“BARU TUJUH KALI SAJA”

<Kamis, 19 Mei 2016 OOR 11:32>

Pada suatu sore, seorang anak gadis cantik bernama Sinchan sedang mendorong kursi roda yang sedang diduduki ayahnya. Ayah Sinchan menderita kelumpuhan karena mengalami kecelakaan lalu lintas. Kaki beliau harus diamputasi agar menghindarkannya dari kemungkinan yang lebih parah.

Sinchan baru saja menamatkan pendidikan SMA, membawa ayahnya ke sebuah taman bunga. Mereka duduk berbincang-bincang sambil memperhatikan suasana di sekitar taman yang sedang dipenuhi oleh beragam bunga yang indah warnanya.

Tiba-tiba seekor kupu-kupu hinggap di sebuah bunga yang sedang mekar. Lalu sang Ayah menunjuk ke arah kupu-kupu sambil bertanya : “Nak, apakah nama binatang yang ada di bunga kuning itu?’

Sinchan menjawab : “Itu namanya kupu-kupu, Ayah…”

Ayah Sinchan mengangguk-angguk, namun matanya terus memandang ke arah kupu-kupu bersayap indah itu.

Beberapa saat kemudian, Ayah Sinchan berkata lagi : “Nak, tadi namanya apa yah? Hewan ini sangat indah dipandang mata…”

Sinchan : “Kupu-kupu, Ayah…”

Tangan Ayah Sinchan menunjuk ke arah beberapa ekor kupu-kupu yang sedang terbang kesana kemari. Pemandangan menakjubkan terpampang di depan mata layaknya sedang menyaksikan tarian para penari profesional. 

Tidak berapa lama kemudian, Ayah Sinchan kembali bertanya : “Anakku, dapatkah kamu menangkap seekor hewan mengagumkan itu, namanya apa tadi anakku…?”

Sinchan mengira ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, sehingga Sinchan berkata lebih keras lagi : “Kupu-kupuuuu, Ayah…!”

Tetapi sejenak kemudian sang Ayah mengulangi pertanyaan yang sama. Sinchan merasa jengkel dan mulai agak marah dengan pertanyaan yang sama dan berulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras : “Kupu-kupu…kupu-kupu Ayah…!!’

Ayah Sinchan langsung terdiam sesaat. Beliau merasa terkejut melihat ekspresi muka anak gadis yang dicintainya. Suara yang cukup keras dari mulut Sinchan sangat mengagetkannya.

Namun rasa penasaran karena tidak mengerti apa yang diucapkan anaknya, beliau sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama. Hal ini membuat Sinchan kehilangan kesabaran. 

Sinchan menjawab dengan suara keras ke arah telinga ayahnya : “Ayahhh… Ini namanya kupu-kupu… Ayah dengar tidak..?”

Ayah Sinchan mengangguk, dan untuk ketujuh kalinya, saat mengeluarkan suara, yang muncul hanya sebuah pertanyaan : “Apa nama hewan indah itu..?”

Kali ini Sinchan tidak mampu menahan emosinya lagi. Sinchan berupaya menangkap seekor kupu-kupu dan berhasil. 

Kupu-kupu bersayap seperti ukiran kaligrafi indah dengan warna kuning keemasan ditunjukkan ke hadapan ayahnya. 

Dengan suara keras, setengah berteriak Sinchan berkata : “Ayah lihat ini. Namanya kupu-kupu… Sudah tujuh kali ayah selalu menanyakan hal yang sama. Ayah dengar dan mengerti tidak..!!”

Dari kejauhan Ibu Sinchan berjalan dengan tergopoh-gopoh menuju ke arah mereka.

Ibu Sinchan : “Ada apa kamu teriak-teriak anakku…?”

Sinchan : “Ayah ini yang membuat saya menjadi kesal dan marah. Masak sampai tujuh kali Ayah menanyakan pertanyaan yang sama kepada diriku. Buat bete saja nih…”

Ibu Sinchan : “Oh, begitu ceritanya… Anakku yang tersayang, pernahkah engkau sadari, pada waktu kamu masih balita dan baru mulai belajar mengenal sesuatu di lingkungan sekitarmu. Ibu sendiri pernah menjawab pertanyaanmu hingga 10 kali lebih, hingga membuat ibu merasa sedikit kesal….”

Sinchan terdiam mendengar cerita ibunya. Matanya menoleh ke arah ayahnya yang sedang tertunduk lesu.

Ibu Sinchan : “Kamu tahu tidak…? Ayahmu adalah orang yang paling sabar yang pernah ibu kenal. Dengan menjawab 10 kali pertanyaan sama saja, ibu sudah merasa kesal. Sedangkan ayahmu, mungkin ada lebih dari 30 kali menjawab pertanyaanmu secara berulang-ulang. Tidak kelihatan mimik wajah kesal dari Ayahmu, padahal beliau baru saja pulang kerja. Ayahmu selalu menjawab pertanyaan samamu dengan muka tersenyum. Elusan tangan kekar ayahmu, senantiasa membelai rambutmu yang lembut. Saya salut dengan kesabaran beliau…”

Sinchan : “Maafkan saya, Ibu…”

Ibu Sinchan : “Jangan minta maaf ke saya. Minta maaflah kepada ayahmu yang sekarang sedang sakit…”

Sinchan : “Iya bu… Saya ingin tahu apa yang dulu saya tanyakan kepada Ayah selama 30 kali?”

Ibu Sinchan : “Kupu-kupu…”

Setelah selesai mendengar cerita ibunya, Sinchan mengangkat kepalanya dan memandang wajah sang Ayah yang kelihatan sayu dan sedih.

Sang Ayah dengan perlahan bersuara : “Hari ini Ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang sama sebanyak tujuh kali, engkau telah kehilangan kesabaran dan marah”.

Sinchan memeluk erat Sang Ayah sambil berbisik : “Maafkan Sinchan, Ayah. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi..”

Sobatku yang budiman…

Berilah toleransi kesabaran yang lebih kepada orang yang dengan tulus mengasihimu tanpa pamrih. Jangan mengobarkan amarahmu kepada mereka yang mencintaimu. Mereka akan merasa sangat sakit saat mendengar kalimat penuh emosi yang terlontar kepadanya.

Salah satu “kemampuan” yang harus dimiliki agar kita dapat bertumbuh adalah kesabaran. Kesabaran dan keuletan dapat membantu kita melalui semua rintangan dan tantangan.

Kesabaran tidak dapat diperoleh dalam waktu semalam. Membangun kesabaran sama halnya dengan membangun rumah. Setiap hari kita harus bekerja sedikit demi sedikit dan mengusahakannya agar menjadi bangunan yang kokoh dan kuat.

#firmanbossini m.facebook.com/firman.bekenmedia Obrolanbeken.wordpress.com

Advertisements
This entry was posted in Kisah Inspiratif. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s