“BIBIT KEBAIKAN DI TANAH TANDUS”

<Selasa, 07 Juni 2016 OOR 19:28>

Di suatu kota, hiduplah seorang pengusaha kaya bernama Zuki, terkenal dengan sifatnya yang dermawan dan sering membagi sedekah kepada para kaum papa yang serba kekurangan.

Seorang guru spiritual yang tersohor, singgah sejenak ke kota tersebut, dalam perjalanan musafir berkeliling dari satu daerah ke daerah lain untuk mengabarkan nilai-nilai kebaikan kepada sesama umat manusia.

Zuki mendengar kedatangan guru spiritual kondang tersebut, sangat bersemangat untuk menjumpai beliau. Zuki merasa selama ini, perbuatan baiknya sudah dikenal di seantero negeri. Berharap mendapatkan pujian dari guru yang sederhana dan berjanggut putih.

Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Bersama orang-orang di kotanya, Zuki ikut dalam rombongan antrian untuk bertatap mata langsung dengan Sang Guru.

Satu persatu pengunjung dipersilakan masuk untuk menghadap. Namun, saat tiba gilirannya, Zuki belum diperbolehkan masuk. Hanya duduk menanti di depan, seorang diri. 

Zuki merasa heran, tapi berusaha untuk berbesar hati, merasa dirinya sangat spesial, sehingga dirinya dipersilakan untuk menunggu hingga semua orang selesai “menghadap” Sang Guru, barulah dirinya boleh bertemu langsung dengan beliau.

Benar saja perkiraan Zuki, setelah semuanya keluar, Zuki dipersilakan masuk ke dalam ruangan. Tampak di hadapannya seorang lelaki tua yang terlihat begitu tenang.

Zuki duduk bersila di hadapan Sang Guru. Setelah menunggu sekian lama, Sang Guru masih diam dan tidak menyapanya. Zuki heran sekaligus penasaran, mengapa dirinya yang dermawan dan sering mendapat pujian dari banyak orang, dicuekin oleh sang guru.

Akhirnya, Zuki memberanikan diri untuk menyapa beliau : “Wahai Guru yang mulia, mengapa sudah sekian lama, saya masih diacuhkan? Apakah ada yang salah dengan diriku?”

Sang Guru menatap tajam ke arah Zuki, namun masih saja belum berucap sepatah katapun.

Zuki : “Mengapa Guru menatapku demikian tajam Apakah aku ini orang jahat Apakah perbuatanku selama ini buruk di mata Guru? Atau amal-amal perbuatanku selama ini tidak benar? Ataukah Guru seorang yang sombong, merasa lebih mulia, lebih terhormat dan lebih baik daripada saya? Tidak pernahkah Guru mendengar begitu banyak perbuatan baik yang telah saya lakukan untuk sesama manusia?” 

Akhirnya Sang Guru membuka mulutnya dan berkata : “Bukan begitu wahai manusia dermawan.. Aku diam dan tidak menghiraukan dirimu, bukan karena aku sombong, merasa lebih hebat, lebih mulia dan lebih sempurna dari dirimu…”

Zuki merasa terperanjat mendengar ucapan Sang Guru yang pelan namun tegas.

Sang Guru melanjutkan : “Diriku mencuekkan dirimu karena aku merasa kasihan kepadamu dari penerawanganku dan setelah mendapat petunjuk dari langit mengenai keadaan dirimu yang sesungguhnya. Oleh karena itu, saya ingin berbicara empat mata dengan dirimu…”

Zuki semakin heran, lantas berkata : “Saya tidak mengerti maksud Guru…”

Sang Guru tersenyum : “Begini anakku… Semua manusia yang hidup di dunia ini akan selalu bertumbuh dan berkembang menjadi lebih dewasa dan lebih baik. Dunia ini adalah ladang untuk menanam dan kelak hasilnya akan kita petik setelah kita meninggalkan dunia. Benar tidak ucapan diriku..?”

Zuki mengangguk tanda setuju dengan ucapan Sang Guru. 

Sang Guru melanjutkan : “Aku tahu kedermawanan dirimu selama ini. Kamu banyak membantu fakir miskin, para jompo dan anak-anak terlantar. Budi baikmu sudah terkenal ke seantero negeri. Ibadahmu juga bagus, tidak pernah lupa bersembahyang dan berserah diri kepada Sang Pencipta…”

Zuki tidak sabar mendengar penuturan Sang Guru, lantas memotong ucapan beliau : “Nah… Guru sudah tahu semua. Jadi dimanakah letak kesalahanku..?”

Sang Guru kembali tersenyum : “Namun sayangnya, tanahmu itu gersang, ladangmu itu tandus, sehingga semua tanaman yang engkau tanam tidak akan dapat dipanen di akhirat kelak…”

Zuki terkejut setengah mati mendapat kalimat menohok dari Sang Guru : “Hah…? Saya sama sekali tidak mengerti mengapa Guru berpikiran seperti itu… Saya merasa apa yang saya lakukan selama ini sudah baik dan sempurna…”

Dengan suara yang tegas Sang Guru berkata : “Itu menurut pemikiran kamu..!! Namun kenyataannya, tanaman yang engkau tanam di dunia ini akan sia-sia belaka dan tidak berbuah apapun. Sebab tanah milikmu adalah tanah gersang, tanah yang tandus, bukan tanah yang subur”.

Zuki : “Maaf Guru, saya kurang mengerti maksud Guru yang mulia. Sebenarnya tanah yang gersang dan tandus itu seperti apa?”
Zuki : “Kamu harus tahu bahwa hati kita adalah ladang sebenarnya yang bertugas untuk menumbuhkembangkan bibit kebaikan. Namun sayang beribu sayang… Saat dirimu sedang menanam bibit kebaikan itu, pada saat itu pula, hatimu tidak dalam keadaan baik, tidak ikhlas dan cenderung menjadi jahat. Kamu suka menghina, merendahkan, meremehkan, menggosipkan kehidupan orang lain, menebar fitnah dan suka mengadu domba sesama umat manusia”.

Zuki sangat terperanjat mendengar kalimat sindiran setajam pisau ke sembilunya.

Sang Guru melanjutkan : “Di saat engkau melakukan perbuatan tidak baik itu, otomatis tanah milikmu menjadi gersang dan tandus. Akibatnya bibit-bibit kebaikanmu tidak akan sanggup tumbuh dan berkembang. Dan bibit-bibit surgamu itu akan menjadi bantet dan akhirnya mati…” 

Saat ini Zuki terdiam seribu bahasa. Bibirnya kelu tanpa bisa berkata-kata. Dia merasa apa yang dikatakan Sang Guru benar adanya. 

Dia berjanji untuk membersihkan ladangnya dari bibit kejahatan, menyiraminya dengan percikan-percikan kalimat sejuk dan menyenangkan orang lain. Berharap semoga, bibit kebaikan yang ditanamnya akan segera tumbuh sempurna dan dapat dipanen di alam Surgawi.

Sobatku yang budiman…

Saat kita merasa baik, pintar, hebat dan merasa bangga berlebihan menjurus sombong karena dihormati oleh banyak orang, maka kesombongan itu akan serta merta menghapus semua amal kebaikan yang telah kita lakukan.

#firmanbossini obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Agama, AGAMA, Kisah Inspiratif, Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s