“SELALU BERSYUKUR”

<Kamis, 09 Juni 2016 OOR 07:18>

Seorang anak gadis mungil berusia 7 tahun bernama Epel, hidup dalam lingkungan keluarga kecil yang harmonis. Kedua orang tua Epel bekerja seharian, namun tidak pernah lupa untuk mencurahkan perhatian kepadanya. Terutama pendidikan moral dan budi pekerti.

Suatu ketika, Epel menderita demam sehingga membuat dirinya tidak dapat pergi ke sekolah. Kondisi tubuh yang tidak nyaman memaksa Epel harus berbaring di atas tempat tidur, dengan ditemani sang nenek tercinta.

Untuk menghilangkan rasa bosan, Epel memutar kaset VCD aneka karton, mulai dari Teletubbies, Doraemon, Barney hingga Marsha.

Saat sedang asyik menonton film karton kegemarannya, tiba-tiba saja listrik padam. Gardu listrik di depan rumahnya meledak dan memercikkan api. Akibatnya terjadi pemadaman listrik yang pasti akan berlangsung cukup lama.

Epel : “Nek, listriknya kok bisa padam? Tolong nyalakan genset, supaya saya bisa menonton film…”

Nenek : “Waduh, nenek sudah tua, tidak tahu cara menghidupkan genset. Tukang kebun, Mang Arsip juga tidak masuk kerja hari ini. Kamu main handphone aja yah. Di sana ada banyak game permainan yang kamu sukai…”

Epel tidak memaksa sang nenek lebih lanjut lagi. Dia mengambil handphone yang diberikan sang nenek dengan wajah biasa-biasa saja, tidak tampak mimik cemberut di wajahnya.

Setelah bermain selama satu jam, akhirnya baterai handphone pun habis. Sementara listrik belum juga menyala. Powerbank sedang dibawa oleh ayahnya, yang semalam kelupaan men-charge baterai handphone miliknya.

Epel : “Nek, baterai handphone sudah habis. Terus gimana dong..?”

Nenek : “Ya udah, kamu istirahat saja. Kan kamu sedang demam…”

Epel : “Baik nek, saya mau istirahat saja…”

Tidak sampai sejam kemudian, Epel terbangun dari lelap tidurnya. Sang nenek tetap setia di samping tempat tidur untuk menemani satu-satunya cucu kesayangannya.

Epel : “Nek, saya suntuk sekali… Bolehkah saya bermain game di laptop milik ayah?”

Nenek : “Sebentar nenek lihat dulu, kalau baterainya masih ada, kamu boleh pakai…”

Ternyata baterai laptop masih tersisa lima puluh persen, berarti dapat bermain selama kurang lebih dua jam lagi.

Setelah main beberapa waktu, Epel memberitahukan kepada neneknya bahwa game permainan yang ada di laptop rusak. Sang nenek mencoba memeriksanya, namun apes, secara tidak sengaja, sang nenek memencet tombol delete, sehingga game permainan kesukaan Epel yang ada di laptop ikut terhapus.

Nenek : “Aduh, sorry Epel, gamenya tidak sengaja terhapus. Epel jangan marah kepada nenek yah…”

Melihat mimik wajah yang memelas dari sang nenek, Epel tidak sampai hati untuk memarahi beliau. Selama ini, Epel memang terkenal sangat dekat dengan sang nenek. Sangat sayang kepada wanita tua yang sudah ditumbuhi uban di kepalanya.

Epel : “Gak papa nek… Apa yang mau dikata, semua sudah terlanjur terjadi. Sekarang Epel mencoba untuk tidur kembali…”

Malam harinya, ketika hendak beranjak tidur, dengan posisi bersujud, Epel memanjatkan doa : “Terima kasih Tuhan atas semua yang Engkau berikan hari ini. Terima kasih Tuhan atas berkah untuk kedua orang tuaku dalam mencari nafkah untuk kami sekeluarga. Terima kasih Tuhan, tadi siang liatrik padam sehingga saya tidak dapat menonton film, bermain game di handphone dan di laptop. Berkat listrik padam, saya dapat beristirahat lebih lama, dan saat ini saya telah kembali bugar. Jika saja listrik tidak padam, mungkin saja saat ini saya masih menderita demam… Terima kasih juga atas sakit deman yang diberikan sehingga lain kali saya akan lebih baik lagi menjaga kondisi tubuh… Amin…”

Sobatku yang budiman…

Sangat jarang bagi kita, menemukan seorang anak yang demikian tabah dan santun ketika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Kebanyakan anak akan mengeluh, merepet dan menangis keras kepala, meminta untuk mengembalikan sesuatu yang telah hilang.

Namun, sosok seorang Epel, anak yang pastinya menjadi anak impian dari banyak orang tua, memiliki karakter yang terpuji dan berbudi luhur, adalah berkat didikan dari orang-orang yang berada di sampingnya. Mereka yang selalu mendampingi tumbuh kembangnya buah hati mereka.

Perilaku Epel dapat menjadi cerminan bagi kita untuk selalu berterima kasih dan bersyukur atas semua kondisi yang menerpa hidup ini, baik dalam senang maupun sedih.

Yang paling utama adalah bagaimana sikap hati dan perilaku kita ketika menghadapi sebuah problem, apakah kita harus bersungut-sungut, mengomel, merepet dan menyalahkan pihak lain atau justru tetap tegar bertahan melewati rintangan dan selalu bersyukur?

Semua terserah kepada diri kita masing-masing…

#firmanbossini obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in AGAMA, KISAH INSPIRATIF, RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s