“KITA BUTUH ORANG LAIN”

<Sabtu, 28 Mei 2016 COR 08:06>

Banyak orang yang sedang menikmati kebahagiaan, begitu larut dalam kegembiraan sehingga melupakan orang-orang sekitarnya. 

Namun di saat bencana, musibah dan masalah datang menerpa, mereka akan bergelut dengan kesedihan yang berlarut-larut. Ingin mendapat “sekadar” perhatian dari orang lain, namun orang lain terlanjur menghindarinya.

Siapapun diri kita, walaupun dibekali oleh kemampuan, kekuatan, kekayaan dan jabatan sebesar dan setinggi apapun, hanyalah seorang makhluk lemah.

Layaknya anak kecil yang kehilangan ibunya, hanya dapat menangis sesegukan karena ketakutan…

Layaknya orang lumpuh yang kehilangan kursi roda, hanya mampu merangkak lemah dalam keputusasaan…

Layaknya orang buta yang bingung karena kehilangan tongkat penuntun, tidak tahu harus melangkah kemana…

Sesungguhnya kita semua adalah makhluk yang lemah dan tak berdaya…

Jangan dipikir dengan semua harta yang dimiliki kita akan terbebas dari musibah. Harta melimpah bukan jaminan untuk hidup bahagia.

Kita pasti dan selalu membutuhkan pertolongan orang lain. Kita masih membutuhkan uluran kasih sayang dan kemurahan hati dari sesama umat manusia.

Sebagai makhluk sosial, setiap hari kita berinteraksi dengan orang lain. Kita tidak mungkin dapat menjalani kehidupan ini seorang diri.

Sejak lahir hingga tumbuh berkembang menjadi dewasa, semua kebutuhan kita selalu diperoleh dari hasil karya orang lain. Makanan, minuman, perlengkapan mandi, transportasi, dan semuanya….

Jika demikian adanya, mengapa kita sering melupakan jasa orang lain? Lebih senang menghina, menghujat dan menyepelekan orang lain? Sudah hebatkah diri kita? 

Marilah kita belajar memberi, beramal dan bersedekah kepada mereka yang benar-benar membutuhkan pertolongan. Jangan membeda-bedakan suku, agama, ras dan warna kulit.

Dengan memberi, kita pasti akan menerima, walau dengan cara, bentuk, waktu dan situasi yang tidak pernah kita tahu.

Dengan menolong, kita pasti akan menerima pertolongan, walau kita sendiri tidak akan pernah tahu siapa yang akan menjadi sang penolong. 

Semua ini adalah rahasia Ilahi…

Jika saat ini kita hanya berpangku tangan menyaksikan penderitaan org lain, maka orang lain juga akan berpangku tangan menyaksikan penderitaan kita. Take and give…

Hidup yang egois tidak akan pernah mengundang simpati dan empati dari siapapun. Keegoisan hanya akan mendatangkan penderitaan bagi diri sendiri dan orang lain.

Jangan menunggu tibanya masalah, barulah kita mau belajar untuk memberi.

Jangan setelah ditimpa musibah, barulah kita menyadari bahwa kita memang benar-benar membutuhkan orang lain.

Kita memang tidak bisa menolak bencana dan musibah, namun dengan hidup saling menolong dan saling membantu, akan membuat kehidupan yang tidak sempurna ini menjadi lebih indah dan penuh kegembiraan.

Percayalah…

#firmanbossini obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s