“HADIAH TIGA BUAH BONEKA”

<Rabu, 08 Juni 2016 COR 11:27>

Seorang pemuda bernama Zuki, merayakan ulang tahunnya yang ke-17 secara meriah di sebuah cafe terkenal di kotanya. 

Puluhan hadiah dari rekan, kerabat, saudara dan kedua orang tuanya menambah kegembiraan hatinya menyambut “sweet seventeen”, hari yang dinanti-nanti para remaja, menandakan seseorang sudah dewasa.

Sesampainya di rumah, satu persatu hadiah dibuka oleh Zuki. Ada jam tangan, rantai emas putih, dompet, pakaian, jaket dan sebagainya. Namun ada sebuah hadiah yang membuatnya sangat heran dan sedikit kecewa.

Hadiah yang diberikan oleh ayahnya adalah tiga buah boneka kecil dengan warna merah, kuning dan hijau. Karena merasa kesal, Zuki segera beranjak menuju ke kamar orang tuanya.

Dengan muka cemberut, Zuki menunjukkan boneka-boneka itu ke arah ayahnya : “Apa-apaan sich ayah ini? Mengapa memberikan hadiah tiga buah boneka? Emangnya saya ini seorang perempuan? Tidak pantas sekali pemberian dari ayah…”

Sambil tersenyum Ayah Zuki menjawab : “Jangan marah anakku Zuki… Ini adalah hadiah spesial untuk masa depanmu dari ayah…”

Zuki : “Hadiah masa depan? Memangnya boneka-boneka ini laku dijual seharga ratusan juta?”

Ayah Zuki : “Nilainya jauh lebih besar dari yang kamu bayangkan. Sekarang coba perhatikan ketiga alat indera pada masing-masing boneka yaitu telinga, hidung dan mulut. Ada lubangnya…”

Kemudian Ayah Zuki memberikan seutas tali kepada Zuki. Sebenarnya Zuki sudah malas dan tidak mau mempedulikan ayahnya, namun tatapan mata sang ayah, menunjukkan sikap yang serius.

Ayah Zuki : “Cobalah kamu masukkan tali ini ke dalam salah satu telinga dari ketiga boneka-boneka ini.

Zuki mengambil tali dari tangan ayahnya dan mengambil sebuah boneka berwarna merah. Kemudian memasukkan tali tersebut ke dalam telinganya. Ternyata ujung tali keluar dari lubang telinga yang lainnya.

Sang ayah menyeletuk : “Kejadian ini menggambarkan sifat pertama manusia yang tidak pernah mengingat apapun yang dikatakan orang lain. Semua ucapan yang didengarkan akan keluar seketika dan dia tidak pernah menyimpan apapun di dalam memori otaknya…”

Zuki merasa seperti mendapat pencerahan sederhana dari sang ayah. Dia melanjutkan aktivitas memasukkan tali ke lubang telinga boneka kedua berwarna kuning. Kali ini, ujung tali keluar dari mulut boneka.

Ayah Zuki : “Kejadian yang terjadi pada boneka kedua ini menunjukkan sifat kedua manusia yang akan memberitahukan sesegera mungkin semua berita yang didengar oleh telinganya. Setelah itu, dia kembali akan membuka lebar-lebar telinganya untuk mendengar informasi dan menyebarkan kepada orang lain…”

Zuki mengambil boneka ketiga yang berwarna hijau dan memasukkan tali ke lubang telinga boneka ini. Ujung tali yang ditunggu-tunggu tidak keluar, baik dari telinga maupun dari mulut.

