“ANAK YANG BIJAKSANA”

<Minggu, 12 Juni 2016 COR 10:18>

Seorang pengusaha kaya yang terkenal dengan kesombongannya, mengajak anaknya yang bernama Zuki, mengunjungi sebuah kampung yang cukup terpencil, jauh dari hingar bingar kehidupan kota. Ayah Zuki ingin menunjukkan kepada anaknya bahwa mereka adalah keluarga terpandang dan kaya raya. 

Ayah Zuki menyewa sebuah rumah yang paling bagus dan sudah berlantaikan keramik, milik kepala desa. Sedangkan kebanyakan rumah di kampung itu masih berlantaikan tanah, berdindingkan tepas dan beratapkan daun rumbia.

Selama beberapa hari mereka menginap di kampung yang merupakan daerah pertanian dan berdekatan dengan sebuah danau di kaki gunung.

Setiap pagi, Sang Ayah mengajak Zuki berkeliling dari satu daerah ke daerah lain. Beliau sangat membatasi pergaulan Zuki dengan anak-anak kampung, karena merasa Zuki, sebagai anak orang kaya tidaklah pantas bergaul dengan anak-anak kampung yang dianggapnya kurang berpendidikan, kumuh dan tidak terpandang.

Suatu ketika, saat ayahnya terlelap dalam tidur siang, Zuki “melarikan diri” dari rumah, untuk bergaul dan bermain dengan anak-anak kampung. Zuki diajak ke berbagai tempat yang menarik dan begitu kental nuansa alamnya.

Seumur hidupnya, baru kali ini Zuki merasakan kenikmatan bermain dengan anak-anak kampung yang masih polos dan belum terkontaminasi oleh kecanggihan teknologi. Mereka asyik bermain lumpur di sawah, mencari belut dan lele, mencari kodok dan jangkrik, memanjat pohon untuk mendapatkan buah-buahan segar, bersampan dan memancing di danau yang airnya sangat jernih, hingga mendaki bukit untuk mencari kayu bakar.

Zuki merasakan seperti berada di keluarga sendiri saat berkumpul, bermain dan bercengkerama dengan teman-teman sebaya, yang pastinya tidak akan diperolehnya di kota. Sebab anak-anak kota sekarang, cenderung senang memainkan permainan gadget yang dapat dimainkan sendirian. Sangat individualistis.

Kejadian “melarikan diri” dilakoni Zuki setiap siang menjelang sore selama sisa waktunya di kampung tersebut. Zuki tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk berkumpul dengan anak-anak kampung, saat ayahnya tidur siang. Zuki lebih memilih untuk keluar rumah daripada tidur siang seperti anjuran ayahnya. 

Zuki seperti lupa diri, asyik bercengkerama dengan anak-anak kampung dan “bergumul” dengan kehidupan alam. Hari-harinya terlihat begitu menyenangkan.

Hingga tibalah waktunya bagi Zuki untuk pulang ke kota. Zuki sangat berat melepaskan momen kebersamaan dengan anak-anak di kampung yang sangat ramah dan bersahaja. Mereka telah mengajarkan kepada Zuki tentang banyak hal, terutama yang berkaitan dengan alam. 

Saat perjalanan pulang, Sang Ayah mengajukan beberapa pertanyaan kepada Zuki seputar keberadaan mereka di kampung. Dia berharap Zuki akan semakin bangga dengan statusnya sebagai anak pewaris bisnis terbesar di kotanya.

Ayah Zuki : “Bagaimana menurut kamu pengalaman hidup di kampung. Enak tidak, anakku…?”

Zuki : “Wah, sungguh luar biasa Ayahku…”

Ayah Zuki : “Kamu sudah melihat dan merasakan betapa miskin dan tidak berpendidikan anak-anak kampung. Mereka hanya bisa bermain dari siang sampai sore setelah pulang dari sekolah. Tidak pernah sekalipun mengikuti les Inggris, piano, gitar dan pelajaran sekolah. Dan satu lagi mereka tidak mungkin bisa bermain gadget ponsel, seperti anak-anak kota…”

Zuki : “Hmmm… Begitu yah…?”

