“HEBOH PENEMBAKAN MATI SEEKOR GORILLA YANG TIDAK BERSALAH”

<Sabtu, 04 Juni 2016 OOR 15:20>

Seekor gorilla berumur tujuh belas tahun yang tinggal di sebuah kebun binatang di Cincinnati Ohio, Amerika Serikat, harus meregang nyawanya akibat keteledoran manusia. 

Penyebabnya seorang anak kecil berumur empat tahun terjatuh ke dalam kandang gorilla yang bernama Herambe. Dalam rekaman amatir terlihat bahwa gorilla tersebut sempat menyeret-nyeret balita tersebut, dengan tujuan untuk melindungi dan membawa balita tersebut ke daerah yang lebih aman. 

Aksi heroik gorilla yang berbadan tambun itu menimbulkan kehebohan luar biasa dari para pengunjung. Melihat gelagat yang dirasa kurang menguntungkan, akhirnya pihak kebun binatang mengambil langkah “sadis” dengan menghabisi nyawa gorilla tersebut melalui tembakan berpeluru tajam.

Yang menjadi pertanyaan kita, mengapa harus menggunakan senjata tajam? Apakah tidak ada cara lain untuk menghentikan aksi yang sebenarnya belum sampai membahayakan nyawa si balita?

Mengapa tidak menggunakan peluru bius dosis tinggi? Jika dikhawatirkan obat bius tidak dapat bereaksi cepat dalam melumpuhkan gorilla dan justru dapat menambah amarah gorilla, barulah penggunaan peluru tajam dapat dilakukan.

Sungguh amat disayangkan, seekor gorilla yang sengaja diambil paksa dari habitatnya untuk menjadi tontonan komersial bagi orang banyak harus berakhir tragis.

Dan, yang harus bertanggung jawab penuh adalah pihak kebun binatang. Seharusnya mereka bisa memutus akses siapapun untuk masuk ke dalam kandang gorilla maupun hewan buas lainnya melalui pengamanan pagar berlapis yang kokoh atau penggunaan dinding kaca pelindung yang dapat mencegah akses dari kelalaian dari para pengunjung. 

Termasuk menyediakan senjata yang cukup ampuh untuk melumpuhkan (bukan membinasakan) binatang yang “mengamuk” dan dapat membahayakan para pengunjung.

Bagi para orang tua, kejadian ini menjadi sebuah pelajaran berharga, agar senantiasa lebih waspada saat membawa balita dan anak-anak ke mana saja. Sebab mereka yang masih belia, belum dapat mengambil keputusan yang tepat saat berada di jurang bahaya. Mereka cenderung lebih menggunakan naluri keingintahuan dalam bertindak tanpa peduli bahaya yang mengancam jiwa mereka.

Musibah “kebinatangan” yang disesalkan oleh kita semua, oleh seantero penghuni dunia, sebenarnya dapat menggambarkan sifat negatif manusia yang sering sekali menghakimi perilaku orang atau makhluk lain, tanpa pernah mencoba untuk memahami maksud dari perbuatannya.

Mungkin saja gorilla tersebut justru ingin melindungi balita malang itu, seperti yang sering kita dengar dari cerita-cerita dongeng maupun kisah nyata, tentang bagaimana seekor binatang sering kali menyelamatkan nyawa manusia. Jika benar, sungguh ini amat disayangkan…

#firmanbossini obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KASUS, RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s