Ayah Zuki : “Ini adalah sifat ketiga umat manusia yang hanya mau mendengar informasi dan berita, lalu disimpan dalam memori otak, terkunci di dalam dan tidak pernah keluar atau menyebar kepada orang lain…”

Zuki : “Pasti ayah menyuruh saya untuk memilih. Jujur saja, saya sangat bingung mau memilih yang mana, Ayah…”

Ayah Zuki : “Bagus sekali jika kamu tidak mampu memilih, karena pilihan yang ada tidak lengkap. Pada boneka merah, ayah hanya melobangi telinga kiri dan kanan. Mulut dan hidung tidak berlubang. Boneka berwarna kuning, ayah hanya melubangi sebuah lubang telinga dan mulutnya. Sedangkan boneka ketiga, ayah hanya melubangi satu telinga saja, telinga satunya, mulut dan hidungnya sengaja tidak dilubangi…”

Zuki merasa penasaran, lalu bertanya : “Ayah, saya bingung, sebenarnya orang yang baik itu seperti apa?”

Ayah Zuki mengeluarkan sebuah boneka berwarna putih, lantas berkata : “Coba kamu ulangi memasukkan tali ke telinga boneka putih ini…”

Zuki mengikuti perintah Sang Ayah. Saat memasukkan tali ke lubang telinga, ujung tali itu keluar dari lubang telinga yang lain.

Ayah Zuki : “Ulangi sekali lagi…”

Kesempatan kali ini, tali keluar dari mulut boneka. 

Ayah Zuki : “Coba kamu ulangi lagi…”

Zuki mengulanginya, dan kali ini, tali tidak keluar melalui mulut, hidung maupun lubang telinga yang satu lagi.

Ayah Zuki menepuk-nepuk bahu Zuki sembari berkata : “Ini adalah sifat manusia yang paling baik. Untuk menjadi seorang yang bijaksana, kita harus mengetahui timing (momen) yang tepat untuk mendengar, diam mencerna dan berbicara. Orang yang bijaksana pasti akan dipercaya dan disenangi orang lain…”

Zuki mengangguk dan tersenyum kepada ayahnya. Pelukan erat sang ayah disambutnya dengan pelukan yang hangat pula.

Ayah Zuki : “Kamu tidak perlu mengkhawatirkan masa depanmu berkaitan dengan materi. Kamu adalah anak tunggal pewaris bisnis ayah, mau apa saja dapat ayah berikan. Namun yang paling ayah cemaskan adalah perilaku kamu ke depan nanti seperti apa? Semoga kamu bisa mengerti dan paham dengan apa yang ayah katakan barusan…”

Sobatku yang budiman…

Kebanyakan orang tidak mampu memilah-milah berita, informasi maupun pendapat dan saran apapun yang diterimanya dengan baik. 

Ada yang tidak mau peduli, menganggap apa yang dikatakan orang lain itu adalah sesuatu yang tidak berguna. Masuk telinga kanan, langsung keluar dari telinga kiri. 

Sesungguhnya informasi yang harus diperlakukan demikian adalah berita “sampah” atau hoax serta sesuatu yang yang tidak benar dan menyakiti perasaan kita. Lupakan dan jangan pendam di hati.

Ada yang suka membicarakan atau bergosip ria. Setiap informasi, berita atau pendapat orang lain, tidak peduli itu benar atau salah, dengan gampang disampaikan kepada yang lain tanpa melalui proses sensor. 

Sesungguhnya informasi yang harus diperlakukan demikian adalah berita yang baik, mencerahkan dan membahagiakan orang lain, serta cerita motivasi dan inspirasi.

Dan, ada juga yang gemar memendam semua informasi dan saran orang di dalam hati. Seorang diri merasakan dan “menikmati” rasa bahagia dan pahit getir tanpa berniat berbagi kepada orang lain.

Sesungguhnya, informasi yang harus diperlakukan demikian adalah saran, pendapat atau kritikan yang membangun. Semua ini akan dijadikan cambuk untuk menjalani hidup yang lebih baik lagi.

#firmanbossini  EdisiRamadhan hari ke-3 obrolabeken.wordpress.com

Advertisements
This entry was posted in AGAMA, KISAH INSPIRATIF, RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s