“NASI SUDAH MENJADI BUBUR”

<Kamis, 23 Juni 2016 COR 10:40>

Seringkali kita mendengar celoteh orang-orang di sekitar kita yang mengeluhkan kegagalan mereka memperoleh sesuatu yang menguntungkan dirinya. Semua harapan menjadi buyar dan meleset dari tujuannya disebabkan adanya kendala yang tidak dikehendaki.

“Ah, seandainya saya lebih cepat satu langkah, pasti proyek ini bakal saya dapatkan. Semua ini gara-gara jalanan macet…”

“Sungguh bodohnya diriku melewatkan kesempatan ini karena terlambat bangun sehingga saya gagal menggaet konsumen potensial itu…”

“Gara-gara hujan, saya gagal menjumpai Pak Budi untuk mendapatkan donasi kegiatan amal minggu depan…”

“Pesawat brengsek, gara-gara delay, saya tidak dapat bertemu dokter yang akan menangani penyakitku. Terpaksa, saya harus menunggu sepuluh hari kemudian setelah sang dokter pulang berlibur…”

“Apa sich maunya si Bedu?Gara-gara dia, atasan saya membatalkan promosi jabatanku…”

Beragam umpatan dan kalimat negatif muncul ketika kita mengharapkan dapat meraih sesuatu yang diinginkan, namun harus sirna karena timbulnya masalah yang tidak diinginkan.

Maka muncullah ungkapan kalimat menyerah yang penuh penyesalan : “Amat disayangkan… Semua terlanjur sudah terjadi. Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur…”

Lah, memangnya mengapa jika nasi sudah menjadi bubur? Toh, baik nasi maupun bubur tetap layak untuk dikonsumsi dan dapat mengenyangkan perut. Terkadang apa yang diperoleh, tidak sesuai dengan harapan dan impian kita. Jika memang nasi telah menjadi bubur, mau bagaimana lagi?

Kita tidak mungkin mengembalikan bubur menjadi nasi seperti sedia kala. Jauh lebih bijaksana, jika kita mensyukuri dan menerima semua yang terjadi dengan lapang dada. Mengeluh dan bersungut-sungut tidak akan menyelesaikan masalah.

Yang harus kita lakukan sekarang adalah mengolah bubur menjadi lebih enak dari nasi. Semua bergantung kepada diri kita sendiri. Pintar-pintar kita sendiri untuk mengolah sebuah musibah menjadi peluang yang berharga. Positive thinking aja…

Muncul ocehan lanjutan dari mereka yang sudah terlanjur patah semangat : “Enggak mungkin bisa lagi. Semua sudah terlanjur terjadi…!”

Jangan “cemen”…!!! Apanya yang tidak bisa? Masih ada jalan lain menuju Roma. Tersedia banyak jalur alternatif lain menuju ke “garis finish”. Jangan terpaku hanya pada satu jalan saja.

Contohnya, jika nasi yang sudah menjadi bubur maka kita dapat mengolah bubur putih tanpa rasa tadi menjadi selezat dan seenak nasi. Caranya, ambil kacang teri dan kerupuk, berilah abon ayam, iris daging ayam goreng dan tambahkan sedikit sayuran. Alhasil bubur putih tadi akan berubah menjadi bubur ayam yang nikmat. Sudah pasti lebih enak dari nasi… Jika mau berusaha, semua pasti ada jalan keluarnya.

Sobatku yang budiman…

Begitu juga dengan kehidupan kita. Jangan menyerah dan berlama-lama meratapi nasib. Ujung-ujungnya kita akan menyalahkan diri sendiri atau orang lain.

Terimalah kenyataan sepahit apapun. Hadapi dengan kepala tegak. Transformasikan kenyataan yang pahit itu menjadi sesuatu yang manis, yang akan bermanfaat di masa mendatang.

Percaya diri dan tingkatkan keyakinan bahwa kita pasti bisa. Bulatkan tekad untuk melangkah ke depan. Lakukan introspeksi diri untuk mengubah sesuatu musibah menjadi peluang yang lebih baik walaupun harus mengorbankan waktu dan tenaga ekstra lebih banyak.

“Bukan bahagia yang membuat kita bersyukur, namun bersyukurlah yang membuat kita merasa bahagia”

#firmanbossini obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s