. Hal ini membuat Epel merasa sedih, karena dirinya hanya ditemani oleh ibunya.

Epel : “Bu, sebenarnya ayah ada di mana?”

Ibunda Epel : “Sudah berulang kali ibu katakan, ayahmu ada di dekatmu. Dia selalu memperhatikanmu. Dan satu lagi yang harus kamu ketahui anakku, ayahmu itu paling sayang kepadamu…”

Epel : “Mana ayah…? Ayah ada dimana..? Saya kok tidak melihat ayah..? Darimana ibu tahu ayah sayang kepada saya? Kalau sayang, mengapa tidak memeluk diriku…?”

Pertanyaan bertubi-tubi dati Epel membuat ibunya merasa sedih. Tanpa terasa air matanya menetes jatuh di pipinya. 

Sambil terisak, Epel berkata : “Ibu, dapatkah saya bertemu ayah sekali saja? Saya amat merindukan ayah… Apakah ayah masih hidup?”

Wanita yang biasanya murah senyum dan ramah kepada siapapun, tidak mampu lagi berkata sepatah katapun. Beliau hanya terdiam dan menangis pilu.

Epel terus mendesak ibunya : “Ibu… Saya mohon katakan dimanakah ayahku saat ini? Apakah selama ini ibu berbohong kepadaku? Jika ayah sudah meninggal, dimanakah makam ayah….? Tolong beritahu kepada diriku…”

Suara sesegukan terdengar dari mulut Epel. Dia merasa masih belum merasa puas. Masih ingin menumpahkan seluruh uneg-uneg perasaan yang selama ini terpendam di dalam hatinya.

Ibunda Epel : “Ayahmu masih ada… Suatu saat kamu pasti akan mengerti…”

Epel melanjutkan : “Saya tidak menyangka ayah begitu tega kepada kita. Saya telah berusaha semampuku menjadi juara pertama, namun jangankan sebuah hadiah yang menjadi impianku, sekadar menjengukku untuk mengucapkan kata selamat pun tidak pernah saya dapatkan. Saya benci kepada ayah… Saya tidak sudi mengenal ayah lagi… Mungkin sampai saya matipun, ayah tidak akan pernah mau melihat diriku… Aku benci kepadamu ayaaahhh….”

Ibunda Epel menundukkan kepalanya, tidak mampu melihat sorot mata Epel yang tajam. Air matanya terus menerus mengalir bagaikan cucuran air hujan dari langit.

Di lain pihak, Epel juga tidak mampu menahan laju air matanya lagi. Kemudian berlari mendekati dan memeluk ibunya dengan sangat erat.

Epel : “Ibu tahu kalau Epel tidak sanggup melihat air mata ibu… Berhentilah menangis… Saya tidak akan menanyakan masalah ayah lagi…”

Dalam tangisnya ibunda Epel berkata lirih : “Anakku yang paling kusayang seumur hidupku. Ibu tidak sanggup menjawab semua pertanyaanmu saat ini. Hanya dengan bantuan Tuhan lah, kita berharap semoga ayahmu bisa hadir dalam kehidupan kita. Ibu mencintai kalian berdua seumur hidupku…”

Malam itu Epel tidur dalam deraian air mata. Tiba-tiba saja dia merasa sangat kasihan kepada ibunya. Dia berjanji tidak akan membuat ibunya menangis lagi. Epel merasa sangat bersyukur mempunyai ibu yang begitu bertanggung jawab dan rela berkorban untuk dirinya.

(Bersambung ke Part 2)

#firmanbossini obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in CERITA BERSAMBUNG. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s