“PISANG BUSUK”

<Sabtu, 18 Juni 2016 COR 07:10>

Seorang Guru Spiritual yang terkenal bijaksana akan mengadakan kegiatan pelatihan spiritual selama seminggu untuk menggembleng jiwa-jiwa yang tertekan menjadi pribadi yang berbahagia.

Banyak orang berniat mengikuti acara ini. Mereka berbondong-bondong mendaftarkan diri, mengikuti “acara pengasingan” di sebuah tempat yang jauh dari keramaian, di perkampungan dekat kaki gunung.

Selama seminggu, para peserta akan mendapat siraman rohani dan pembekalan budi pekerti layaknya jaman sekolah dulu, dengan berbagai aktivitas tambahan yang menarik dan tidak membosankan.

Beberapa kali, acara kegiatan yang pernah diadakan Sang Guru dengan tema berbeda, mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan. Buktinya saja, untuk acara kali ini yang bertemakan : “Hidup Damai Tanpa Membenci” diikuti oleh 60 orang peserta, dan jumlahnya memang sengaja dibatasi. 

Dari semua aktivitas yang diadakan, ada “menu utama” yang wajib dilakoni oleh semua orang yaitu yang berkaitan dengan pisang.

Sang Guru menyediakan beberapa karung pisang yang sudah matang. Lantas menyuruh masing-masing peserta mengambil satu kantong plastik transparan yang tersedia.

Di hari pertama, Sang Guru menginstruksikan para peserta untuk menuliskan nama-nama orang yang mereka benci di kulit pisang tersebut. Jumlahnya tidak terbatas.

Ada peserta yang menuliskan sepuluh nama, ada yang menuliskan tujuh nama, ada yang menuliskan empat nama saja dan ada juga peserta yang hanya menuliskan satu nama.. 

Semua pisang yang sudah bertuliskan nama-nama orang dimasukkan ke dalam plastik transparan dan harus dibawa kemanapun mereka pergi, bahkan hingga ke dalam toilet. Pada waktu tidur, kantong plastik tersebut juga harus digantung di pergelangan tangan peserta.

Keesokan harinya, Sang Guru, mengulangi instruksinya untuk menuliskan nama-nama baru, orang yang dibenci oleh masing-masing peserta, yang belum sempat ditulis di hari pertama.

Ternyata, masih ada juga peserta yang menuliskan nama-nama baru dari orang yang dibencinya, namun jumlahnya sudah tidak banyak lagi.

Dengan adanya penambahan nama baru, secara otomatis, jumlah pisang yang harus dibawa juga semakin banyak. Beban semakin bertambah berat.

Pada hari ketiga, tidak ada lagi peserta yang menuliskan nama-nama baru. Kemungkinan mereka mulai menyadari, bahwa jika semakin banyak yang ditulis, akan semakin berat beban yang harus dipikulnya.

Pada hari kelima, pisang-pisang mulai menebarkan aroma tidak sedap. Sebagian peserta mulai tidak tahan dan berniat untuk membuang pisang-pisang yang sudah membusuk. 

Namun hal ini dicegah oleh Sang Guru. Beliau menegaskan bahwa sesuai komitmen, mereka baru boleh melepaskan semua beban berat dan bau busuk menyengat pada hari ketujuh, yaitu di hari terakhir kegiatan ini.

Setelah satu minggu, para pesera sudah diperbolehkan melepaskan dan membuang plastik yang berisi pisang busuk ke dalam tempat sampah.

Semua peserta merasa lega karena penderitaan mereka telah berakhir. Sekarang mereka merasa memiliki kebebasan kembali seperti semula.

Sang Guru mengumpulkan semua peserta dan bertanya : “Bagaimana rasanya membawa sekantong pisang kecil yang ringan selama seminggu…? Bagaimana perasaan kalian selama ini, menderita atau bahagia…?”

Serentak semua peserta menjawab : “Menderitaaaa….”

Sang Guru : “Apakah saat ini kalian sudah merasa lega dan bahagia…?”

Peserta : “Iyaaaa….”

Sang Guru berkata : “Seperti itulah rasa kebencian yang selalu kita tenteng setiap waktu, apabila kita tidak dapat memaafkan orang lain. Semakin banyak kita membenci dan memusuhi orang, maka semakin berat beban yang harus kita pikul…”

Semua peserta mendengarkan dengan seksama wejangan yang amat berharga ini. Melalui kegiatan ini, setidaknya, amat bermanfaar saat mereka berniat untuk menebar kebencian kepada orang lain, mereka akan merasa seperti membawa seplastik pisang busuk.

Sang Guru melanjutkan : “Bukan itu saja, semakin lama kita simpan, maka aromanya menjadi busuk, sama seperti saat kita membawa seplastik pisang busuk. Baru satu minggu saja, kalian sudah mengeluh dan tidak tahan. Bayangkan jika kita membawa benih-benih kebencian seumur hidup kita, pastinya amat tidak menyenangkan dan sungguh menyiksa batin hingga timbul rasa tidak bahagia sepanjang hidup kita….”

Semua peserta mengangguk tanda setuju dengan apa yang disampaikan oleh Sang Guru yang begitu bijaksana.

Sobatku yang budiman : 

Jika kita masih memiliki dan menyimpan rasa benci dan masih memusuhi orang lain, segeralah buang jauh-jauh dari dalam hati. Sebab, beban hidup sehari-hari yang sudah cukup berat, tentunya akan bertambah semakin berat oleh setumpuk rasa benci.

Bersabar dan ikhlaskan atas semua kesalahan yang pernah diperbuat mereka kepada diri kita. Cari tahu duduk permasalahan dan selesaikan dengan kepala dingin. 

Jika masih mengalami kebuntuan, cobalah untuk menenangkan diri dan berupaya memotivasi diri bahwa kebencian itu tetap akan melekat dan menjadi beban hidup jika kita masih memendamnya. 

Bahkan, bukan tidak mungkin, kita akan ikut menjdi “busuk”. Hidup tidak akan bahagia dan selamanya menderita jika beban itu masih kita bawa kemanapun kita pergi.

Pikirkan juga, barangkali juga orang yang masih kita benci, sudah hidup bahagia dalam dunia mereka yang baru. Jadi, buat apa lagi kita masih memegang erat-erat kebencian itu?

#firmanbossini obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Kisah Inspiratif, Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s