“TEKANAN MENTAL”

<Jumat, 10 Juni 2016 OOR 11:15>

Banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami tekanan mental, baik oleh pekerjaan, pergaulan maupun keluarga di masa lalu, masa kini dan masa depan.

Saat pekerjaan menumpuk dan memiliki deadline (batas waktu) penyelesaian, ditambah lagi dengan adanya intimidasi dari pimpinan, membuat banyak karyawan hidup dalam kondisi penuh tekanan.

Saat teman sepermainan tiba-tiba mencibir, menghina dan bergosip tentang keburukan diri kita, membuat pikiran kita terus berputar, mengapa mereka tega berbuat demikian dan bagaimana cara menghadapi situasi seperti ini. Tekanan yang dirasakan ini akan membuat hidup menjadi tidak tenang.

Saat terjadi perselisihan kecil dengan pasangan ataupun ketika sang buah hati mulai “berulah”, seringkali membuat kita menjadi galau dan merasa mendapat tekanan mental yang bertubi-tubi. Istilah sehari-harinya adalah “makan hati”.

Belum lagi, begitu seringnya kita dihantui oleh bayang-bayang masa lalu yang kelam, yang membuat kita sulit untuk melangkah. Atau munculnya kekhawatiran menghadapi masa depan yang belum pasti, membuat kita enggan untuk melangkah maju.

Begitu komplek dan banyaknya problematika kehidupan yang harus dihadapi dan dilalui oleh umat manusia, tanpa peduli kita itu siapa dan dari mana.

Apakah yang akan terjadi jika kita membiarkan tekanan mental dan emosi berlarut-larut bersemayam dalam diri kita?

Sangat dahsyat akibatnya…

Kita akan kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih, selalu hidup dalam kekalutan dan kebimbangan. Cenderung menjadi manusia yang hidup dalam kesendirian dan bergelut dengan pikiran-pikiran kita sendiri.

Lama kelamaan, hal ini akan berakibat buruk. Kita akan menjadi pribadi yang sulit dipahami karena sering bersikap uring-uringan. Sebaliknya kita juga tidak akan mampu bekerjasama, bersosialisasi, tidak dapat lagi memahami perasaan dan pikiran orang lain. Dampaknya kita akan hidup dalam kesengsaraan, menganggap dunia ini adalah tempat yang kejam.

Sobatku yang budiman…

 
Tekanan mental bukanlah merupakan penyakit, namun dapat menyebabkan munculnya banyak penyakit kronis jika tidak dirawat dengan baik.

Tekanan mental atau stres terjadi karena adanya “perlawanan” terhadap apa yang sedang terjadi pada saat ini. 

Peristiwa-peristiwa yang tidak sesuai dengan keinginan, akan menimbulkan rasa “sakit sementara”. Namun jika dibiarkan terus menerus akan menimbulkan kegelisahan dan penderitaan batin yang berkepanjangan dan melelahkan.

Padahal, satu-satunya penyebab munculnya tekanan bersumber dari pikiran kita. Semua yang kita rasakan akan diolah oleh otak dan dikirim kembali dalam bentuk aksi perbuatan. 

Jika saja kita mau menaklukkan tekanan mental, kegalauan hidup, keresahan hati dan kegamangan pikiran, tentunya kita akan menjadi manusia yang paling bahagia di muka bumi.

Hadapilah semua permasalahan dengan kepala dingin dan penuh keikhlasan, jangan terprovokasi oleh aura negatif yang berada di sekitar kita. 

Mari lepaskan semua pikiran tentang hidup “mewah” yang dijalani orang lain dan diinginkan oleh kita, yang akan membelenggu dan melelahkan pikiran. Hargailah semua yang ada pada masa sekarang.

Niscaya hidup kita akan selalu diliputi awan kebahagiaan…

#firmanbossini obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s