“PENJILAT”

<Minggu, 29 Mei 2016 OOR 11:30>

Setiap orang pasti pernah melakukan aktifitas menjilat, terutama untuk merasakan makanan yang hendak disantapnya. 

Bagi anak kecil, kebiasaan menjilat merupakan pembelajaran bagi dirinya untuk menilai enak tidaknya sesuatu yang sedang digenggamnya. Padahal sebenarnya, kegiatan ini cukup membahayakan bagi kesehatan si kecil.

Arti sebenarnya dari menjilat adalah kegiatan menjulurkan lidah untuk merasai sesuatu. Menjilat-jilat, artinya berkali-kali menjulurkan lidah untuk merasa-rasai sesuatu, terutama yang berkaitan dengan makanan.

Nah, seorang yang melakukan aktifitas menjilat disebut penjilat. Dalam kehidupan sehari-hari, istilah “penjilat” sudah sangat jamak kita dengar, bahkan kita mungkin sering melontarkan kata “penjilat” untuk orang lain.

Kata “penjilat” mengandung arti konotasi yang negatif, yaitu orang yang suka mengambil muka, “angkat telor” atau memuja-muji orang yang dianggapnya dapat memberikan keuntungan pribadi, baik langsung maupun tidak langsung. 

Seorang penjilat gemar sekali memberikan pujian tidak pada tempatnya dengan melebih-lebihkan penilaian atau cara sapaan agar dianggap sebagai orang baik sehingga layak mendapat imbalan, minimal traktiran plus uang saku. Mungkin juga memperoleh promosi jabatan.

 “Hati-hati ambil muka, nanti terambil muka beruk!”
“Hati-hati menjilat, nanti terjilat pantat monyet!” 

Dua ungkapan idiom yang bersifat cemooh dan hinaan kepada mereka yang suka menjilat. Ini merupakan sindiran yang menikam urat kemaluan si penjilat.

Terdapat perbedaan nyata antara “menjilat” dan mengapresiasi. Kedua aktifitas ini bertujuan memberikan penghargaan dan pujian terhadap perbuatan orang atau atasan yang dianggap baik dan bermanfaat bagi orang lain. Bedanya, si penjilat selalu melebih-lebihkan kata, kalimat dan perilaku sehingga terlihat lebay.

Oknum “penjilat” tumbuh subur di lingkungan kantor dan pemerintahan yang mengakomodir perilaku “jilat-menjilat” demi sebuah hubungan simbiosis mutualisme (saling menguntungkan). 

Yang dijilat senang dipuja-puji, sedangkan yang menjilat berharap mendapat “sesuatu keuntungan”. Jika yang dijilat pemegang kekuasaan, bos atau teman yang tajir, maka bau busuk kentut merekapun akan dibilang harum. Weleh-weleh…

Tidak jarang, seorang “penjilat” suka menjilat air liur yang sudah diludahkannya. Jika suatu hari dia memaki, maka di hari lain, karena ada maksud dan kepentingan, si penjilat dapat menjilat ludahnya sendiri dan mengubah makian yang terlontar menjadi pujian yang bersumber dari lidahnya. 

Sobatku yang budiman…

Jauhilah sifat penjilat yang dibenci orang. Jika ingin memberikan pujian, berilah sesuai dengan porsinya. Jangan melebih-lebihkan.

Sikap keseharian kita akan menjadi barometer orang lain dalam menilai. Jika baik, kita akan dijadikan sahabat. Jika tidak baik, kita pasti akan dijauhi.

Menjilat, penjilat, dijilat, adalah hal yang lazim dalam kehidupan sehari-hari. Semua dapat terkurung dalam mulut, terhimpit di bawah lidah dan terkata di ujung bibir. Agar lidah kita “menjilat” dan tak menjulur kepada sesuatu yang kotor, sudah saatnya kita bercermin sebelum mengambil tindakan atau keputusan.

Benar gak sich…?

#firmanbossini obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s