“BERTAHAN PADA PILIHAN”

<Selasa, 20 Juni 2016 OOR 13:36>

Seorang anak gadis bernama Epel, sedang menjalin hubungan percintaan dengan seorang anak muda yang bernama Zuki. 

Diawali dengan pertemuan yang tidak disengaja di toko Buku Gramedia, penampilan Zuki yang sederhana namun beraroma tubuh wangi, mampu menimbulkan getar-getar asmara di hati Epel.

Gayung pun bersambut. Setelah saling menukar nomor ponsel, komunikasi keduanya berjalan intens dan lancar. Hampir setiap hari mereka melakukan percakapan melalui whatsup atau line.

Zuki terlihat begitu santun dan menghargai Epel selama mereka menjalani hubungan pacaran. Saat menjelang makan, Zuki tidak pernah lupa mengingatkan Epel untuk makan. Saat menjelang tidur, Zuki selalu mengumbar kalimat-kalimat mesra sebagai pengiring Epel menuju ke peraduannya.

Masa-masa pacaran yang mereka lalui begitu indah. Menjalani masa pacaran yang sehat dan sangat bermanfaat bagi keduanya untuk saling mengenal satu sama lain lebih jauh lagi.

Dengan selalu berperilaku santun dan bergaya penampilan yang menarik saat bersamanya, telah membulatkan tekad Epel untuk menerima pinangan Zuki menuju ke jenjang pernikahan. 

Awal pernikahan yang indah, membuat Epel merasakan kebahagiaan hidup yang luar biasa. Hari-harinya dilalui dengan kata-kata mesra yang dilontarkan oleh Zuki dibarengi dengan perhatian yang cukup membuat Epel merasa bagaikan seorang puteri dalam istana.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saat mereka memiliki seorang buah hati yang lucu dan imut, perangai Zuki sudah mulai berubah. Sebelumnya tidak pernah sekalipun, Zuki pulang larut malam, namun belakangan ini, dengan alasan lembur, Zuki tiba di rumah saat Epel dan sang buah hati sudah terlelap pulas.

Epel menyadari perubahan sikap Zuki, berusaha dengan santun menanyakan perihal kebiasaannya pulang larut malam. Zuki menjawab dengan enteng, bahwasanya pekerjaan yang menumpuk membuatnya harus lembur hingga selesai.

Pertengkaran kecil mulai timbul di usia pernikahan yang masih sangat belia.

Epel tidak tahu hendak berkata apa lagi kepada sang suami yang masih dicintainya.

Akhirnya, kepada sang bunda, Epel mengadukan semua kejadian yang terjadi di rumah tangganya.

Epel : “Bu, saya merasa sedih, mengapa suamiku sudah berubah? Apakah dia memiliki wanita lain selain diriku…”

Ibunda Epel : “Husshhh… Kamu tidak boleh ngomong begitu. Ntar kalo terdengar suamimu, urusan bakal tambah runyam…”

Epel : “Terus, apa yang harus saya lakukan agar sikap Zuki kembali seperti di awal-awal pernikahan…”

Ibunda Epel : “Begini anakku… Zuki adalah pilihan hidupmu. Apapun yang terjadi, kamu harus tetap setia dengan pasanganmu, kecuali jika dia terbukti berselingkuh atau melakukan tindakan kekerasan terhadap dirimu. Itupun tidak boleh serta merta kamu menghakiminya….”

Epel : “Wah… Kalau begitu saya salah yah bu…”

Ibunda Epel : “Kamu merasa bersalah? Apakah kamu pernah berbuat sesuatu yang menyinggung perasaannya…?”

Epel : “Saya merasa tidak pernah melakukan hal tersebut. Hari-hariku hanya diisi dengan mengurus si kecil dan rumah…”

Ibunda Epel : “Jadi siapa yang mengurus suamimu…?”

Epel : “Lah, kan dia sudah dewasa, bisa melakukan semuanya sendiri…”

Ibunda Epel : “Anakku, kamu tidak boleh berpikir demikian. Sudah merupakan kodrat seorang isteri untuk mengurus, suami, anak dan rumah dengan sebaik-baiknya, dengan penuh ketulusan dan keikhlasan…”

Epel diam berusaha mencerna kalimat demi kalimat yang disampaikan ibunda tersayang.

