“PERBUATAN BAIK”

<Minggu, 29 Mei 2016 OOR 06:26>

Dalam hidup ini, ada beberapa sifat benda yang dapat dijadikan pedoman hidup dan ada pula yang harus dihindari.

Tirulah gula, garam dan cabai yang rendah hati dan tidak suka pamer…

Jika kopi dicampur gula disebut kopi manis…

Jika teh dicampur gula disebut teh manis…

Jika ikan diolesin garam disebut ikan asin…

Jika ayam ditambah cabai disebut ayam balado…

Jangan pula meniru susu yang suka memamerkan dirinya…

Jika kopi ditambah susu disebut kopi susu…

Jika teh ditambah susu disebut teh susu…

Itulah filosofi perbuatan dalam kehidupan manusia. 

Pada umumnya orang melakukan perbuatan baik disebabkan tiga alasan, yaitu : untuk pamer atau pencitraan, untuk mengabarkan perbuatan baik agar ditiru oleh orang lain dan yang terakhir sebagai ladang amal dan bentuk pertanggungjawabannya kepada Sang Pencipta, dilakukan dengan sembunyi-sembunyi alias diam-diam.

Ada orang yang suka memamerkan perbuatan baik secara berlebihan, ditambah dengan bumbu-bumbu kalimat dan aksi yang terlihat lebay.

Si A mengupload fotonya ke media sosial dengan gambar lauk makanan bersama si penerima, dibumbui tulisan : “Saya selalu membantu memberikan sisa lauk kepadanya setiap hari. Jika tidak ada saya, mereka pasti kelaparan dan bakal meninggal dunia”.

Ini adalah contoh perbuatan baik yang negatif dan bernilai rendah…

Ada orang yang gemar memperlihatkan perbuatan baik untuk diupload ke media sosial dengan tujuan agar orang tahu bahwa dia itu orang baik dan berharap perbuatannya dapat ditiru oleh orang lain.

Si B memperlihatkan kebersamaannya dengan para anak yatim dan panti jompo, disertai tulisan : “Kegiatan ulang tahunku bersama anak yatim”.

Ini adalah contoh perbuatan baik yang positif dan bernilai sedang…

Sebaliknya, ada sebagian kecil orang gemar melakukan perbuatan baik secara diam-diam alias sembunyi-sembunyi.

Seringkali si C memberikan sejumlah uang sekadarnya kepada mereka yang membutuhkan, yang dijumpainya di jalanan, misalnya tukang sampah, pemulung atau tukang becak dayung yang sudah renta. Setelah melakukan perbuatan baik itu, lantas si C segera berlalu meninggalkan mereka yang terbengong dan tidak sempat mengucapkan terima kasih kepadanya.

Si C juga paling sering membelikan nasi bungkus untuk orang-orang yang dianggapnya perlu dibantu, saat dia sendiri sedang membeli nasi bungkus yang sama. Segera bergegas meninggalkan mereka yang celingukan mencari sosok penolong yang telah membayar nasi bungkus yang mereka pesan.

Ini adalah contoh perbuatan baik yang sempurna dan bernilai tinggi.

Sobatku yang budiman…

Teruslah berbuat baik walaupun kebaikan kita tidak dilihat oleh orang banyak. Namun, yakinlah bahwa manis, asin dan pedasnya perbuatan kita pasti akan dirasakan orang lain.

Jika kita belum mampu menjadi orang baik yang sempurna, setidaknya jadilah orang baik yang bagus dan bernilai sedang, bukan yang jelek, memalukan dan bernilai rendah.

Niscaya hidup kita akan selalu diselimuti oleh awan kebahagiaan…

#firmanbossini obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s