“SEORANG PEMARAH”

<Selasa, 10 Mei 2016 OOR 14:22>

Dua orang tentara pejuang sedang duduk dekat api unggun. Seorang panglima bernama Jenderal Opekiu dan seorang anak buahnya berpangkat Kapten Uvewe. Mereka sedang bersantai, mengobrol ngalur ngidul.

Kapten Uvewe : “Jenderal, saya sama sekali belum pernah mendengar Anda mengumpat. Kendati kita, sebagai tentara pejuang, dididik dalam kekerasan militer dan selalu mendapat perlakuan kasar ketika sedang berjuang”

Jenderal Opekiu tersenyum mendengar penuturan bawahannya yang paling setia mendampinginya kemanapun dia pergi.

Kapten Uvewe berkata lagi : “Saya sering sekali mendengar dan melihat langsung, betapa anak buah Jenderal sering kali berbuat ulah dan tidak disiplin, tapi tidak pernah terdengar sekalipun kalimat makian dan umpatan kepada mereka….”

Jenderal Opekiu : “Sejak saya masih kecil, orang tua saya melarang keras untuk berkata kalimat buruk kepada orang lain. Hukuman berat menantiku jika sampai mereka mendengar saya mengeluarkan kalimat umpatan…”

Kapten Uvewe : “Oh begitu yah Jenderal…”

Jenderal Opekiu melanjutkan : “Sejak memutuskan masuk ke dunia kemiliteran yang terkenal keras dan memiliki tingkat disiplin yang tinggi, saya sering mendapat hukuman dan pukulan dari para seniorku. Namun saya tidak pernah dendam ataupun mengeluarkan kalimat makian kepada mereka….”

Kapten Uvewe mendengar setiap kalimat komandannya dengan sangat seksama. Dia berusaha mencermati semuanya secara utuh.

Jenderal Opekiu : “Saya tidak pernah mau membiasakan diri untuk mengumpat. Saya memandang bahwa makian dan umpatan adalah tindakan bodoh. Sama sekali tidak ada gunanya. Yang ada justru munculnya amarah dari diri sendiri dan menyulut kemarahan orang lain. Bukan begitu Kapten…?”

Kapten Uvewe : “Benar sekali Jenderal… Banyak sekali pimpinan yang berpangkat setingkat Jenderal tidak mampu menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan umpatan ketika sedang marah. Dan itu saya alami sendiri sebelum menjadi ajudan Anda, Jenderalku…”

Jenderal Opekiu : “Kapten kebanggaanku… Tirulah yang pantas ditiru. Jangan sandarkan hidupmu kepada seseorang yang pemarah. Saya tidak pernah melihat kehidupan yang berkualitas dan berbahagia dari seorang pemarah. Mereka adalah manusia yang lemah dan rapuh dari segi spiritual. Tuhan tidak suka dengan seorang pemarah…”

Kapten Uvewe : “Siap Jenderal… Perintah dan wejangan Jenderal akan saya ingat selamanya…”

Sobatku yang budiman…

Seorang pemarah selalu melelahkan dirinya untuk sesuatu yang sia-sia. Umpatan yang keluar dari mulutnya bukan hanya merendahkan orang lain, namun justru merendahkan martabat dan kehormatannya.

Seorang pemarah selalu berperang dengan dirinya sendiri. Sekalipun dirinya menang, akan tetapi sesungguhnya kehancuran sedang menerpa hidupnya.

Ketika mengeluarkan amarah, sebenarnya kita telah kalah…
Ketika menimbun rasa benci, sebenarnya kita telah membuat hati dan pikiran kita terkunci…
Ketika menyimpan dendam, sebenarnya kita sedang mengotori jiwa dalam hidup yang kelam…

Bagi para pemarah, cobalah untuk “mengampuni” orang yang bersalah. Rasakan betapa nikmatnya hidup yang penuh kedamaian dari perbuatan mengampuni.

Jika merasa tersakiti, marilah bersabar dan menahan emosi. Bentengi diri dari umpatan kotor yang tidak berguna.

Niscaya hidup kita akan penuh dengan semerbak wangi bunga perdamaian.

#firmanbossini Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

 

Advertisements
This entry was posted in KISAH INSPIRATIF. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s