Ibunda Epel melanjutkan : “Memang terasa kurang adil, jika melihat begitu beratnya beban yang dipikul seorang isteri, namun kamu tidak boleh mengeluh. Ibu, mau tanya, apakah kamu pernah menyiapkan teh atau kopi di pagi hari? Pernahkah menyiapkan pakaian untuk suamimu…? Pernahkah di siang hari menanyakan suamimu sudah makan atau belum…?”

Epel : “Tidak pernah, Bu…”

Ibunda Epel : “Jika belum, cobalah mulai melakukan yang ibu bilang tadi. Lakukanlah dengan tersenyum… Lihatlah dampaknya bagi kehidupan keluargamu…”

Epel : “Baik, Bu…”

Ibunda Epel : “Apakah saat ini kamu masih mencintai suamimu? Apakah kamu masih menganggap Zuki sebagai seorang yang bertanggung jawab?”

Epel : “Saya masih cinta kepada Zuki… Dia itu suami yang baik, Bu… Setiap malam, dalam kantukku, saya melihat dia mengganti popok dan menyediakan susu buat si kecil… Saat saya sedang tugas di luar kota, Zuki bersedia untuk menjaga dan menemani anak semata wayang kami… Dia sungguh baik… Tapi belakangan ini mengapa dia sudah berubah…?”

Ibunda Epel : “Anakku yang paling kusayang, pandanglah kebaikan suami dan tutupilah kekurangannya dengan kasih sayangmu. Sekeras apapun hati seorang pria, pasti akan luluh oleh perhatian dan cinta kasih…”

Epel mulai meneteskan air matanya…

Ibunda Epel : “Pulanglah… Sambutlah ketibaannya di rumah dengan pelukan dan ciuman mesra… Ibu yakin, kalian adalah pasangan yang bahagia. Masih ada waktu puluhan tahun lagi buat kalian berdua untuk menempuh bahtera rumah tangga. Masih ada ratusan bahkan ribuan masalah yang pasti akan menghadang langkah kebersamaan kalian. Tetaplah tegar dan tersenyum… Pilihanmu adalah hidupmu…”

Sesampainya di rumah, Epel menyiapkan handuk dan air panas, sambil menunggu kepulangan Zuki. Makan malam telah disediakan dan setangkai bunga mawar merah diletakkan di atas meja makan. Epel mengenakan pakaian tidur yang bersih dengan lumuran bedak wangi di sekujur tubuhnya.

Saat Zuki tiba di rumah, Epel segera membukakan pintu, memeluk tubuh sang suami yang terlihat kumal dan sedikit berbau asam. Sebuah kecupan mesra singgah di wajah Zuki.

Epel : “Sayangku, kamu sudah capek seharian mencari nafkah.. Saya sudah menyiapkan air panas untuk membasuh tubuhmu yang keringatan dan lelah. Setelah itu, makanlah makanan yang saya siapkan di atas meja. Nikmatilah keindahan sekuntum bunga mawar, tanda cintaku kepadamu yang tidak akan pernah berakhir…”

Zuki : “Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengabulkan doaku. Terima kasih cintaku atas surprise yang begitu menyentuh hatiku. Mulai besok, saya akan pulang lebih cepat, menemanimu bermain dengan buah kasih kita yang imut, lucu dan menggemaskan. I love you honey…”

Epel : “I love you too…”

Sobatku yang budiman…

Pada awalnya, kebanyakan orang bangga dengan pilihan hidupnya. Namun tidak sedikit yang mampu untuk bersikap setia kepada pasangannya.

Saat menyadari bahwa pilihannya mulai berubah dan tidak lagi seperti yang diimpikan, hatinya mulai goyah. 

Yang paling sulit dalam hidup sebenarnya bukan pada saat memilih, namun sesungguhnya yang tersulit itu adalah mencoba bertahan dan tetap setia dengan pilihannya.

Hanya diperlukan waktu sedikit untuk menentukan pilihan, namun mungkin diperlukan waktu seumur hidup untuk bertahan pada pilihan hidup kita.

#firmanbossini obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Kisah Inspiratif. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s