“GAYA HIDUP MENYESATKAN”

<Minggu, 19 Juni 2016 COR 11:29>

Kehidupan manusia selalu dipenuhi oleh nafsu keinginan yang tiada batas. Hal inilah yang sering kali menjerumuskan begitu banyak manusia ke jurang penderitaan. Akibat perilaku yang tidak terkendali, kita merasa menjadi manusia yang serba kekurangan.

Sungguh tepat yang dikatakan orang bijak bahwa rejeki yang diberikan Tuhan selalu cukup untuk kebutuhan hidup, namun tidak akan pernah cukup jika digunakan untuk mengikuti gaya hidup. 

Pendapatan selalu berbanding lurus dengan pengeluaran. Di saat pendapatan meningkat, maka secara otomatis kebutuhan kita juga ikut melonjak. 

Gaya hidup konsumtif tidak pernah terlepas dari bayang-bayang kehidupan kita, apalagi dengan begitu banyaknya tampilan iklan-iklan komersial yang menawarkan berbagai barang dan fasilitas yang dapat menggoda iman kita untuk memilikinya, padahal belum tentu diperlukan untuk saat ini.

Yang sebelumnya tidak pernah membutuh tas Gucci, tiba-tiba saja merasa membutuhkannya dan wajib untuk memilikinya.

Yang sebelumnya tidak membutuhkan jam tangan rolex, tiba-tiba saja merasa harus memiliki jam tangan mahal tersebut. 

Yang awalnya tidak peduli dengan aroma tubuh tanpa parfum berharga jutaan, tiba-tiba merasa tidak percaya diri jika tidak menyelipkan parfum tersebut di dalam tas.

Semua ini terjadi, berawal dari keinginan untuk membeli pakaian baru. Di saat sudah mengenakan pakaian baru yang keren, lantas kita sendiri merasa rendah diri karena memiliki tubuh kurang bagus, tidak sepadan dengan pakaian yang indah.

Otak mulai diracuni pikiran untuk menggunakan kosmetik guna mempercantik wajah, melakukan medicure dan pedicure untuk memperindah kuku, membeli berbagai obat-obatan agar tubuh kelihatan proporsional dan tidak “gendut”, melakukan perawatan wajah dan badan, sering-sering pergi ke salon hanya untuk mencuci dan mem-blow rambut, padahal kegiatan ini sudah biasa dilakukan sendiri di rumah sejak kecil, dan lain sebagainya.

Ketika merasa tubuh dan pakaian sudah mantap, mulailah merasa tas, sepatu dan aneka aksesoris harus di-ugrade untuk mendukung penampilan menuju lebih sempurna lagi. 

Lantas kita pergi shopping untuk membeli sepatu dan tas yang lebih bagus. Saat penampilan sudah dirasa sempurna, timbullah keengganan untuk makan di warung pinggir jalan. Malu dong…

Kemudian kita mulai membiasakan diri makan di kafe dan restoran mewah, berkumpul dengan orang-orang yang lebih berkelas dengan status sosial tingkat tinggi.

Setelah memiliki banyak teman sepermainan ala jetset, mulai timbul ego persaingan dan gemar membandingkan penampilan antara satu dengan lain. Jiwa kompetitif memancing diri untuk memiliki barang bermerk. Masak teman saya memiliki tas Hermes, sementara tas saya modelnya begini-begini saja dan tidak branded pula.

Arisan hotel kelas berbintang pun wajib diikuti agar tidak dibilang manusia jadul (jaman dulu) yang tidak mengikuti tren hidup masa kini. Pola hidup yang menghambur-hamburkan uang menjadi kebiasaan dan rutinitas sehari-hari.

Begitulah siklus kehidupan berlangsung hingga akhirnya kita menyadari bahwa selama bekerja bertahun-tahun, kita tidak memiliki harta atau investasi apapun selain baju satu lemari besar, tumpukan tas di laci gede, rongsokan gadget tidak berguna di gudang rumah yang masih menyewa serta setumpuk tagihan yang harus dilunasi.

Dengan hidup bergaya metropolitan, kita pasti tidak akan mampu menabung. Banyak sekali orang-orang yang sudah puluhan tahun bekerja atau berbisnis namun tidak mampu membeli rumah atau berinvestasi jangka panjang. Bukan karena penghasilannya yang pas-pasan, namun lebih disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sesuai pendapatan.

Sobatku yang budiman…

Pernahkah kita memikirkan, jika sewaktu-waktu kita menderita sakit dan memerlukan biaya yang banyak, di saat bersamaan kita sedang mengenakan pakaian, tas, sepatu dan gadget mahal, sementara itu kita sama sekali tidak memiliki tabungan?

Apakah kita rela untuk menjual semua barang-barang branded yang kita beli mahal dengan harga jual yang murah kepada orang lain? Bukankah gengsi kita justru semakin jatuh jika sampai diketahui rekan yang lain?

Atau malah kita bersusah payah mencari-cari pinjaman kesana kemari setelah limit semua kartu kredit yang kita miliki sudah tidak bersisa lagi?

Inikah yang kita kehendaki?

Saran terbaik, berhentilah untuk mengikuti pola hidup konsumtif yang menghambur-hamburkan uang di saat penghasilan kita sedang seret maupun sedang berlimpah ruah. 

Belilah barang yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan… Jika menuruti keinginan hati, maka segunung emaspun tidak akan sanggup memenuhinya. 

Jangan pamer, sebab itu tidak kekal. Di era keterbukaan informasi saat ini, tidak ada yang dapat ditutupi. Berpura-pura menjadi orang kaya, hanya akan membeban hidup kita yang sudah berat. Ada yang harus kita bayar mahal, jika sampai ada yang “membocorkan” informasi bahwa sebenarnya kita bukanlah orang kaya. Sebuah ketidakpercayaan, hinaan dan cibiran yang pasti amat menyakitkan hati.

Butuh komitmen yang luar biasa untuk dapat menghindari gaya hidup di luar batas kemampuan finansial. Siapa sih yang tidak tertarik untuk memiliki smartphone model terbaru, ketika semua orang di sekitar sudah memilikinya?

Menabunglah untuk hidup kini dan nanti, di saat memiliki penghasilan tinggi, agar tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Kalau susah untuk menabung, setidaknya cermatlah untuk berbelanja.

#firmanbossini obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s