Ayah Zuki : “Ayah jadi ingin tahu, pelajaran apa yang dapat kamu petik selama tinggal di kampung miskin itu…?”

Zuki menjawab : “Saya sangat senang bisa tinggal bersama orang-orang kaya di sana. Semuanya kaya-raya….”

Ayah Zuki : “Loh, kok kamu mengatakan mereka itu kaya raya? Apakah lebih kaya dari kita?”

Zuki : “Benar ayah… Mereka jauh lebih kaya dari kita…”

Ayah Zuki : “Apa alasan kamu mengatakan mereka lebih kaya dari kita? Rumah mereka jelek, tidak punya kolam renang, tidak punya televisi layar lebar, tidak punya tempat berolahraga fitness dan tidak memiliki mobil…”

Zuki : “Ayah mau tahu alasannya? Baiklah… Zuki akan beberkan satu persatu kelebihan mereka dari kita :

(1) Lantai rumah mereka begitu lembut terbuat dari tanah sehingga tidak perlu takut mengalami cedera saat terjatuh, dibandingkan lantai rumah kita yang keras seperti besi.

(2) Kita memiliki satu hewan peliharaan, namun mereka memiliki ribuan hewan piaraan yang hidup di alam bebas. Anak-anak kampung dapat bermain dengan para binatang itu kapan dan dimana saja.

(3) Rumah mereka lebih sejuk dan jauh lebih segar dibandingkan rumah kita yang hanya terasa dingin karena adanya AC.

(4) Kita hanya memiliki kolam renang kecil, nanum mereka memiliki kolam renang yang ratusan kali lipat lebih besar dari milik kita, yaitu danau di kaki gunung.

(5) Kita memiliki sebidang tanah untuk tempat tinggal, namun mereka memiliki sawah, ladang dan hutan yang dapat dipergunakan bersama-bersama. 

(6) Kita mengimpor lampu-lampu hias di taman dari Italia namun mereka memiliki bintang-bintang indah pada malam hari.

(7) Kita menggunakan uang untuk membeli dan memenuhi ketersediaan makanan sehari-hari dan amat bergantung kapada para penjual, namun mereka tidak perlu membeli kebutuhan hidupnya. Mereka mampu menumbuhkannya sendiri dan juga dapat mengambil ikan sesuka hati mereka dari danau.

(8) Kita mempunyai tembok untuk melindungi harta kekayaan kita, namun mereka memiliki sahabat-sahabat yang sudah seperti keluarga sendiri untuk saling menjaga dan melindungi satu sama lain.

Dan banyak sekali kelebihan mereka dibandingkan dengan kita. Bukankah mereka jauh lebih kaya dari kita? Bukankah begitu, Ayah..?”

Mendengar kalimat “menohok” ini, bibir Sang Ayah terdiam kelu dan tak dapat mampu berkata-kata lagi. Dia merenungi setiap kalimat ucapan Zuki yang sangat bijaksana.

Zuki menambahkan lagi : “Terimakasih Ayahku yang tercinta… Ayah telah menunjukkan kepada saya betapa miskin dan melaratnya kehidupan kita di kota. Oleh sebab itu, saya mohon agar setiap bulan, Ayah mengijinkan saya untuk menginap di kampung, terutama pada hari Sabtu dan Minggu. Bolehkan ayah?”

Ayah Zuki : “Iya… Tentu saja boleh, anakku…”

Sobatku yang budiman…

Janganlah kita menyombongkan diri karena memiliki harta melimpah. Semua itu tiada artinya dibandingkan dengan kekayaan alam hasil ciptaan Tuhan.

Banyak manusia merasa dirinya hebat dan berkuasa. Padahal di atas langit masih ada langit. Bersikaplah sederhana dan rendah hati ketika kita berada di atas.

Kebersamaan dengan alam dan sesama umat manusia lain adalah harta tiada bernilai, yang tidak dapat dibeli dengan uang. 

#firmanbossini obrolanbeken.wirdpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in AGAMA, KISAH INSPIRATIF. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s