“RELA BERKORBAN”

<Jumat, 06 Mei 2016 OOR 17:55>

Lebah adalah serangga yang memiliki sengatan yang sangat menyakitkan namun untungnya tidak sampai membahayakan jiwa manusia. 

Koloni lebah akan mengejar dan berusaha menyengat target sasaran yang telah mengusik kehidupan mereka yang tenteram. Seekor lebah hanya sanggup menyengat sekali dan setelahnya akan mati. Mereka rela berkorban nyawa demi melindungi lingkungan tempat tinggalnya. 

Bagaimana dengan kehidupan kita sebagai manusia yang memiliki tingkat intelegensia jauh lebih tinggi dari seekor lebah?

Seberapa besarkah kita mencintai bangsa, negara dan sesama umat manusia serta rela berkorban untuk mereka?

Sering kali kita menimbang-nimbang antara apa yang akan dilakukan dan apa yang akan diperoleh jika melakukan sesuatu hal. Wajar dan sangat manusiawi, namun bukanlah tindakan yang bijaksana.

Dahulu, para pahlawan rela mengorbankan jiwa dan raga, berperang melawan penjajah demi sebuah tujuan mulia yaitu kemerdekaan negeri tercinta. Sebuah pengorbanan yang harus dibayar mahal dengan kehilangan nyawa demi keberlangsungan kehidupan anak cucunya yang lebih baik kelak.

Bagaimana dengan kita, yang saat ini sedang menikmati kehidupan pasca peperangan dan tidak perlu takut kehilangan nyawa akibat desingan peluru dan lontaran bom?

Jangan jauh-jauh berpikir untuk mengorbankan nyawa demi bangsa ini. Dengan tidak melakukan tindakan melanggar hukum, turut memelihara ketenteraman dan ketertiban umum serta tidak melakukan perbuatan yang merongrong kewibawaan negara, sebenarnya sudah dapat dikatakan sebagai sikap rela berkorban dalam konteks yang sebenarnya.

Rela berkorban sesungguhnya merupakan perwujudan sikap yang berlandaskan kepada ketulusan dan keikhlasan dalam melakukan sesuatu yang tidak dapat diukur nilainya.

Rela berkorban juga merupakan perwujudan betapa kita menghargai dan bersikap peduli terhadap keberadaan seseorang. Misalnya, bersedia mendampingi sahabat yang sedang bersedih dan mendengar semua celoteh di saat kita sedang sibuk.

Dengan sikap rela berkorban, sebenarnya kita sedang membangun kepercayaan seseorang pada diri kita. Dengan pengorbanan yang kita lakukan, orang lain akan merasa aman dan terlindungi. Karena apa yang kita lakukan dapat mengurangi beban hidupnya, bukan justru membebaninya.

Seseorang yang sudah “rela” biasanya tidak akan menganggap apa yang dilakukannya sebagai sesuatu yang harus dibayar di kemudian hari. Hatinya selalu dipenuhi dengan ketulusan, keikhlasan dan tanpa pamrih.

Sekali lagi, ini bukan tentang kita harus berkorban sampai mati seperti yang dilakukan oleh lebah. Kita hanya perlu memaknai semangat pengorbanan yang dimilikinya dan menerapkan hal tersebut dalam kehidupan kita. 

Ingatlah bagaimana ibunda kita yang rela berkorban bertarung nyawa saat melahirkan kita. Bagaimana ayahanda kita rela berpanas-panas untuk mencari nafkah bagi keluarga. Itulah contoh konkrit sikap rela berkorban yang patut diteladani.

Jika ingin berkorban, lakukan dan berikan yang terbaik, secara tulus dan tanpa mengharapkan balasan.

Niscaya, pengorbanan kita akan bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan.

#firmanbossini m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s